Diskusi Nasional: Profesionalisme media diuji saat bencana, PWI Depok ajak wartawan rawat empati

Johanes Christiaan
Jumat, 2 Januari 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 2/1/2026 (Depok): Derasnya arus informasi digital di awal tahun 2026 kembali menguji profesionalisme media, khususnya dalam pemberitaan bencana. Di tengah banjir informasi dan maraknya konten viral di media sosial, kecepatan kerap mengalahkan akurasi, sementara hoaks mudah menyusup di ruang publik yang tengah diliputi kepanikan.


Menyikapi kondisi tersebut, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Depok bersama Forum Indonesia Emas akan menggelar Diskusi Nasional bertajuk “Profesionalisme Media dalam Pemberitaan Bencana”, Selasa, 6 Januari 2026. Kegiatan ini akan berlangsung di Kantor PWI Kota Depok, pukul 13.00–14.00 WIB, dan terbuka bagi wartawan serta pegiat media.

Diskusi mengusung tema “Empati, Solutif, dan Lawan Hoaks”, sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan kapasitas jurnalis agar mampu meliput bencana secara cepat, akurat, dan beretika.

Ketua PWI Kota Depok, Rusdy Nurdiansyah, yang juga bertindak sebagai moderator, menegaskan bahwa pemberitaan bencana tidak boleh diperlakukan semata sebagai komoditas klik.


“Dalam situasi krisis, satu informasi keliru bisa memicu kepanikan, satu visual tanpa konteks bisa melukai korban. Media harus hadir dengan kepala dingin dan empati,” ujar Rusdy, Jumat (2/1/2026).

Hoaks Menumpang di tengah krisis

Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang berbeda. Ridwan Ewako, Koordinator Bidang Organisasi PWI Kota Depok sekaligus pegiat isu anti-hoaks, menyoroti maraknya disinformasi dalam pemberitaan bencana.

Menurut Ridwan, hoaks kerap hadir dalam bentuk data korban yang dilebih-lebihkan, foto lama yang diunggah ulang, hingga narasi provokatif yang mencederai empati dan persatuan.

“Hoaks dalam situasi bencana bukan sekadar salah informasi, tapi bisa merusak kepercayaan publik dan memperkeruh keadaan,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya disiplin jurnalistik—verifikasi, konfirmasi, dan keberanian menahan diri—sebagai benteng utama melawan hoaks.

Edukasi publik dan literasi digital

Dari perspektif akademik, Dr. Ressi Dwiana, M.A., dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, menilai tantangan utama saat ini bukan kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi tanpa saringan.

“Media dan masyarakat berada dalam satu ekosistem. Tanpa edukasi literasi digital yang masif, publik akan terus rentan menjadi korban misinformasi,” ujarnya.

Ia menegaskan, komunikasi bencana harus berkelanjutan, tidak hanya saat bencana terjadi, tetapi juga mencakup edukasi mitigasi dan pemulihan.

Peran media dalam mitigasi bencana

Sementara itu, Abdul Muhari, Ph.D., Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menekankan peran strategis media dalam setiap fase kebencanaan—pra, saat, dan pascabencana.

“Cara media menyampaikan informasi bisa menyelamatkan, tetapi juga bisa mencederai jika tidak akurat dan berimbang,” ujarnya.

Diskusi nasional ini diharapkan memperkuat kesadaran kolektif bahwa pemberitaan bencana menuntut kepekaan, ketelitian, dan tanggung jawab moral. Di balik setiap headline dan data, terdapat manusia yang sedang berjuang bertahan. (P-*/bwl)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan