Hindari serangan militer AS, Iran tawarkan ladang minyak

Jeffry Wuisan
Selasa, 17 Februari 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 17/2/26 (Teheran): Iran berusaha keras agar terhindar dari serangan militer Amerika Serikat (AS),  dengan menawarkan konsesi ladang minyak, tambang bahkan pembelian pesawat kepada AS.

Seorang diplomat Iran membocorkan sejumlah poin yang ditawarkan kepada AS dalam perundingan soal kesepakatan nuklir di Jenewa, Swiss.

Iran dan AS memperbarui negosiasi awal bulan ini untuk mengatasi perselisihan mereka yang telah berlangsung selama beberapa dekade mengenai program nuklir dan mencegah konfrontasi militer baru.

Sebelumnya Iran mengancam akan menyerang balik pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah jika diserang pasukan AS, tetapi menjelang perundingan di Swiss, rezim itu mengambil sikap yang lebih lunak.

“Demi keberlanjutan kesepakatan, sangat penting bahwa AS juga mendapat manfaat di bidang-bidang dengan pengembalian ekonomi yang tinggi dan cepat Kepentingan bersama di ladang minyak dan gas, ladang bersama, investasi pertambangan, dan bahkan pembelian pesawat termasuk dalam negosiasi,” kata Wakil Direktur Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri, Hamid Ghanbari, menurut kantor berita semi-resmi Iran, Fars.

Ia menyebut pakta nuklir tahun 2015 dengan kekuatan dunia belum mengamankan kepentingan ekonomi AS.

Pada tahun 2018, Presiden Donald Trump menarik AS dari pakta yang telah melonggarkan sanksi terhadap Iran sebagai imbalan atas pembatasan program nuklirnya. Ia juga menerapkan kembali sanksi ekonomi yang keras terhadap Iran.

 

Tidak pernah berhasil

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, berbicara pada konferensi pers di Bratislava, mengatakan diplomasi dan penyelesaian melalui negosiasi dengan Iran sulit terjadi.

“Tidak ada yang pernah berhasil mencapai kesepakatan dengan Iran, tetapi kami akan mencoba,” kata Rubio.

Delegasi AS termasuk utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner melakukan pertemuan tidak langsung dengan Menlu Iran, Abbas Araqchi  di Jenewa. “Kita akan melihat bagaimana hasilnya,” kata Rubio.

Meskipun pembicaraan yang mengarah pada pakta nuklir 2015 bersifat multilateral, negosiasi saat ini terbatas pada Iran dan Amerika Serikat, dengan Oman bertindak sebagai mediator.

Menlu Iran juga sudah bertemu dengan kepala badan pengawas nuklir PBB, IAEA, dan lainnya.

Wakil Menlu Iran, Majid Takht-Ravanchi,  seperti dilaporkan CNBC Indonesia,  mengisyaratkan kesiapan Iran untuk berkompromi dalam program nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi.

Pejabat senior itu merujuk pada pernyataan kepala atom Iran pada hari Senin,  negara itu dapat setuju untuk mengurangi pengayaan uranium yang paling tinggi, sebagai imbalan atas pencabutan sanksi.sebagai contoh fleksibilitas Iran.

Namun, ia menegaskan kembali Teheran tidak akan menerima pengayaan uranium nol.

Ini poin penting dalam negosiasi sebelumnya dengan Washington, yang memandang pengayaan Uranium di Iran  sebagai jalur potensial menuju senjata nuklir. (P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025