PRIORITAS, 2/1/26 (Jakarta): Analis keuangan Finex, Brahmantya Himawan, menilai prospek harga emas dan perak pada awal 2026 menunjukkan arah yang semakin positif.
Menurutnya, dukungan kebijakan moneter, perkembangan geopolitik global, serta meningkatnya permintaan dari sektor industri menjadi faktor utama yang membuka peluang berlanjutnya tren kenaikan kedua logam mulia tersebut secara lebih berkelanjutan dibandingkan periode sebelumnya.
Dalam keterangan tertulis yang disampaikan di Jakarta, Jumat (2/1/26), Brahmantya memperkirakan harga emas pada 2026 akan berada di rentang 4.700 hingga 5.000 dolar AS per troy ounce.
Dengan asumsi nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp16.715 per dolar AS, proyeksi harga tersebut setara dengan sekitar Rp78,5 juta hingga Rp83,6 juta per troy ounce. Jika dihitung per gram dalam mata uang rupiah, harga emas diperkirakan berada pada rentang Rp2,52 juta sampai Rp2,69 juta per gram.
Brahmantya berpandangan, melemahnya imbal hasil riil obligasi Amerika Serikat menjadi faktor pendorong utama penguatan harga emas.
“Ketika real yield turun dan pasar melihat potensi pelonggaran moneter, emas secara historis selalu mendapat dorongan struktural. Kondisi saat ini sangat mirip dengan fase awal reli jangka panjang sebelumnya,” tuturnya.
Brahmantya menjelaskan bahwa perak memiliki sifat berbeda dibandingkan emas karena berperan tidak hanya sebagai aset lindung nilai, tetapi juga sebagai bahan baku penting bagi sektor industri.
Ia menilai permintaan dari industri energi terbarukan, kendaraan listrik, serta teknologi diproyeksikan terus tumbuh, sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga perak secara lebih agresif.
Harga perak
Untuk 2026, harga perak diperkirakan berada pada rentang 90 hingga 120 dolar AS per troy ounce, atau setara sekitar Rp1,5 juta sampai Rp2 juta per gram.
Ia menyebutkan, penetapan perak sebagai salah satu mineral kritis di Amerika Serikat turut memperkuat prospek kinerjanya dalam jangka menengah.
“Perak saat ini berada di persimpangan menarik antara kebutuhan industri dan minat investasi. Kombinasi ini membuat pergerakannya cenderung lebih agresif, terutama saat siklus ekonomi bergeser,” imbuh Brahmantya.
Ia menegaskan dengan tren harga yang konstruktif, emas dan perak tetap relevan sebagai aset lindung nilai bagi investor jangka panjang. (P-*r/Zamir Ambia)