Pesawat pembom taktis Amerika Serikat, B-2, menjatuhkan bom GBU-57 selama uji coba. (usairforce)PRIORITAS, 16/2/26 (Washington): Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pentagon, sudah menyiapkan lagi bom dahsyat penghancur bunker, untuk dimuat dalam pesawat pengebom taktis B-2 spirit.
Hal ini menjadi tanda kemungkinan besar AS, akan kembali mengebom situs-situs nuklir bawah tanah Iran, dengan bom berkekuatan besar dalam serangan terbaru nanti.
Seperti dikutip Beritaprioritas dari Jerusalem Post, hari Senin (16/2/26) waktu setempat, militer AS sudah memesan bom penghancur bunker GBU-57 seberat 30.000 pon (13.6 ton) seiring meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Pada serangan Juni 2025 lalu, 7 pesawat B-2 AS menjatuhkan 14 buah bom GBU-57 Massive Ordnance Penetrator (MOP) dalam operasi Midnight Hammer terhadap fasilitas nuklir Iran di Natanz, Fordow dan Isfahan.
Menurut pemberitahuan pembenaran yang sebagian disunting dan diposting secara online minggu lalu, Angkatan Udara AS mengatakan mereka telah memberikan kontrak pengadaan langsung kepada Boeing, untuk mengisi kembali persediaan bom GBU-57. Boeing adalah satu-satunya perusahaan yang memproduksi bom GBU-57 MOP.
Pemberitahuan justifikasi tersebut dimaksudkan untuk menjelaskan mengapa Pentagon tidak melakukan tender sepenuhnya kompetitif untuk amunisi yang dirancang khusus tersebut.
Tak boleh ditunda
Dalam dokumen kontrak, perusahaan raksasa pertahanan dan penerbangan itu, dinilai memiliki keahlian unik selama 18 tahun dalam mengadaptasi senjata khusus GBU-57, untuk memenuhi kebutuhan misi yang terus berkembang.
Itulah sebabnya, pemberian kontrak kepada perusahaan lain akan mengakibatkan penundaan yang tidak dapat diterima militer AS.
“Tidak ada penundaan dalam pemberian kontrak yang dapat diterima untuk upaya ini. Menunda persyaratan ini akan melemahkan kesiapan pasukan dan pengadaan yang efisien untuk program senjata utama ini”, demikian isi dokumen tersebut.
Jumlah pasti BGU-57 yang dibeli dan biaya kontrak, beserta tanggal pengirimannya, tidak dipublikasikan.
Boeing dan Defense Threat Reduction Agency (DTRA) telah mengembangkan bom penghancur tersebut sejak awal tahun 2000-an.
Bom GBU-57 MOP dirancang untuk menetralisir Target Keras dan Terkubur Dalam (HDBT) – termasuk laboratorium bawah tanah, pusat komando, dan fasilitas kimia, biologi, dan nuklir.
Untuk misi sulit
Lembar fakta Angkatan Udara AS menggambarkan bom MOP sebagai sistem senjata yang dirancang untuk menyelesaikan misi yang sulit dan rumit, yaitu mencapai dan menghancurkan senjata pemusnah massal musuh yang terletak di fasilitas yang terlindungi dengan baik.
Bom GBU-57 itu memiliki berat 30.000 pon (13.600 kilogram) dan hulu ledaknya seberat 5.740 pon (2.600 kg) serta panjang lebih dari 20 kaki (6 meter).
Bom MOP tersebut dapat menembus tanah hingga kedalaman 200 kaki (60 meter) atau 60 kaki (18 m) beton bertulang padat, menjadikannya bom non-nuklir paling kuat dalam persenjataan AS.
Menurut sebuah laporan di Scientific American, serangan bom tersebut menghasilkan energi kinetik sebesar 800 hingga 900 megajoule (sekitar 758.000 hingga 853.000 british thermal units).
Itu setara dengan pesawat Boeing 747-400 seberat 285 ton (285.000 kg) yang mendarat dengan kecepatan 170 mph (274 kph). Atau sepadan dengan kereta Amtrak Acela seberat 565 ton (565.000 kg) yang bergerak dengan kecepatan 120 mph (193 kph).
Operasi Midnight Hammer pada Juni 2025 yang menargetkan fasilitas nuklir Iran di dalam tanah, merupakan penggunaan tempur pertama dari bom MOP.
Selama operasi tersebut, tujuh pesawat pembom B-2 Spirit menjatuhkan 14 GBU-57 di beberapa lokasi atau situs, yang telah lama dicurigai menyimpan komponen-komponen penting program nuklir Iran. (P-Jeffry W)