

PRIORITAS, 30/12/25 (Washington): Pengembangan kecerdasan buatan, khususnya teknologi deepfake, dinilai berpotensi mengancam keamanan nuklir global. Isu tersebut disorot majalah Foreign Affairs dalam laporan yang terbit pada Senin (29/12/25).

Kepala Ekonom Biro Regional Asia-Pasifik Program Pembangunan PBB (UNDP) Philip Schellekens memperingatkan, penerapan kecerdasan buatan di sektor militer membawa risiko serius terhadap keselamatan manusia.
“Penerapan AI di bidang militer bisa menjadi ancaman eksistensial dan berpotensi menelan korban jiwa dalam skala besar sehingga perlu diatur secara sangat bertanggung jawab,” ujar Schellekens, seperti dikutip dari Sputnik dan Ria Novosti dalam laporan tersebut, Selasa (30/12/25).
Majalah itu menjelaskan bahwa deepfake, yakni manipulasi audio visual berbasis AI yang menghasilkan konten palsu namun tampak autentik, dapat memicu salah persepsi di antara negara-negara pemilik senjata nuklir.

Salah satu risiko utama yang disoroti adalah kemungkinan pelimpahan kewenangan pengambilan keputusan penggunaan senjata nuklir kepada sistem berbasis kecerdasan buatan.
Selain itu, kemajuan AI dinilai telah menurunkan hambatan teknis dalam pembuatan video, audio, dan gambar palsu sehingga informasi bohong semakin mudah tersebar luas.
Kondisi tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk meyakinkan suatu negara bahwa mereka sedang diserang secara nuklir, memicu serangan pendahuluan, merekayasa alasan perang, hingga memperdalam polarisasi publik, sebagaimana dilaporkan Foreign Affairs. (P-Khalied M)

