Sayang sekali! Air kelapa bernilai triliunan terbuang sia-sia, IICCE 2026 bongkar peluang emas industri Nata de Coco Indonesia

Sem Muhaling
Kamis, 18 Juni 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 17/6/26 (Jakarta): Industri turunan air kelapa nata de coco Indonesia ternyata menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar. Namun di balik peluang tersebut, jutaan ton air kelapa yang menjadi bahan baku utama masih terbuang sia-sia setiap tahun. Kondisi ini menjadi salah satu fokus pembahasan dalam ajang 1st Indonesian International Coconut Conference & Exposition (IICCE) 2026 yang akan digelar pada 8–11 Juli 2026 di Medan, Sumatera Utara.

Media Perkebunan melaporkan, forum internasional tersebut akan mempertemukan pelaku industri, investor, peneliti, serta para pemangku kepentingan untuk memperkuat rantai nilai industri kelapa nasional dari sektor hulu hingga hilir. Salah satu topik yang mendapat perhatian khusus adalah pengembangan industri nata de coco sebagai produk bernilai tambah tinggi.


Air kelapa terbuang, devisa miliaran dolar melayang

Ketua Gabungan Pengusaha Nata de Coco Indonesia, Derri Kusuma, mengungkapkan peluang bisnis nata de coco masih sangat terbuka lebar. Saat ini diperkirakan sekitar 3,68 juta ton air kelapa belum termanfaatkan secara optimal, sehingga berpotensi menyebabkan hilangnya devisa hingga miliaran dolar AS.

Padahal, industri nata de coco nasional telah menunjukkan perkembangan signifikan. Sektor UMKM mendominasi produksi dengan kapasitas sekitar 2.100 ton per bulan, sementara perusahaan-perusahaan besar menghasilkan sekitar 1.800 ton per bulan.

Pasar global terus tumbuh

Prospek industri turunan air kelapa nata de coco dinilai semakin cerah seiring meningkatnya tren konsumsi makanan sehat dan alami di berbagai negara. Selain digunakan sebagai bahan pangan, produk berbasis nata de coco juga mulai dikembangkan untuk kebutuhan non-pangan yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi.

Bahkan, kajian yang dipaparkan dalam forum industri kelapa menunjukkan bahwa pasar nata de coco global diproyeksikan terus bertumbuh hingga beberapa tahun mendatang. Produk ini dinilai selaras dengan kebutuhan konsumen modern yang menginginkan pangan sehat, rendah lemak, dan berbahan alami.

Bukan sekadar makanan, bisa jadi material industri strategis

Yang menarik, pemanfaatan nata de coco kini tidak lagi terbatas pada industri makanan dan minuman. Serat berbasis nata de coco mulai diteliti dan dikembangkan untuk berbagai kebutuhan industri berteknologi tinggi, termasuk material komposit yang memiliki nilai tambah jauh lebih besar dibandingkan produk pangan konvensional.

Pengembangan hilirisasi kelapa juga menjadi perhatian pemerintah dan berbagai lembaga internasional yang mendorong peningkatan nilai tambah produknya di Indonesia agar tidak hanya berhenti sebagai pemasok bahan baku mentah.


IICCE 2026 jadi momentum membangkitan industri kelapa

Penyelenggara IICCE 2026 berharap konferensi ini dapat menjadi momentum lahirnya investasi baru, inovasi teknologi, dan pengusaha-pengusaha muda di sektor kelapa. Indonesia yang merupakan salah satu produsen kelapa terbesar dunia dinilai memiliki peluang besar menjadi pemain utama industri hilir global.

Dengan mengusung tema “Stepping Forward to Revitalize Indonesian Coconut Upstream and Downstream Industries”, IICCE 2026 diharapkan mampu mempercepat transformasi industri kelapa nasional, termasuk mendorong nata de coco menjadi salah satu produk unggulan ekspor Indonesia di masa depan. (P-*r/sm)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan