Tonton Youtube BP

Operasi terbesar polisi Rio Brasil tewaskan ratusan, tapi gembong Comando Vermelho masih buron

Giovanni Riung
14 Nov 2025 08:33
3 minutes reading

Polisi menangkap puluhan terduga anggota geng, tetapi pemimpin geng tersebut masih buron (FOTO/BBC).

PRIORITAS, 14/11/25 (Brasil/Rio De Janeiro): Operasi kepolisian paling mematikan dalam sejarah Brasil kembali dipertanyakan setelah muncul sejumlah temuan baru. Aksi gabungan tersebut menewaskan 121 orang termasuk empat polisi saat dilakukan di Rio de Janeiro pada 28 Oktober.

Gubernur Rio de Janeiro, Claudio Castro, menyebut operasi itu “berhasil” dan memamerkan lebih dari 100 senapan yang disita. Namun kelompok pegiat hak asasi manusia mengecam keras cara kerja pasukan keamanan, menyoroti jumlah korban sangat tinggi dan tindakan yang dinilai brutal.

Operasi raksasa ini melibatkan 2.500 petugas yang dikerahkan ke kawasan Alemão dan Penha, dengan sasaran kelompok kriminal Comando Vermelho (CV) yang menguasai area seluas sembilan juta meter persegi. Menurut aparat keamanan, tujuan utama operasi adalah mengeksekusi puluhan surat penangkapan.

Namun hasil penelusuran BBC Brasil memperlihatkan daftar korban meninggal yang dipublikasikan polisi tidak memuat satu pun dari 68 nama tersangka yang diberikan jaksa. Media lokal juga menyoroti tidak tertangkapnya pemimpin paling berpengaruh dalam jaringan tersebut, Edgar Alves de Andrade alias Doca.

Sejumlah analis menilai target utama operasi tidak tercapai. Bahkan pejabat intelijen kepolisian menyebut dampaknya terhadap struktur Comando Vermelho “hampir tak terasa”.

Warga Alemão dan Penha mengatakan situasi di wilayah mereka tidak mengalami perubahan berarti. Mereka masih melihat anggota geng bersenjata berkeliaran sehari setelah operasi, sementara jenazah korban belum sepenuhnya dievakuasi.

CV dan kelompok sejenis mengatur wilayah kekuasaan melalui aturan ketat. Selain perdagangan narkoba, mereka memonopoli layanan gas, televisi kabel, internet, dan transportasi. Warga dikenai harga lebih tinggi untuk gas tabung dan hanya boleh menggunakan ojek serta van yang sudah disetujui geng.

Geng juga mengontrol hal-hal kecil seperti pakaian. Pada 2020, warga Penha dilarang memakai jersey klub Chelsea hanya karena nomor sponsor mengingatkan pada geng rival, Terceiro Comando Puro. Hukuman bagi pelanggar sangat ekstrem, mulai dari mutilasi hingga pembakaran hidup-hidup.

Dokumen investigasi polisi yang diperoleh BBC memuat bukti penyiksaan, termasuk seorang perempuan yang dicelupkan ke dalam bak es sebagai bentuk hukuman.

Meningkatnya kekerasan dan meluasnya kendali Comando Vermelho menjadi dasar laporan kejaksaan yang kemudian memicu operasi besar 28 Oktober. Meski dikritik keras organisasi HAM, Gubernur Castro menegaskan akan melanjutkan operasi serupa untuk menumpas kejahatan terorganisir seperti dilansir dari BBC.

Hasil survei AtlasIntel menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap Castro justru meningkat menjadi 47%, melampaui Presiden Luiz Inácio Lula da Silva. Sementara itu, pemerintah federal berencana menyelidiki jalannya operasi tersebut.

Melalui unggahan di Instagram pada 11 November, Castro menegaskan tidak akan mundur. Ia menekankan warga tidak bisa lagi menoleransi kekerasan dan Rio “sedang melawan balik”. (P-Gio R)

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Video Viral

Terdaftar di Dewan Pers

x
x