27.3 C
Jakarta
Friday, June 14, 2024

    Cuaca panas landa beberapa wilayah Indonesia, BMKG: Ini penyebabnya

    Terkait

    PRIORITAS, 1/5/24 (Jakarta): Sejumlah wilayah di Infonesia, termasuk Jabodetabek alami cuaca panas ‘mendidih’ beberapa hari belakangan. Tak cuma di wsktu siang, bahkan ketika malam hari dan sesudah turun hujan.

    Mengapa demikian?

    Begini jawabannya dari Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

    Dia menjelaskan, fenomena suhu panas di Indonesia beberapa hari terakhir ini berkaitan dengan posisi Matahari.

    “Hal tersebut terjadi karena posisi semu Matahari pada bulan April berada dekat sekitar khatulistiwa dan menyebabkan suhu udara di sebagian wilayah Indonesia menjadi relatif cukup terik saat siang hari,” ujarnya seperti dikutip dari situs resmi BMKG.

    Bukan hate wave

    Ia menyebutkan fenomena ini tidak terkait dengan heat wave atau gelombang panas karena memiliki karakteristik fenomena yang berbeda.

    “Di mana (fenomena cuaca panas ini) hanya dipicu oleh faktor pemanasan permukaan sebagai dampak dari siklus gerak semu Matahari sehingga dapat terjadi berulang dalam setiap tahun,” jelasnya.

    Potensi curah hujan

    Sementara itu, pihak BMKG hugq memonitor masih terjadinya hujan intensitas sangat lebat hingga ekstrem sejak tanggal 22 April 2024 di beberapa wilayah di Indonesia, antara lain di Luwu Utara (Sulawesi Selatan), Banjarbaru (Kalimantan Selatan), Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), dan Tanjung Perak Surabaya (Jawa Timur).

    Kondisi tersebut turut memicu terjadinya bencana hidrometeorologi di beberapa wilayah. Berdasarkan informasi perkembangan musim BMKG, diketahui, sekitar 63 persen wilayah Zona Musim diprediksi mengalami Awal Musim Kemarau pada bulan Mei hingga Agustus 2024, dan untuk saat ini di periode pertengahan April beberapa wilayah masih cukup basah dan terjadi hujan.

    Gelombang panas

    Selain potensi hujan, pekan lalu terpantau gelombang panas melanda berbagai negara Asia dan Asia Tenggara, seperti Thailand yang berada dekat dengan Indonesia dengan suhu maksimum mencapai 52°C.

    Di Indonesia, suhu udara maksimum diatas 36,5°C tercatat di beberapa wilayah, yaitu pada tanggal 21 April di Medan, Sumatra utara mencapai suhu maksimum 37,0°C, dan di Saumlaki, Maluku mencapai suhu maksimum sebesar 37,8°C serta pada tanggal 23 April di Palu, Sulawesi Tenggah mencapai 36,8°C.

    Guswanto mengungkapkan, dalam sepekan ini, BMKG mengidentifikasi masih adanya potensi peningkatan curah hujan secara signifikan, yakni di sebagian besar Sumatra, Jawa bagian barat dan tengah, sebagian Kalimantan dan Sulawesi, Maluku dan Sebagian besar Papua.

    “Potensi hujan signifikan terjadi karena kontribusi dari aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin dan Rossby Equatorial, serta kondisi suhu muka laut yang hangat pada perairan wilayah sekitar Indonesia. Hal ini tentu saja dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah di Indonesia,” jelasnya.

    Peralihan musim

    Sementara itu, Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani menerangkan, bulan April merupakan periode peralihan musim, yakni dari musim hujan ke musim kemarau di sebagian besar wilayah di Indonesia.

    BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi dini terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat dalam durasi singkat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, angin puting beliung, dan fenomena hujan es.

    “Salah satu ciri masa peralihan musim adalah pola hujan yang biasa terjadi pada sore hingga menjelang malam hari dengan didahului oleh adanya udara hangat dan terik pada pagi hingga siang hari,” kata Andri.

    “Hal ini terjadi karena radiasi Matahari yang diterima pada pagi hingga siang hari cukup besar dan memicu proses konveksi (pengangkatan massa udara) dari permukaan Bumi ke atmosfer sehingga memicu terbentuknya awan,” jelasnya.

    Karakteristik hujan pada periode peralihan cenderung tidak merata dengan intensitas sedang hingga lebat dalam durasi singkat. Apabila kondisi atmosfer menjadi labil/tidak stabil maka potensi pembentukan awan konvektif seperti awan Cumulonimbus (CB) akan meningkat. Awan CB inilah yang erat kaitannya dengan potensi kilat/petir, angin kencang, puting beliung, bahkan hujan es.

    Tetap tenang

    Masyarakat dimintanya tetap tenang, meski perlu tetap waspada terhadap potensi bencana terutama banjir yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

    “Selain itu, harus mengenali potensi bencana di lingkungan masing-masing khususnya di daerah rawan bencana, serta dengan langkah-langkah sederhana salah satunya dengan tidak membuang sampah sembarangan, bergotong royong menjaga kebersihan dan menata lingkungan sekitarnya,” sebutnya, seperti dikutip Detik.com.

    Andri Ramdhani juga mengingatkan agar masyarakat terus memantau informasi peringatan dini cuaca melalui aplikasi infoBMKG untuk mendapatkan informasi yang lebih detail. (P-DC/jr) — foto ilustrasi istimewa

    - Advertisement -spot_img

    Viral

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    - Advertisement -spot_img

    Terkini