Pasir gurun di Arab Saudi tidak cocok untuk konstruksi bangunan beton.(news24)PRIORITAS, 3/1/26 (Riyadh): Negara padang gurun pasir Arab Saudi terpaksa mengimpor jutaan kubik pasir dari Australia untuk konstruksi bangunan-bangunan beton. Hal ini disebabkan pasir gurun ternyata tidak cocok untuk konstruksi bangunan beton.
Menurut Trend Economy Arab Saudi mengeluarkan dana sekitar 2,5 juta dolar untuk membeli pasir konstruksi, meskipun Saudi terletak di gurun pasir yang luas.
Pada tahun 2023 saja, Arab Saudi mengimpor pasir kelas konstruksi senilai sekitar $140.000 dari Australia.
Menurut data dari Observatorium Kompleksitas Ekonomi (OEC), Australia adalah salah satu pengekspor pasir terbesar di dunia.
Seperti dikutip Beritaprioritas.com dari News24, hari Sabtu (3/1/2026), rencana Vision 2030 Arab Saudi yang ambisius, telah meningkatkan permintaan material konstruksi pasir berkualitas tinggi secara signifikan.
Proyek-proyek besar seperti NEOM, The Line, Proyek Laut Merah, dan Qiddiya, membutuhkan jutaan ton beton.
Setiap ton beton membutuhkan jenis pasir yang tepat, agar kualitas konstruksinya baik dan kuat.
Proyek-proyek seperti The Line, sebuah kota cermin sepanjang 170 kilometer, adalah keajaiban teknik yang tidak boleh mengabaikan kualitas material.

Kompleks Riyadh Metro Orange di Arab Saudi penuh bangunan tinggi, pembangunannya memakai jutaan kubik pasir dari Australia.(saudiarabiaexplore)
Pasir gurun tak cocok
Meskipun 95 persen wilayahnya berupa gurun pasir terbesar di dunia, namun pasir di Arab Saudi tidak cocok untuk konstruksi bangunan.
Menurut hasil penelitian pasir gurun terlalu halus dan memiliki karakteristik terlalu bulat, sehingga tidak baik dan tak mampu mengikat campuran semen untuk beton.
Berbeda dengan pasir sungai, tambang, danau atau laut dari sejumlah negara di benua lain, yang bentuknya bersudut dan kasar sehingga sangat cocok untuk proyek-proyek bangunan atau konstruksi besar.
Pasir yang ditemukan di gurun Arab Saudi telah dibentuk angin selama ribuan tahun.
Saat butiran pasir bertabrakan dan bergesekan satu sama lain, butiran tersebut menjadi bulat dan halus, hampir seperti kelereng kecil.
Itulah sebabnya pasir gurun tidak cocok untuk pembuatan beton yang baik dan berkualitas tinggi.
Beton membutuhkan pasir dengan tepi yang kasar dan bersudut. Butiran pasir yang tajam ini akan mengikat erat semen dan air, sehingga menciptakan ikatan yang kuat.
Dari berbagai studi, pasir gurun yang halus dan bulat gagal mengikat dengan baik, sehingga menghasilkan beton yang lemah dan tidak stabil.

Bangunan pencakar langit tertinggi di dunia Burj khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), juga memakai jutaan kubik pasir yang diimpor dari Australia. (@emaar)
UEA dan Qatar
Untuk konstruksi pembangunan berskala besar, pasir impor menjadi suatu kebutuhan, bukan pilihan.
Masalah ini tidak hanya terjadi pada Arab Saudi. Negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Qatar juga menghadapi tantangan serupa.
Proyek-proyek terkenal seperti Burj Khalifa dengan menara tertinggi di dunia juga bergantung pada pasir impor.
Pada tahun 2019, UEA menghabiskan dana 89,6 juta dolar untuk membeli pasir dari luar negeri terutama dari Australia.
Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) melaporkan pada tahun 2024 dunia menggunakan hampir 50 miliar ton pasir setiap tahunnya.
Pasir berkualitas untuk konstruksi semakin langka karena penambangan berlebihan di sungai dan garis pantai.
Hal ini telah menyebabkan kerusakan lingkungan, penambangan ilegal, dan munculnya apa yang disebut “mafia pasir” di beberapa negara.
Untuk mengurangi ketergantungan pada impor pasir, Arab Saudi, sedang menjajaki alternatif seperti limbah konstruksi daur ulang dan pasir buatan yang terbuat dari batuan hancur.
Meskipun pilihan-pilihan ini semakin berkembang, namun belum dapat memenuhi kebutuhan mendesak dari proyek-proyek infrastruktur berskala besar.(P-Jeffry W)