
Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance. (‘Courtessy’ Beritasatu.com/AP/Jacquelyn Martin)PRIORITAS, 12/4/26 (Islamabad): Para jurnalis melaporkan, Iran mau terus menjalankan program pengembangan senjata nuklirnya. Akibatnya Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance meninggalkan Pakistan setelah negosiasi terkait upaya mengakhiri perang mengalami kebuntuan. Vance dilaporkan bertolak dari Islamabad pada Minggu (12/4/26) pagi waktu setempat tadi pagi.

Berdasarkan laporan jurnalis yang ikut dalam rombongan, Vance menaiki pesawat pemerintah pada pukul 07.08 waktu setempat setelah memastikan tidak tercapai kesepakatan dengan Iran di perundingan tersebut.
Tetap kembangkan senjata nuklir
Dilaporkan, kebuntuan terjadi setelah Iran dinilai menolak mundur dari pengembangan program senjata nuklir, yang menjadi salah satu syarat utama dari pihak AS dengan sikap tegas.

Diketahui, perang antara kedua pihak sendiri telah berlangsung sejak akhir Februari 2026. Sebelumnya, AS dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada 7 April 2026 lalu guna membuka ruang negosiasi ini.
Tetapi, pembicaraan intensif yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad tersebut akhirnya berakhir tanpa hasil konkret, menjadi tak jelas ke depannya.
Pernyataan singkat Vance
Sementara itu, dalam pernyataan singkatnya, Vance hanya berbicara selama sekitar tiga menit di hadapan media. Ia berdiri di podium dengan latar dua bendera Amerika Serikat, dimana utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner mendampinginya
Kemudian ia menyampaikan pernyataan awal. Vance menjawab tiga pertanyaan wartawan sebelum meninggalkan lokasi tanpa memberikan keterangan tambahan lagi.
Terus libatkan Trump
Ditegaskannya, Presiden AS Donald Trump terus dilibatkan secara langsung dalam proses negosiasi itu.
Vance mengungkapkan, dirinya berkomunikasi intens dengan Trump selama proses negosiasi.
“Kami terus berkomunikasi dengan tim karena kami bernegosiasi dengan iktikad baik,” kata Vance lagi.
Ditambahkan, komunikasi tidak hanya dilakukan dengan Presiden Trump, tetapi juga dengan sejumlah pejabat tinggi AS, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Keuangan Scott Bessent, serta Kepala Komando Pusat AS Laksamana Brad Cooper. Demikian dikutip Beritasatu.com.
“Saya berbicara dengan Trump sekitar enam atau 12 kali, selama 21 jam terakhir,” ungkapnya
Perpanjang ketidakpastian
Akibat gagalnya negosiasi ini memperpanjang ketidakpastian terkait konflik AS-Iran yang berdampak luas terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan pasokan energi global ke depan.
Adapun dengan belum tercapainya kesepakatan, masa depan gencatan senjata yang rapuh masih menjadi tanda tanya, sementara ketegangan geopolitik diperkirakan tetap tinggi dalam waktu dekat ini. (P-*r/Bst/jr)

