
Presiden AS Donald Trump. (‘Courtessy’ Beritasatu.com/AP Photo/Alex Brandon)PRIORITAS, 11/4/26 (Jakarta): Pernyataan lantang kembali dikeluarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia menyatakan, Selat Hormuz akan segera dibuka kembali dalam waktu dekat, dengan atau tanpa kerja sama Iran. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran yang dinilai masih mengganggu jalur pasokan energi global tersebut.

Sebagaimana dilansir Aljazeera, Trump menegaskan, Amerika Serikat (AS) akan mengambil langkah untuk memastikan jalur pelayaran strategis tersebut kembali normal. Ia bahkan menyebut, sejumlah negara lain siap membantu membuka kembali kawasan vital ini.
“(Memang) Ini tidak akan mudah,” aku Trump dilansir Sabtu (11/4/26).
“Saya akan mengatakan ini: Kami akan segera membukanya,” lanjutnya.

Tidak merinci
Tetapi, Trump tidak menjelaskan secara rinci mekanisme yang akan digunakan Washington untuk membuka blokade Selat Hormuz. Ia juga menolak rencana Iran yang disebut ingin menerapkan sistem pungutan bagi kapal yang melintas di jalur itu.
Berdasar laporan, Iran sebelumnya mengindikasikan rencana mengenakan biaya pelayaran sebagai bagian dari skema pengaturan lalu lintas laut, bahkan jika kesepakatan damai tercapai dengan AS.
“Jika mereka melakukan itu, maka kita tidak akan membiarkan itu terjadi,” ujar Trump sebelum menaiki Air Force One di Camp Springs, Maryland, AS.
Memastikan tidak memiliki senjata nuklir
Selanjutnya Trump menambahkan, prioritas utama dalam setiap kesepakatan dengan Iran ialah memastikan negara tersebut tidak memiliki senjata nuklir. Dalam pandangannya, pembukaan Selat Hormuz akan terjadi secara otomatis jika kesepakatan tercapai dalam waktu dekat.
“Tidak ada senjata nuklir, itu 99 persen-nya,” tandasnya.
“Selat itu akan terbuka. Jika kita pergi saja. Kalau tidak, mereka tidak akan menghasilkan uang,” bebernya, dikutip Beritasatu.com.
Masih terganggu
Adapun di tengah gencatan senjata yang diumumkan selama dua minggu antara AS dan Iran, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz justru masih terganggu. Jalur ini diketahui menjadi rute vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Berdasarkan data S&P Global Market Intelligence mencatat hanya dua kapal yang melintasi selat tersebut, turun dari lima kapal pada hari sebelumnya. Sebelum konflik meningkat, rata-rata terdapat sekitar 135 transit kapal setiap harinya.
Kemudian, Lloyd’s List Intelligence melaporkan lebih dari 600 kapal, termasuk 325 kapal tanker, masih terhambat di kawasan Teluk akibat gangguan di jalur ini.
Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dijadwalkan memimpin perundingan di Islamabad. Negosiasi ini bertujuan membahas upaya secara permanen tentang penghentian konflik.
Tetapi hingga kini, kedua pihak masih saling bertukar pesan dengan isi kesepakatan yang berbeda, termasuk terkait usulan rencana 10 poin yang diajukan Iran dan heboh di sini. (P-*r/Bst/jr)

