Rupiah naik ke Rp17.827 per Dolar AS, mata uang Asia kompak menguat

Zamir Ambia
Jumat, 14 Agustus 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 14/8/26 (Jakarta): Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan Jumat (14/8/26) dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan positif tersebut sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang turut menguat terhadap greenback.


Mengacu pada data Bloomberg, hingga pukul 16.15 WIB di pasar spot exchange, rupiah naik 50 poin atau 0,28 persen menjadi Rp17.827 per USD. Sebelumnya, rupiah ditutup pada level Rp17.877 per USD.

Penguatan turut dialami sejumlah mata uang Asia lainnya. Dolar Taiwan naik 0,39 persen, disusul won Korea Selatan yang menguat 0,38 persen dan peso Filipina yang terapresiasi 0,17 persen.

Rupe India tercatat menguat tipis 0,01 persen terhadap dolar AS. Sementara itu, yuan China naik 0,04 persen, ringgit Malaysia menguat 0,01 persen, dan baht Thailand terapresiasi 0,03 persen.


Dolar HK tidak ada perubahan

Dolar Singapura tercatat menguat 0,12 persen terhadap dolar AS, sedangkan dolar Hong Kong (HK) tidak ada perubahan atau tetap di level yang sama. Di Jepang, yen terapresiasi 0,22 persen terhadap dolar AS. Sementara itu, dolar Australia naik 0,20 persen dan dolar Selandia Baru menguat 0,46 persen.

Dengan demikian, mayoritas mata uang Asia bergerak positif terhadap dolar AS. Dolar Selandia Baru mencatat kenaikan tertinggi sebesar 0,46 persen, diikuti dolar Taiwan 0,39 persen, won Korea Selatan 0,38 persen, dan rupiah yang menguat 0,28 persen.

Penguatan mata uang Asia berlangsung di tengah dinamika pasar valuta asing global. Pergerakan mata uang regional menjadi sorotan investor karena dapat mencerminkan sentimen terhadap dolar AS sekaligus ekspektasi terhadap prospek perekonomian di kawasan.

Di Indonesia, perkembangan nilai tukar rupiah turut menjadi perhatian setelah pemerintah menetapkan asumsi kurs dalam RAPBN 2027 sebesar Rp17.500 per dolar AS.

Pemerintah memproyeksikan defisit dalam RAPBN 2027 mencapai Rp671,2 triliun atau setara 2,48 persen dari produk domestik bruto (PDB). Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan dengan target defisit APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB.

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan, pemerintah terus berupaya memastikan defisit anggaran tetap berada dalam batas yang terkendali.

“Kami memahami bahwa defisit yang ideal adalah sekecil-kecilnya. Bahkan cita-cita kita adalah anggaran yang berimbang,” tutur Prabowo. (P-Zamir)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan