Penampakan kapal induk USS Abraham Lincoln terkini. (‘Courtessy’ Beritasatu.com & Antara/Reuters)PRIORITAS, 2/3/26 (Washington): Pihak Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon), secara resmi memberikan klarifikasi terkait kondisi kapal induk mereka, sekaligus mengonfirmasi penghancuran aset strategis milik angkatan laut Iran, di antaranya dengan menenggelamkan kapal mereka.
Selanjutnya, Pemerintah Amerika Serikat (AS) menegaskan, kapal induk USS Abraham Lincoln dalam kondisi aman sepenuhnya. Pernyataan ini dikeluarkan untuk menepis klaim yang beredar mengenai efektivitas serangan Rudal yang diluncurkan oleh pihak Iran setelah terjadi pemboman besar-besaran oleh AS dan Israel.
Sebagaimana diungkapkan seorang pejabat tinggi militer AS, upaya serangan tersebut tidak membuahkan hasil signifikan. Kapal induk yang menjadi pangkalan udara terapung itu tetap beroperasi normal di perairan strategis tersebut.
“Rudal-rudal itu tidak mengenai kapal dan tidak menyebabkan kerusakan,” tambah pejabat tersebut dalam sebuah pernyataannya.
Sistem pertahanan AS bekerja sangat efektif
Kemudian pihak Pentagon memberikan pernyataan yang lebih tegas untuk meredam kekhawatiran publik. Pihak otoritas pertahanan itu menyatakan, sistem pertahanan mereka bekerja sangat efektif sehingga ancaman tidak sempat mendekati target utama tersebut.
Pihak Pentagon bahkan menyatakan, “rudal-rudal itu bahkan tidak mendekati” kapal induk kebanggaan Negeri Paman Sam yang tetap bergerak bebas.
Tindakan ofensif melumpuhkan
Selanjutnya, sebagai bentuk respons terhadap eskalasi yang terjadi, Komando Pusat AS (Centcom) mengambil tindakan ofensif yang melumpuhkan dan mematikan.
Adapun dalam sebuah operasi militer yang presisi, pasukan AS dilaporkan berhasil menenggelamkan kapal perang Iran di wilayah pelabuhan mereka.
Dilapirkan, kapal yang menjadi sasaran ialah korvet kelas Jamaran, salah satu aset modern milik Angkatan Laut Iran. Insiden ini terjadi di kawasan pelabuhan Chabahar, yang merupakan titik vital logistik dan pertahanan di Iran bagian selatan.
“Seperti yang telah dikatakan Presiden AS, anggota angkatan bersenjata Iran, IRGC, dan polisi harus meletakkan senjata mereka. Menyerah,” tulis Centcom dalam sebuah unggahan resmi di media sosial (Medsos), seperti dikutip Beritasatu.com.
Dengan, tenggelamnya kapal kelas Jamaran menandai babak baru dalam konfrontasi langsung kedua negara. Para pengamat militer menilai, keberanian AS untuk menyerang langsung di area pelabuhan seperti Chabahar menunjukkan komitmen Washington dalam menjaga supremasi maritim di kawasan vital itu.
Saat ini, dunia menanti reaksi balasan dari Teheran. Dengan hilangnya salah satu kapal perang utama mereka, tensi di jalur perdagangan energi dunia diprediksi akan terus memanas dalam beberapa waktu ke depan dan masih sulit diprediksi. (P-*r/Bst/jr)