Suasana ketika Menag memberikan sambutan pada “Zikir dan Doa Kebangsaan Tingkat Kenegaraan” di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Sabtu (1/8/26) lalu, yang disiarkan secara langsung melalui YouTube TVRI.(Tangkap Layar YouTube TVRI)PRIORITAS, 20/8/26 (Jakarta): Ada artikel yang sudah cukup lama diposting sejumlah media nasional, tapi agaknya tetap relevan kapanpun, karena menyangkut kerukunan beragama sebagai salah satu pilar vital di negeri bhineka berdasarkan Pancasila ini. Soal ini terus dibicarakan, dicari solusinya, bahkan mulai diukur levelnya: Seberapa tinggi tingkat kerukunan beragama kita!
Terkait yang terakhir itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar di awal Agustus sebagai ‘bulan kemerdekaan’ ini, menyatakan, indeks kerukunan umat beragama pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mencapai angka tertinggi sejak Indonesia berdiri.
“Ikhtiar kita di dalam merawat kerukunan juga membuahkan hasil yang membanggakan. Indeks kerukunan umat beragama meningkat dari 76,47 persen pada tahun 2024 menjadi 77,89 persen pada tahun 2025, tertinggi semenjak negeri ini berdiri,” ungkap Nasaruddin saat berpidato dalam acara “Zikir dan Doa Kebangsaan” di Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (1/8/26) lalu. Wuauw!
Disebut Nasaruddin, capaian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa kehidupan sosial dan politik nasional tetap kondusif di tengah berbagai dinamika global. Hmm.
Lampaui target?
Bahkan Menag menambahkan, capaian tersebut melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2025 sebesar 76,47 persen.
Terus, masih dari Menag kita, angka itu juga disebut telah mendekati target akhir RPJM pada 2029 sebesar 78,25 persen.
Ya, lepas dari apakah indeks ini berbanding lurus dengan masih maraknya penutupannrumah ibadah, yah, kita terima saja dulu sebagai indikator.
Tentang indeks kesalehan
Ternyata, selain itu, Nasaruddin pun menyebut indeks kesalehan umat beragama yang dikatakannya juga meningkat menjadi 84,20 persen pada 2025.
(Dan) “Capaian ini juga melampaui target RPJM tahun 2025 sebesar 76,47 persen dan telah mendekati target akhir tahun 2029 sebanyak 78,25. Tidak hanya itu, indeks kesalehan umat beragama juga meningkat menjadi 84,20 pada tahun 2025 ini,” ungkap Nasaruddin lagi.
Karena itu, dalam kesempatan itu, Menag secara khusus menyampaikan terima kasih kepada seluruh tokoh lintas agama di Indonesia, terutama yang hadir di seputaran Monas, sebuah simbol khusus ide Bung Karno bagi Ibu Kota Negara Jakarta, dulu.
Kenapa dia harus berterima kasih kepada para tokoh lintas agama itu? Karena, menurutnya, capaian mengenai kerukunan beragama tersebut tidak terlepas dari peran pembinaan yang dilakukan para tokoh agamavini.
“Secara khusus, kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh tokoh agama yang terus konsisten dalam membina umat hingga kerukunan bangsa tetap terawat. Ini penting, karena kerukunan adalah modal dasar pembangunan,” tandasnya.
Indonesia berpotensi jadi episentrum peradaban dunia
Selanjutnya, Nasaruddin juga menilai Indonesia memiliki modal yang kuat untuk menjadi salah satu episentrum peradaban dunia pada masa mendatang.
Ini tentu karena bagusnya sejumlah indikator kerukunan tadi.
Tapi juga bisa karena kian meningkatnya solidaritas hidup bersama di antara masyarakat yang beragam.
Kepemimpinan Prabowo, pembangunan berjalan pada jalur tepat
Di bagian lain, ia terang-terangan mengatakan, pembangunan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto berjalan pada jalur yang tepat.
Karena, menurut Nasaruddin, kondisi ekonomi, sosial, dan politik Indonesia juga lebih kondusif dibandingkan sejumlah kawasan di dunia yang masih diliputi konflik.
“Indonesia memiliki modal yang sangat kuat untuk menjadi salah satu episentrum peradaban dunia pada masa mendatang. Selain didukung stabilitas ekonomi, kehidupan sosial dan politik nasional juga lebih kondusif dibandingkan sejumlah kawasan yang masih diliputi konflik,” tutur Nasaruddin lagi meyakinkan.
Nasaruddin menambahkan, penyelenggaraan “Zikir dan Doa Kebangsaan” menjadi bukti nyata bahwa kerukunan hidup masyarakat Indonesia di tengah kemajemukan.
“Malam ini, ribuan umat dan para tokoh lintas agama berkumpul dalam satu majelis, memanjatkan doa terbaik bagi negerinya. Kita boleh berbeda keyakinan, tetapi kita dipersatukan oleh cinta yang sama kepada Indonesia,” demikian Menag Nasaruddin.
Diketahui, pemerintah melalui Kementerian Agama menggelar “Zikir dan Doa Kebangsaan” di Monas sebagai rangkaian menyambut Hari Ulang Tahun Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026.
Dari keterangan Kementerian Agama, enam pemuka agama memimpin doa secara bergantian dalam kegiatan tersebut.
Dan, kehadiran para tokoh lintas agama ini, demikian Kompas.com, menjadi simbol kebersamaan, semangat persatuan bangsa, serta komitmen menjaga kerukunan antarumat beragama sebagai salah satu pilar kehidupan berbangsa dan bernegara. (P-*/se)