Presiden AS Donald Trump. (Dok/Getty Images)PRIORITAS, 2/1/26 (Jakarta): Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melakukan penyesuaian kebijakan perdagangan menjelang akhir tahun. Gedung Putih menyampaikan bahwa Trump memutuskan untuk menangguhkan kenaikan tarif impor terhadap sejumlah produk furnitur, seperti furnitur berlapis kain, kabinet dapur, dan meja rias, dengan masa penundaan selama satu tahun.
Melalui kebijakan tersebut, pemberlakuan tarif yang semula direncanakan berlaku pada penghujung 2025 kini diundur hingga 2027.
Mengutip laporan CNN pada Jumat (2/1/26), keputusan penundaan ini diambil hanya beberapa jam sebelum pergantian tahun 2025, setelah Trump menandatangani proklamasi yang menunda sementara kenaikan tarif yang dikhawatirkan akan menambah beban bagi konsumen di Amerika Serikat.
Sebelumnya, penerapan tarif baru terhadap produk-produk itu dijadwalkan mulai berlaku pada Kamis (1/1/25), sebagai bagian dari kebijakan proteksionisme yang dijalankan Trump sejak awal masa kepemimpinannya pada 2025.
Pada September lalu, Trump menginstruksikan pengenaan tarif impor sebesar 25 persen untuk lemari dapur dan furnitur berlapis kain. Kebijakan tersebut mulai diberlakukan pada Oktober, dengan rencana peningkatan tarif menjadi 50 persen untuk lemari dapur serta 30 persen untuk furnitur berlapis kain pada 2026.
Akan tetapi, lewat keputusan terbaru, rencana kenaikan tarif lanjutan tersebut ditangguhkan, sehingga besaran tarif untuk sementara tetap berada di angka 25 persen.
Kebijakan ini dikeluarkan di tengah derasnya kritik terhadap pemerintahan Trump menyusul melonjaknya harga kebutuhan rumah tangga. Bahkan sebelum tarif 25 persen diterapkan, harga furnitur di Amerika Serikat telah mengalami kenaikan akibat bea masuk atas berbagai produk impor dari China dan Vietnam, yang merupakan dua pemasok utama furnitur bagi pasar AS.
Alasan penundaan tarif
Dalam pernyataan resminya, Trump menyebut penundaan ini dilakukan karena Amerika Serikat masih terlibat dalam negosiasi perdagangan dengan sejumlah mitra dagang. Fokus pembicaraan mencakup isu timbal balik perdagangan serta aspek keamanan nasional yang berkaitan dengan impor produk kayu.
“Amerika Serikat terus terlibat dalam negosiasi produktif dengan mitra dagang untuk mengatasi masalah timbal balik perdagangan dan keamanan nasional terkait impor produk kayu,” demikian pernyataan tersebut.
Meski demikian, pernyataan tersebut tidak secara eksplisit menjelaskan alasan utama di balik keputusan penundaan kenaikan tarif. Hal ini memicu spekulasi bahwa kebijakan tersebut juga dipengaruhi oleh kekhawatiran atas daya beli rumah tangga Amerika, yang tertekan akibat inflasi dan harga barang impor yang terus meningkat.
Kebijakan merujuk pada hasil penyelidikan
Trump sebelumnya membenarkan pengenaan tarif terhadap produk berbahan kayu, termasuk furnitur dan kayu gelondongan, dengan dalih menjaga keamanan nasional sekaligus melindungi industri kayu domestik. Kebijakan tersebut merujuk pada hasil penyelidikan Departemen Perdagangan AS yang dilakukan berdasarkan Pasal 232 Undang-Undang Perluasan Perdagangan.
Ia juga melontarkan kritik kepada Kanada sebagai salah satu pemasok kayu terbesar bagi Amerika Serikat. Menurut Trump, tingginya ketergantungan impor kayu dari negara tersebut berisiko mengancam kepentingan keamanan nasional AS.
Sementara itu, Trump tetap menuding pemerintahan Joe Biden sebagai penyebab inflasi yang menekan masyarakat Amerika. Dalam sejumlah pidato terkininya, ia menyatakan kebijakan tarif justru diyakini akan membawa keuntungan dalam jangka panjang dan pada akhirnya mampu menekan biaya hidup warga.
Penundaan kenaikan tarif ini dipandang oleh kalangan pelaku industri sebagai solusi sementara yang memberi kelonggaran bagi pasar furnitur di Amerika Serikat, sembari menanti kejelasan arah kebijakan perdagangan AS ke depan. (P-Zamir)