Tarif Transjabodetabek akan naik di sejumlah rute, warga minta peningkatan layanan

Harley DT
Senin, 8 Juni 2026
5 menit membaca

PRIORITAS, 8/6/26 (Jakarta): Tarif Transjabodetabek akan disesuaikan – istilah halus dari menaikkan – di sejumlah rute. Tapi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memastikan rencana penyesuaian tarif tersebut tetap mempertimbangkan kemampuan ekonomi masyarakat.


Hal itu diungkapkan Staf Khusus Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta Bidang Komunikasi Publik, Chico Hakim, di Jakarta, Senin (8/6/26). Ia mengatakan, layanan Transjakarta, termasuk Transjabodetabek, mengemban fungsi pelayanan publik sehingga aspek keterjangkauan tarif menjadi perhatian utama pemerintah.

“Pemprov DKI Jakarta tetap berpegangan pada prinsip bahwa Transjakarta (termasuk Transjabodetabek) ada unsur Public Service Obligation (PSO) yang tentu salah satunya mengedepankan pertimbangan kemampuan ekonomi masyarakat,” kata Chico, seperti dilansir dari Antara.

Dipantau dari siaran berita televisi Senin sore, Chico menyebutkan hingga saat ini tarif khusus untuk Transjabodetabek setelah disesuaikan belum diputuskan Pemprov DKI Jakarta.


Terkait rute mana saja yang akan dilakukan penyesuaian, Chico juga tidak merinci. Menurut Chico, hal ini masih dalam pembahasan internal.

Seperti sudah diberitakan sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengatakan sejumlah rute Transjabodetabek akan dilakukan penyesuaian tarif pada bulan ini, salah satunya Blok M-Bandara Soekarno Hatta.

“Untuk tarif Transjabodetabek Blok M-Soekarno Hatta, segera akan kami putuskan. Pada bulan-bulan ini kita akan memutuskan beberapa rute, bukan hanya Blok M ke Soekarno-Hatta, tetapi juga Transjabodetabek lainnya yang perlu penyesuaian,” jelas Pramono.

Pramono menjelaskan, penyesuaian itu perlu dilakukan karena jumlah subsidi yang terlalu besar. Untuk itu, Pramono memutuskan segera menyesuaikan tarif Transjabodetabek di beberapa rute.

Warga minta peningkatan layanan

Antrian penumpang di Jalur 5 Terminal Blok M yang melayani rute ke Bogor, PIK 2, dan Alam Sutera. Padat dan dianggap tidak manusiawi. Warga pengguna moda transportasi ini berharap, jika tarif akan dinaikkan sebaiknya dibarengi dengan peningkatan layanan. (Ist.)

Sementara itu, sejumlah warga pengguna transportasi Transjabodetabek yang diminta pendapatnya oleh Beritaprioritas.com, umumnya bisa menerima kenaikan tarif. “Tapi itu sebaiknya untuk rute-rute panjang, misalnya Blok M tujuan  Bogor, PIK 2, Bandara Soetta, Kota atau dari dan ke terminal lain dengan tujuan jarak jauh,” kata Toto saat ditanya di Terminal Blok M, Senin sore.

“Untuk rute-rute pendek sebaiknya tarifnya tetap, apalagi sekarang cari uang susah. Saya aja belum dapat kerja lagi setelah kena PHK dua bulan lalu,” tambahnya, diiyakan oleh Bambang, temannya.

Bambang menambahkan, kalau memang mau menaikkan tarif, semestinya pengelola Transjakarta atau Transjabodetabek harus memikirkan juga dilakukannya peningkatan layanan. “Kayak di sini nih, bus yang ke Bogor lama datangnya, terutama kalo sore-sore jelang malam begini. Bisa 1 jam baru dapat. Antrian bisa mengular sampai ke tangga dari basement terminal,” ungkapnya.

Apalagi, katanya, pengelola Transjabodetabek mengeluarkan aturan “2-1”. “Bus di sini yang ke Bogor kan keluar tol di Cibubur juga, kemudian masuk lagi. Nah, petugas-petugas di sini membuat aturan, jika penumpang membludak, mereka mengutamakan penumpang yang tidak turun di Cibubur. Diatur, penumpang Cibubur baru akan mendapat bus setelah dua bus Bogor. Akibatnya, penumpang ke Cibubur menumpuk banyak dan harus menunggu lama banget,”  keluh Bambang.

Warga lain, Yuli, yang ikut mendengar percakapan, ikut nimbrung. “Mas wartawan ya? Tolong sampaikan juga agar pengelola Transjakarta memperhatikan tempat antrian penumpang kayak di sini. Terlalu terbuka, sehingga kalau hujan pada tampias basah semua. Nggak manusiawi,” ujar Yuli yang mengaku seorang karyawati.

Wati, teman Yuli, menambahkan agar  armada Transjabodetabek ditambah agar penumpang tidak menumpuk. “Di koridor 5 ini kan ada bus yang ke PIK 2 dan Alam Sutera juga yang penumpangnya juga banyak di jam-jam pulang kantor begini. Liat aja tuh, antriannya sampe nyampur sama yang ke Bogor,” terang Yuli.

Yuli dan Wati mengingatkan, kondisi antrian Transjabodetabek Blok M – Bogor sudah beberapa kali viral di media sosial. “Tapi kayaknya pengelola atau Pemprov tuli. Buktinya sampe sekarang nggak ada perubahan,” kritik Yuli pedas.

Harus pindah bus

Warga mengeluhkan layanan Transjabodetabek Depok-Cawang Sentral. Selain harus dua kali bayar, lokasi naik dan turunnya penumpang di pinggir jalan, bukan di halte yang terintegrasi dengan jurusan lain, dianggap merugikan warga pengguna Transjabodetabek. (Ist.)

Keluhan lain disampaikan pengguna bus Transjabodetabek Depok-Cawang Central yang ingin melanjutkan perjalanan. Pasalnya, tiba di Cawang Central, bus tidak merapat ke halte yang terintegrasi dengan rute lain melainkan menurunkan penumpang di halte luar.

“Jadi, penumpang harus tap kartu yang berarti bayar, turun lalu menuju ke halte besar, tap masuk, baru lanjut ke tempat tujuan,” ungkap Jaya, warga Depok, yang bercakap-cakap dengan Beritaprioritas.com dalam perjalanan menggunakan Transjabodetabek Depok-Cawang Central, pekan lalu.

Selain itu, katanya, jika hujan calon penumpang harus siap-siap basah kuyup jika tidak membawa payung. “Kalau pun membawa payung, setidaknya sepatu harus direlakan basah terkena genangan air hujan kalau hujannya lebat,” tambahnya.

Ia menerangkan, begitu juga penumpang yang naik dari Cawang Central menuju Depok yang harus turun di halte luar, baru menyambung menggunakan bus Transjabodetabek yang menunggu di pinggir jalan di bawah jembatan penyeberangan orang Cawang-UKI. “Tempat nunggunya nggak manusiawi, di pinggir jalan. Kalau hujan ya kocar-kacirlah,” keluhnya.

“Bisa jadi kasus serupa juga terjadi di rute-rute lain, saya nggak tau. Untuk itu saya usulkan agar kondisi yang merugikan warga seperti itu mbok ya diatasi. Apalagi denger-denger tarifnya mau dinaikkan,” kata Jaya. (P-*/hdt)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan