Alex Kawilarang: Melawan ketidakadilan, bukan melawan republik

Sem Muhaling
Senin, 10 Agustus 2026
Sejarah TOKOH 0 247
5 menit membaca

PRIORITAS, 10/8/26 (Jakarta): Nama Kolonel Alex Evert Kawilarang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang sejarah militer Indonesia. Ia dikenal sebagai pejuang kemerdekaan, pendiri pasukan elite TNI Angkatan Darat, sekaligus tokoh yang pernah terlibat dalam pergolakan Permesta di Sulawesi Utara.

Perjalanan hidup Kawilarang memperlihatkan sosok prajurit yang berada dalam situasi penuh dilema. Ia pernah memimpin operasi menghadapi sejumlah pemberontakan di berbagai daerah. Namun, beberapa tahun kemudian, ia justru bergabung dengan gerakan Permesta yang berhadapan dengan pemerintah pusat.

Kisah tentang keberanian dan sikap Kawilarang bahkan sudah terlihat sejak masa perang kemerdekaan. Pada 1947, Kopral Satibi dan pasukannya sempat panik ketika melihat dua serdadu Belanda mendekati posisi mereka di Kalapa Nunggal, Cianjur.

Pasukan kecil itu bersiap menghadapi serangan. Namun, salah seorang lelaki tersebut tiba-tiba memperkenalkan diri sebagai Kawilarang, komandan TNI. Satibi ternyata merupakan mantan anak buah Kawilarang di Brigade II Suryakancana, Divisi Siliwangi.

Kawilarang memang memiliki penampilan yang membuatnya kerap disangka sebagai orang Belanda. Postur tubuhnya menjadi semacam kamuflase alami ketika menjalankan tugas pengintaian di wilayah yang dikuasai Belanda.


Pendiri cikal bakal Kopassus

Karier militer Kawilarang terus berkembang setelah Indonesia merdeka. Pada awal 1950-an, ia memimpin operasi penumpasan pemberontakan Andi Azis di Makassar dan Republik Maluku Selatan (RMS) di Maluku.

Dalam operasi menghadapi RMS, Letkol Slamet Riyadi menggagas pembentukan pasukan khusus yang mampu bergerak cepat menghadapi berbagai sasaran di medan berat. Slamet Riyadi gugur sebelum gagasan tersebut terwujud.

Kawilarang kemudian meneruskan gagasan itu. Pada 16 April 1952, ia membentuk Kesatuan Komando Teritorium III. Satuan tersebut kemudian berkembang menjadi cikal bakal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat.

Ironisnya, beberapa tahun kemudian Kawilarang harus berhadapan dengan pasukan elite yang ikut ia lahirkan. Situasi itu terjadi ketika ia memilih bergabung dengan Permesta.

Alex Kawilarang

Kolonel Alex Evert Kawilarang. (‘Courtesy’ ANRI)

Memilih Permesta, menolak PRRI

Keputusan Kawilarang bergabung dengan Permesta tidak muncul secara tiba-tiba. Saat itu, ketegangan antara pemerintah pusat dan daerah semakin meningkat.

Permesta sebelumnya lahir melalui Piagam Permesta yang dicetuskan Ventje Sumual pada 2 Maret 1957. Gerakan tersebut membawa tuntutan peningkatan kesejahteraan daerah dan otonomi yang lebih besar.

Kawilarang ketika itu sedang menjalankan tugas sebagai atase militer Indonesia di Amerika Serikat. Namun, pengeboman Manado oleh Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) pada Februari 1958 membuatnya mengambil sikap keras.

Ia menyatakan tidak setuju dengan pengeboman tersebut kepada Kepala Staf TNI Angkatan Darat Mayjen A.H. Nasution. Kawilarang kemudian mengundurkan diri dari jabatan sebagai atase militer dan memilih kembali ke Indonesia.

Setibanya di Manado, ia mendapat tawaran untuk menjadi Panglima Besar Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Namun, Kawilarang menolak tawaran tersebut.

