
Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, melarang pemakaian burqa dan niqab di sekolah.(x/giorgiameloni)PRIORITAS, 27/9/26 (Roma) : Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, tegas melarang pemakaian busana muslim burqa dan niqab serta pembatasan jumlah siswa asing di kelas.

“Siapapun yang datang ke
Italia, harus memahami budaya kami dan menghormati aturan kami”, tegas Meloni.
Italia segera memberlakukan larangan burqa dan niqab di sekolah-sekolah serta pembatasan siswa asing.
Burqa dipakai kaum wanita muslim untuk menutup seluruh tubuh hingga wajah dari kepala hingga kaki.
Bahkan mata ikut ditutup menggunakan bahan kain berjaring.

Sedangkan Niqab biasa disebut Cadar. Wanita muslim akan menggunakan kain penutup kepala dan wajah, hanya menyisakan celah terbuka kecil bagi mata agar pemakainya dapat melihat.
Pemerintah konservatif Italia pimpinan Meloni pada hari Kamis menyetujui dekrit baru yang melarang cadar Islami yang menutupi wajah — termasuk burqa dan niqab — di sekolah-sekolah.
Meloni mengatakan larangan burqa dan niqab adalah ‘masalah keamanan’.
Selain itu mereka juga membatasi jumlah siswa asing di setiap kelas.
Berdasarkan aturan baru tersebut, setiap kelas akan memiliki batasan jumlah siswa non-Italia untuk mencegah konsentrasi yang tinggi di distrik-distrik tertentu.
Tidak memecah belah
Menurut Giorgia Meloni dalam situsnya di X, langkah-langkah kabinetnya sebagai “alat akal sehat yang tidak memecah belah,”.
Partai-partai oposisi dan kritikus lainnya mengecam langkah pemerintah Meloni , dengan beberapa menyebutnya sebagai “perburuan penyihir”.
Kritikus yang lain menuduh pemerintah Italia mengubah imigrasi menjadi isu politik menjelang pemilihan umum tahun depan.
Langkah-langkah tersebut berlaku segera, tetapi masih memerlukan persetujuan parlemen dalam waktu 60 hari.
Ada kemungkinan besar hal itu dapat berjalan cukup mulus karena koalisi Meloni saat ini memegang mayoritas di parlemen negara tersebut.
Menteri Pendidikan Italia Giuseppe Valditara mengatakan dekrit tersebut akan memengaruhi sekitar 1.000 ruang kelas, yang setara dengan 0,3% dari total ruang kelas di seluruh negara.
Menurut data resmi, siswa tanpa kewarganegaraan Italia berjumlah 11,2% dari populasi sekolah di Italia dari tahun 2022 hingga 2023, sementara kelas dengan lebih dari 30% siswa asing mencapai 7,6% dari total.
Para penentang dekrit tersebut khawatir langkah baru ini dapat memaksa siswa untuk bersekolah jauh dari lingkungan tempat mereka tinggal.
Laporan-laporan juga menyoroti kekhawatiran di kalangan otoritas sekolah mengenai bagaimana aturan tersebut akan diterapkan di daerah-daerah dengan populasi migran yang besar.
Melestarikan identitas Italia
Meloni, pemimpin konservatif Italia, mengatakan langkah-langkah itu bertujuan untuk melestarikan identitas budaya Italia, dan memastikan anak-anak asli tidak merasa tersisihkan di ruang kelas.
“Tidak mungkin di kelas-kelas Italia, mereka yang merasa terpinggirkan adalah anak-anak Italia karena mereka telah menjadi minoritas,” kata Meloni saat berpidato di Gioventù Nazionale, sayap pemuda partai konservatifnya, Brothers of Italy, di Roma, menurut laporan.
Dalam serangkaian unggahan di X pada hari Senin, partai Brothers of Italy memperkuat pesan perdana menteri.
Beberapa negara tetangga Eropa, termasuk Prancis dan Belgia, sebelumnya telah memberlakukan larangan penggunaan penutup wajah burqa dan niqab di tempat umum, meskipun penegakan dan kerangka hukumnya berbeda.
Giorgia Meloni, yang memimpin Partai Brothers of Italy sejak 2014 dan menjabat sebagai presiden Partai Konservatif dan Reformis Eropa dari 2020 hingga 2025, telah memerintah Italia sejak 2022.
Pemerintahannya baru-baru ini melampaui rekor sebelumnya yang dipegang Silvio Berlusconi tanpa gangguan terlama dalam sejarah modern Italia. (P-*/jw)

