Selat Hormuz ditutup, pengamat desak Indonesia aktif mediasi

Khalied Malvino
Rabu, 4 Maret 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 4/3/26 (Jakarta): Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI) Syaroni Rofii mendesak Indonesia aktif melobi sebanyak mungkin pemimpin dunia guna mengakhiri konflik Iran–AS–Israel.

Indonesia dinilai berpotensi memainkan peran kunci sebagai mediator jika ketiga pihak menaruh kepercayaan kepada Jakarta.

“Kalau ada yang menengahi, ada mediator, mungkin Iran juga bisa menahan diri. Jadi, orang itu bisa berdamai kalau ada trust,” ujar Syaroni seperti dikutip Beritaprioritas dari Antara di Jakarta, Rabu (4/3/26).

Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel menyerang Iran. Iran membalas dengan menggempur pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah sekaligus menutup Selat Hormuz — jalur laut vital yang kini memblokir ratusan kapal tanker.

Syaroni mengingatkan penutupan Selat Hormuz berpotensi mendongkrak harga minyak dunia. Saat ini harga minyak sudah menyentuh 70 dolar AS atau sekitar Rp1,1 juta per barel.

“Jadi, Indonesia punya kepentingan untuk memastikan bahwa harga minyak ini harus ditekan, dan caranya adalah dengan menghentikan perang,” katanya.

Indonesia, menurut Syaroni, bisa menjalankan mediasi melalui tiga jalur sekaligus — Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP), Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dan mekanisme Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Di BoP itu ada Israel dan Amerika di dalamnya. Indonesia juga bisa menggalang dukungan dari negara-negara seperti negara OKI. Karena di negara OKI itu ada para eksportir, ada Saudi, kemudian ada Uni Emirat di dalamnya,” ujarnya.

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025