Ia memilih bergabung dengan Permesta karena memandang gerakan itu berbeda dengan PRRI. Bagi Kawilarang, Permesta merupakan gerakan yang memperjuangkan kepentingan daerah dan bertindak sebagai oposisi terhadap pemerintah pusat, bukan gerakan untuk memisahkan diri dari Indonesia.

Sikap tersebut kemudian menempatkan Kawilarang dalam posisi yang sulit. Pemerintah pusat menganggapnya telah bergabung dengan gerakan pemberontakan. Di sisi lain, sebagian tokoh Permesta juga mencurigainya sebagai mata-mata.

Alex Kawilarang

Alex Kawilarang bersama Soeharto di tahun 1950. Kawilarang sebagai panglima yang memimpin ekspedisi menumpas pemberontakan Andi Azis di Makassar, sedangkan
Soeharto bertugas sebagai salah satu pemimpin brigade dalam ekspedisi tersebut di bawah komando Kawilarang.(P-Isitimewa)

Perjuangan yang berakhir dengan perdamaian

Sejumlah kajian mengenai Kawilarang menyebutkan bahwa dukungannya terhadap Permesta lebih berkaitan dengan kepentingan daerah. Ia memandang perjuangan tersebut sebagai upaya masyarakat daerah mendapatkan hak dan perlakuan yang lebih adil.

Pandangan itu pula yang membuat sikap Kawilarang berbeda dari sejumlah perwira TNI lainnya yang bergabung dalam Permesta dan PRRI. Ia tidak langsung mendapat pemecatan secara tidak hormat dari TNI.

Pada 11 April 1961, Kawilarang memilih mengakhiri pergolakan. Ia menyatakan kesediaannya melakukan gencatan senjata dan mengembalikan seluruh eks anggota Permesta ke pangkuan Republik Indonesia.

Keputusan tersebut menunjukkan bahwa kepentingan bangsa tetap menjadi pertimbangan utama baginya. Kawilarang bersedia mengakhiri perjuangan bersenjata ketika melihat kepentingan Republik berada di atas kepentingan kelompok maupun daerah.

Presiden Soekarno kemudian menerbitkan dekrit pada 22 Juni 1961. Dekrit itu memberikan amnesti kepada Kawilarang dan para pengikutnya yang memenuhi seruan untuk kembali ke pangkuan Republik Indonesia.

Namun, amnesti tersebut tidak membuat Kawilarang kembali ke TNI. Dalam biografinya, ia menyatakan bahwa kehidupan militernya telah berakhir sejak 1958.


Tetap dihormati dunia militer

Kendati perjalanan politik dan militernya sempat berada di jalur yang berseberangan dengan pemerintah pusat, penghormatan terhadap Kawilarang tidak pernah benar-benar hilang.

Pada usia lanjut, ia sempat menderita kanker dan menjalani perawatan di rumah sakit. Pemerintah kemudian menyerahkan Bintang Gerilya kepadanya dalam sebuah seremoni di rumah sakit.

Penghormatan kembali datang dari Korps Baret Merah. Pada 1999, Kopassus memberikan penghargaan kepada Kawilarang sebagai anggota kehormatan dalam rangka peringatan ulang tahun ke-47 pasukan komando tersebut.

Penghargaan itu memiliki makna tersendiri. Kawilarang merupakan salah satu tokoh yang ikut meletakkan dasar pembentukan pasukan khusus yang kemudian menjadi Kopassus.

Alex Evert Kawilarang meninggal dunia pada 6 Juni 2000 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dalam usia 80 tahun. Ia kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.

Jejak sejarah Kawilarang tetap menyisakan perdebatan. Namun, satu hal terlihat jelas dari perjalanan hidupnya: ketika bergabung dengan Permesta, ia tidak memilih jalan untuk memisahkan diri dari Republik.

Ia memilih melawan apa yang dianggapnya sebagai ketidakadilan terhadap daerah. Pada akhirnya, ia juga memilih berdamai dan kembali menempatkan kepentingan Indonesia di atas segala kepentingan lainnya. (P-*/sm/suntingan dari Antara News)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan