Aktivitas tempur di atas dek kapal induk bertenaga nuklir Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln (CVN 72) yang kini berada di Teluk Persia sebagai persiapan serangan ke Iran. (usnavy)PRIORITAS, 29/1/26 (Washington): Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tetap ingin melakukan serangan besar-besaran terhadap Iran, termasuk menggulingkan rezim Ayatollah Ali Khamenei.
Menurut informasi yang diperoleh Beritaprioritas.com, hari Kamis (29/1/2026), serangan AS terhadap Iran tersebut dilaporkan akan dilakukan untuk memberi para demonstran kepercayaan diri, agar mereka dapat merebut gedung-gedung pemerintah dan keamanan di Iran.
“Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan serangan besar terhadap para pemimpin rezim Iran dan pasukan keamanan, untuk menginspirasi para demonstran di negara tersebut dan menciptakan kondisi untuk perubahan rezim,” demikian menurut dua sumber AS, yang mengetahui masalah tersebut pada Kamis pagi.
Menurut sumber-sumber tersebut, Presiden Trump juga mempertimbangkan serangan yang lebih besar terhadap rudal balistik Iran, tetapi dia belum mengambil keputusan tentang langkah selanjutnya.
Stasiun penyiaran publik Israel, KAN News, juga melaporkan sumber-sumber Israel meyakini Trump mengindikasikan tindakan luas terhadap Iran yang akan mencakup perubahan rezim.
Sumber-sumber juga mengatakan kepada CNN, Presiden AS kembali mempertimbangkan serangan besar setelah pembicaraan antara AS dan Iran gagal membuahkan hasil.
Laporan ini muncul setelah dua sumber mengatakan kepada The Jerusalem Post, upaya beberapa negara, termasuk Turki, Oman, dan Qatar, untuk menengahi antara Washington dan Teheran sejauh ini belum membuahkan hasil.
Salah satu sumber mengatakan pesan utama yang disampaikan negara-negara mediator kepada Iran adalah “Bertindaklah secara rasional. Berikan sesuatu kepada Presiden Trump agar perang dapat dihindari.”

Presiden AS, Donald Trump memberi pernyataan pers saat pertemuan kabinet di Washington, hari Kamis 29 Januari 2026.(whitehouse)
Tuntutan AS
Menurut para pejabat AS dan Eropa yang berbicara kepada The New York Times, AS mengajukan tiga tuntutan kepada Iran.
Tuntutan itu adalah penghentian permanen pengayaan uranium mengakhiri pengayaan uranium untuk senjata nuklir, pembatasan jumlah dan jangkauan rudal balistiknya.
Selain itu, Iran harus menghentikan dukungan untuk proksi kelompok teror regional seperti militan Hamas, Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman.
Dalam komentar kepada Reuters, sumber-sumber AS mengatakan Trump sedang mempertimbangkan serangan terhadap para komandan tentara garda revolusi IRGC dan Basij serta lembaga di Iran, yang dianggap AS bertanggung jawab atas pembantaian ribuan demonstran.
Peringatan itu muncul ketika Donald Trump menyebut armada lain sedang menuju ke Iran.
Jika Iran tidak mau bernegosiasi dan menyetujui kesepakatan nuklir dengan AS, Washington mungkin akan melancarkan serangan lain dengan cepat dan penuh kekerasan.
Presiden AS memperingatkan waktu “hampir habis” bagi Iran dan serangan tambahan terhadap negara itu, akan jauh lebih buruk daripada serangan yang dilakukan AS dalam Operasi Midnight Hammer selama perang Israel-Iran Juni 2025.
Iran pilih perang
Iran memandang tiga tuntutan AS lebih mahal daripada perang dan bersiap untuk konfrontasi.
“Jika dipaksa memilih antara kesepakatan yang diusulkan Trump dan perang, Iran akan memilih yang terakhir,” kata sebuah sumber kepada media Al-Akhbar, yang bersekutu dengan Hizbullah pada hari Kamis.

Drone kamikaze Iran yang dikabarkan sudah dibagi ke sejumlah angkatan militer di negara tersebut .(tasnimnews)
Iran telah mempersiapkan diri untuk konfrontasi militer, demikian sumber-sumber yang mengetahui informasi tersebut di Teheran.
Secara terpisah kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan seribu drone strategis telah dibagikan ke dalam sejumlah angkatan militer negara itu.
Sebuah sumber di Kementerian Luar Negeri Iran lebih lanjut menegaskan klaim Iran telah menghubungi Washington untuk mencapai kesepakatan adalah tidak benar.
Sumber tersebut melanjutkan dengan mengatakan Amerika Serikat tidak mencari negosiasi tulus, melainkan mencoba memaksakan kesepakatan kepada Iran untuk diterima tanpa diskusi.
Pejabat kementerian luar negeri itu menambahkan AS menginginkan Iran untuk membongkar program nuklirnya, membatasi kemampuan pertahanannya, dan mengakui Israel.
Awal bulan ini, Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran telah meminta untuk kembali ke meja perundingan .
“Saya rasa mereka sudah lelah dipukuli oleh Amerika Serikat,” kata Trump saat itu. “Iran ingin bernegosiasi.”(P-Jeffry W)