PRIORITAS, 14/11/25 (Kulon Progo): Industri rumahan di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), berhasil mengolah limbah perca menjadi berbagai produk fashion dan perlengkapan rumah yang mengikuti tren. Hasil olahan tersebut sudah dipasarkan ke banyak daerah dan bahkan menjangkau pembeli dari luar negeri.
Kegiatan pengolahan perca ini berada di Dusun Banggan, Kalurahan Sukoreno, Kapanewon Sentolo, Kulon Progo. Usaha tersebut digagas warga setempat bernama Beni Triyono.
Di rumahnya, Beni memanfaatkan potongan kain bekas atau perca untuk diolah menjadi beragam produk bernilai ekonomi. Produk yang dihasilkan meliputi baju tenun, tas, daster, celana, jaket, hingga bedcover.
"Ya, ini semua dibuat hanya dari kain-kain sisa. Daripada terbuang lebih baik dijadikan produk yang bisa dijual," ucap Beni saat ditemui di rumahnya, Kamis (13/11/25).
"Di mana produk kami sudah dipasarkan ke berbagai daerah seperti Jakarta dan Bali. Kami juga melayani pengiriman ke Jerman, biasanya setahun tiga kali, yang setiap pengiriman bisa 900 pieces," imbuhnya, seperti dikutip Beritaprioritas dari Detikcom.
Bermula dari tak sengaja
Beni menjelaskan usaha tersebut bermula dari situasi tidak disengaja ketika ia masih memproduksi sarung bantal. Saat itu, produksi sarung bantal menghasilkan banyak sisa kain yang biasanya langsung dibuang.
Seiring berjalannya waktu, seorang rekannya memberi saran agar limbah tersebut dimanfaatkan kembali. Dari saran itulah Beni mulai merangkai perca menjadi berbagai bentuk hingga usahanya berkembang seperti sekarang.
"Karena ada saran untuk mengolah kain sisa ini, akhirnya saya coba-coba. Ternyata bisa," ujarnya.
Beni memaparkan proses pengolahan perca menjadi produk baru dilakukan dengan memilih kain yang masih layak, memotongnya sesuai kebutuhan, lalu menjahitnya satu per satu hingga membentuk produk jadi.
"Jadi prosesnya ini memang panjang dan rumit. Awal-awal memang susah, tapi kalau sudah terbiasa ya bisa lebih cepat jadinya," ucapnya.
Alami perkembangan signifikan
Usaha yang telah ia bangun selama bertahun-tahun itu mengalami perkembangan signifikan. Untuk memenuhi tingginya permintaan, Beni kini dibantu sekitar 50 pekerja, sebagian besar tetangganya.
Proses pengerjaan yang dulu dipusatkan di rumah produksi kini dikerjakan di rumah masing-masing pekerja.
Produk dari usaha tersebut dipasarkan di berbagai toko oleh-oleh khas Jogja, termasuk yang berada di sepanjang Jalan Malioboro dan Teras Malioboro.
Produk-produk itu juga dipasarkan ke Jakarta dan Bali serta diekspor ke mancanegara, terutama Jerman.
Meski kualitasnya sudah menembus pasar ekspor, harga produk UMKM fashion dan dekorasi rumah tersebut tetap terjangkau, yaitu antara Rp 10.000 hingga Rp 300.000, bergantung jenis produk dan tingkat kesulitannya. (P-Khalied M)








