Ini penampakan citra satelit yang disediakan oleh Vantor, dimana menunjukkan bangunan penyimpanan ‘drone’ yang hancur dan landasan pacu yang berlubang-lubang di pangkalan ‘drone’ Konarak di Iran pada hari Rabu (4/3/26) kemarin. (‘Courtessy’ Beritasatu.com/AP/Citra satelit ©2026 Vantor via AP)PRIORITAS, 5/3/26 (Jakarta): Memang ini bukan pernyataan langsung dari Teheran. Namun dengan tegas pihak Kedutaan Besar Iran untuk Indonesia menyatakan, pihaknya tidak membuka ruang negosiasi dengan pihak yang dianggap sebagai musuh di tengah meningkatnya ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah saat ini.
Diketahui, pernyataan tersebut disampaikan Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohamad Boroujerdi menanggapi usulan pemerintah Indonesia yang ingin berperan sebagai mediator dalam konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel sejak Sabtu (28/2/26) akhir pekan lalu.
“Berkaitan dengan usulan dari pemerintah Indonesia sudah disampaikan. (Namun) Kami tidak ada negosiasi dalam bentuk apa pun dengan kaum musuh karena kami sudah tidak percaya,” ujar Boroujerdi di kediamannya di Jakarta Pusat, Kamis (5/3/26) ini.
Selanjutnya Boroujerdi menegaskan, Iran tidak akan melakukan perundingan dalam kondisi saat ini karena menilai pengalaman negosiasi sebelumnya tidak memberikan hasil yang diharapkan pihaknya.
Sudah bernego, tapi tetap diserang
Dijelaskan, sikap tersebut diambil karena Iran merasa telah beberapa kali melakukan perundingan, tetapi dalam prosesnya wilayah Iran justru mengalami serangan militer bertubi-tubi.
“Dikarenakan kami telah tiga kali melakukan negosiasi, dilakukan di tengah atau di ujung negosiasi negara kami telah diserang,” ujarnya.
Terkait itu, Boroujerdi melanjutkan, Iran saat ini memilih fokus menghadapi pihak lawan secara langsung di medan perang. “Dan kali ini kami akan membereskan pihak musuh di lapangan perang,” tandasnya, seperti dikutip Beritasatu.com.
Indonesia siap berperan aktif
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyatakan, Pemerintah Republik Indonesia (RI) siap berperan aktif mendorong perdamaian di Timur Tengah, termasuk menawarkan diri menjadi mediator dalam konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel tersebut.
Presiden Prabowo menegaskan, Indonesia sebagai negara yang menganut politik luar negeri bebas aktif memiliki komitmen untuk mendukung penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan dialog sebagaimana mestinya.
Disebutnya, konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah berpotensi memicu ketidakstabilan global, termasuk mengganggu keamanan energi dan perdagangan dunia kini serta ke depan.
Selain itu, Pemerintah Indonesia juga menilai, penyelesaian konflik melalui perundingan merupakan langkah terbaik untuk mencegah eskalasi yang lebih luas di kawasan itu.
Belum pertimbangkan opsi perundingan
Kendati demikian, Iran menyatakan saat ini belum mempertimbangkan opsi perundingan dengan pihak yang terlibat dalam konflik, terutama setelah meningkatnya serangan militer dalam beberapa waktu terakhir ini.
Diketahui, konflik antara Iran dengan AS dan Israel semakin memanas setelah rangkaian serangan militer yang terjadi sejak akhir Februari 2026 lalu.
Adapun serangan udara yang dilakukan AS dan Israel ke sejumlah target di Iran dilaporkan menewaskan lebih dari 1.000 orang serta menyebabkan kerusakan pada berbagai fasilitas militer dan infrastruktur strategis di negara itu.
Kemudian Iran membalas dengan meluncurkan serangan Rudal ke wilayah Israel serta beberapa fasilitas militer milik AS di kawasan Timur Tengah tersebut.
Akibatnya, eskalasi konflik tersebut memicu kekhawatiran komunitas internasional karena berpotensi memperluas perang di kawasan yang selama ini menjadi salah satu pusat energi dunia ini.
Belakangan, sejumlah negara dan organisasi internasional pun terus menyerukan agar seluruh pihak menahan diri dan mengutamakan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi, bukan perang. (P-*r/Bst/jr)