Potensi ikan tuna di Kabupaten Donggala dan Tolitoli,,Sulteng, kualitas ekspor. (Ist.)PRIORITAS, 25/10/25 (Jakarta): Kemandirian fiskal antara cita-cita dan realita bergantung pada transfer pusat. Untuk melihat masa depan provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) dengan kemandirian fiskal, akan ditentukan oleh optimalisasi keunggulan potensi setiap kabupaten dan kota yang ada di Sulteng.
Hal itu dikatakan Wakil Ketua Banggar DPR-RI, H. Muhidin Said, secara ekslusif menjawab pertanyaan Beritaprioritas Sabtu (25/10/25) lewat kontak WhatsApp.
“Masa depan Sulteng sebagai daerah strategis yang terletak di bagian tengah Sulawesi, memiliki potensi kekayaan sumber daya alam, mineral tambang, dan pangan. Baik kelautan perikanan tambak, pertanian maupun hortikultura. Ini harus dikelola sesuai potensi unggulan yang ada di kabupaten dan kota,” kata H Muhidin Said.
Disebutkan, jangan setiap daerah kabupaten dan kota di Sulteng secara serabutan mau tangani semua potensi yang ada. Itu, katanya, akan perlambat apa yang jadi harapan. “Sebab keunggulan daerah atau kota justru bisa memacu pertumbuhan ekonomi dan akan berdampak terserapnya tenaga kerja yang dapat menekan angka kemiskinan, dan meningkatkan daya beli,” tambahnya.
“Kita tengok Kabupaten Parimo. Potensi keunggulannya apa? Tak usah ikut-ikutan urus tambang. Tetapi fokus potensi pangan sesuai keunggulan Teluk Tomini yang di dalamnya terkandung habitat hasil laut juga perikanan tambak udang vaname kualitas ekspor. Juga pangan pertanian beras dan hortikulturan durian,” ujar Muhidin Said.
Begitupun Kabupaten Sigi, menurut anggota Komisi XI DPR-RI Dapil Sulteng ini, ia meminta Bupati Sigi Rizal Intjenae yang juga politisi Partai Golkar untuk memajukan Sigi, berdayakan petani ditunjang sistim irigasi memadai sesuai potensi unggulan pangan pertanian sawah, juga pangan perikanan tambak ikan air tawar dan hortikultira tomat, cabe, buah-buahan durian serta sayur mayur.
“Itu yang harus di dorong agar potensi unggul setiap kabupaten dan kota, termasuk Sigi, dikelola optimal pasti akan terjadi pertumbuhan ekonomi yang memadai, bisa menyerap tenaga kerja guna meningkatkan fiskal daerah,” ujar Muhidin Said lagi.
Tuna kualitas ekspor
Muhidin juga menunjuk Kabupaten Donggala dan Tolitoli. Kedua daerah itu memiliki potensi besar dalam produksi ikan tuna kualitas ekspor. Berdasarkan penelitian Dr. Nurfadilah, seorang dosen muda dari Universitas Sulawesi Barat, Desa Boneoge di Kabupaten Donggala memiliki potensi sumber daya ikan tuna yang cukup besar. Namun, nilai ekspor ikan tuna di wilayah tersebut masih rendah.
“Ikan tuna dari wilayah ini memiliki kualitas tinggi dan dapat memenuhi standar ekspor. Dengan pengelolaan yang baik dan penerapan praktik penangkapan yang berkelanjutan, potensi ikan tuna di Kabupaten Donggala dan Tolitoli dapat dioptimalkan untuk meningkatkan nilai ekspor dan perekonomian lokal ,” ungkapnya.
Tercatat Kabupaten Donggala memiliki potensi ikan tuna yang sangat besar, mencapai 193.200 ton per tahun dengan nilai produksi sekitar Rp5,4 triliun, terutama berasal dari perairan Selat Makassar. Potensi ini menjadi dasar pengembangan industri pengolahan dan hilirisasi, serta mendukung upaya menjadikan Donggala sebagai “lumbung ikan”.
Wakil Ketua Banggar DPR-RI itu mengatakan dari segi infrastruktur, Sulteng memiliki jalan negara cukup baik. Ruas jalan Trans Sulawesi sudah terintegrasi dengan baik, baik antar provinsi maupun kabupaten. Begitu pula infrastruktur pelabuhan laut, terminal angkutan darat antar provinsi dan kabupaten, serta bandara yang sudah ada di hampir setiap kabupaten, termasuk Bandara Internasional Mutiara SIS Al-Jufri Palu. Sarana dan prasarana infrastruktur penunjang ini sudah memadai, sehingga Sulteng tidak memiliki kendala berarti.
“Tinggal action untuk mewujudkan potensi keunggulan yang dimiliki dan dapat memacu pertumbuhan ekonomi. Apalagi jika program daerah searah dengan program nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto,” kata Muhidin Said.
SDA cukup kaya
Sulawesi Tengah, kata Muhidin, memiliki potensi sumber daya alam (SDA) yang cukup kaya dan seharusnya dapat mendukung kesejahteraan masyarakatnya. Jangan sampai terjadi seperti pepatah ‘tikus mati di lumbung pangan”.
“Di mana daerah yang kaya sumber daya alam namun masyarakatnya masih miskin. Jika keunggulan potensi daerah dapat dikelola secara optimal, seharusnya angka kemiskinan di daerah ini dapat ditekan,” ujar politisi Partai Golkar itu.
Muhidin mengungkapkan keprihatinannya melihat kondisi di lapangan, di mana daerah yang kaya dengan sumber daya alam, memiliki tambang nikel, potensi pangan kelautan dan tambak, serta potensi pangan beras dan hortikultura, namun masih memiliki fiskal daerah yang sangat rendah.
“Hal ini terlihat dari daya beli masyarakat yang masih rendah, seperti yang terlihat sebagian masyarakat penuhi banyaknya toko yang menjual barang dengan harga serba Rp35.000 dan warung makan yang menjual makanan dengan harga serba Rp10.000. Selain itu, angka kemiskinan di daerah ini juga masih signifikan,” ujarnya prihatin.
Lebih lanjut ia menyampaikan apresiasi terhadap program kerja Gubernur Sulteng, H Anwar Hafid, terkait program “Berani Sehat dan Berani Cerdas”. Program ini dinilai dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat, terutama dalam menekan angka kemiskinan. Dan sejalan dengan program Presiden Prabowo Subianto Asta Cita atau Delapan Program Pembangunan.
Program “Berani Sehat” yang memberikan kemudahan akses kesehatan gratis dan “Berani Cerdas” yang memberikan akses pendidikan gratis, diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat Sulteng dan mengurangi beban biaya hidup mereka.
Muhidin Said berharap program ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Sulteng. Dengan adanya program ini, masyarakat Sulteng dapat hidup lebih sejahtera dan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. (P-Elkana Lengkong)
No Comments