Warga sipil tewas dalam insiden tembakan di Intan Jaya, TNI duga ulah KKB OPM

Zamir Ambia
Sabtu, 4 Juli 2026
DAERAH NEWS 0 218
3 menit membaca

PRIORITAS, 4/7/26 (Jakarta): Seorang warga sipil dilaporkan meninggal dunia akibat insiden baku tembak yang terjadi di sekitar TK J2, Kampung Wandoga, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, pada Kamis (2/7/26). Satgas Koops TNI Habema menduga peristiwa tersebut dipicu oleh aksi kelompok kriminal bersenjata (KKB) Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang dipimpin Peles Tigau. Kelompok itu diduga melepaskan tembakan dari tiga titik berbeda di sekitar kawasan permukiman warga.

Kepala Penerangan Satgas Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, menjelaskan, dugaan tersebut merupakan hasil evaluasi awal yang mengacu pada laporan personel di lapangan, analisis kronologi kejadian, serta pemetaan lokasi. Berdasarkan hasil analisis sementara, rentetan tembakan berlangsung sekitar 15 menit dan diduga berasal dari tiga titik yang tersebar di sekitar area permukiman masyarakat.

“Peristiwa ini menunjukkan bahwa aktivitas kelompok bersenjata di sekitar kawasan pemungkiman tidak hanya mengancam aparat keamanan, tetapi juga berpotensi membahayakan masyarakat sipil yang tidak terlibat dalam konflik,” ucap Wirya dalam keterangan pers, Jumat (3/7/26).

Kronologi insiden

Wirya menjelaskan, rentetan tembakan pertama terjadi sekitar pukul 18.45 WIT dan diduga berasal dari arah Kampung Wandoga. Sekitar lima menit kemudian, suara tembakan kembali terdengar dari titik lain yang berada di kawasan perbukitan di depan Koramil Sugapa.

Pada sekitar pukul 19.00 WIT, kelompok tersebut kembali melepaskan tembakan sebelum melarikan diri ke arah sungai. Hasil analisis spasial menunjukkan, tiga titik asal tembakan berada di lokasi yang berbeda dengan jarak berkisar antara 900 meter hingga 1.500 meter. Sementara itu, posisi korban diketahui berada sekitar 321 meter dari titik tembakan pertama. Koops TNI Habema juga menyatakan, lokasi korban berjarak lebih jauh dibandingkan posisi personel Satgas TNI yang saat itu tengah bersiaga.

“Hasil analisis spasial menunjukkan, ketiga sumber tembakan tersebut berada pada lokasi yang berbeda dengan jarak sekitar 900 hingga 1.500 meter, sementara itu lokasi korban berada di sekitar 321 meter dari lokasi gangguan tembakan pertama dan berjarak lebih jauh dari posisi personel Satgas TNI,” ucap Wirya.

Dalam insiden tersebut, personel Satgas TNI dilaporkan tidak membalas tembakan. Menurut Wirya, kondisi cuaca yang disertai hujan dan kabut tebal, serta jarak pandang yang terbatas, membuat personel memutuskan tetap berada di posisi perlindungan (stelling) sembari terus memantau perkembangan situasi.

Wirya mengatakan, langkah tersebut diambil sebagai upaya untuk meminimalkan potensi risiko terhadap warga sipil yang berada di sekitar lokasi kejadian. Ia menegaskan, setiap tindakan yang dilakukan Koops TNI Habema selalu mengedepankan prinsip selektif, terukur, profesional, serta mengutamakan keselamatan masyarakat.

“Selama rangkaian kejadian tersebut, personel Satgas TNI tidak melakukan tembakan balasan kondisi hujan kabut tebal dan jarak pandang yang sangat terbatas membuat personel memilih bertahan pada posisi perlindungan atau kita sebut dengan stelling sambil memantau perkembangan situasi yang terjadi,” ucap Wirya.

Menghimbau masyarakat untuk tetap tenang

Koops TNI Habema mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum dipastikan kebenarannya. TNI menegaskan, penyelidikan atas insiden tersebut akan dilakukan secara objektif dengan berpedoman pada fakta-fakta di lapangan serta bukti teknis yang tersedia.

“Koops TNI Habema mengajak seluruh masyarakat untuk tetap tenang, tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi serta memberikan kepercayaan kepada proses penyelidikan yang dilakukan secara objektif berdasarkan fakta di lapangan dan bukti teknis,” ucap Wirya.

Koops TNI Habema turut menyampaikan duka cita atas meninggalnya seorang warga sipil Papua dalam insiden tersebut. Wirya berharap kondisi keamanan di Papua segera membaik sehingga masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas secara aman, anak-anak bisa mengikuti proses belajar tanpa gangguan, layanan kesehatan tetap berjalan optimal, serta pembangunan di wilayah itu dapat terus berlanjut. (P-*r/Zamir Ambia)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025