PRIORITAS, 31/3/26 (Teheran): Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel diduga sebagai penyebab terjadinya ledakan hebat dan bola api besar di situs rahasia militer Iran di gunung Sofeh, selatan kota Isfahan, Selasa dinihari 31 Maret 2026.
Sejumlah warga setempat dalam postingan di media sosial menyebut lokasi yang bernama Kuh-e-Soffeh itu, terdapat bunker bawah tanah tempat penyimpanan material amunisi militer Iran.
Namun beberapa media mengatakan lokasi itu adalah situs nuklir Iran di Isfahan, yang menyimpan material uranium untuk pembuatan bom atau senjata nuklir.
Menurut Independent Persian, seperti dikutip Beritaprioritas.com dari hari Selasa (31/3/26), ledakan di Isfahan tersebut disebabkan serangan dengan bom penghancur bunker.
Video-video terkait ledakan tersebut dipublikasikan warga di media sosial.
Laporan media resmi juga mengonfirmasi adanya serangan hebat tersebut, yang menimbulkan spekulasi AS kemungkinan sedang mempersiapkan operasi darat di Iran.
Presiden AS ikut ‘retweet’
Presiden AS, Donald Trump, bahkan telah me-retweet (menampilkan ulang) video pengeboman tersebut, yang menunjukkan ledakan besar berbentuk jamur.
Beberapa analis percaya ledakan beruntun dan kepulan asap tebal itu menunjukkan ledakan sekunder kemungkinan disebabkan amunisi yang disimpan di lokasi tersebut.
Sebuah video yang diperoleh CNN juga menunjukkan serangkaian ledakan besar di Isfahan, dengan menara-menara Masjid Agung kota itu terlihat di latar depan.
Jaringan media Kan Israel adalah salah satu media yang melaporkan militer AS menargetkan kompleks penyimpanan rudal balistik bawah tanah di Isfahan dengan bom penghancur bunker pada hari Selasa.
Surat kabar Wall Street Journal juga melaporkan dini hari Selasa AS menargetkan sebuah gudang amunisi besar di Isfahan dengan bom penghancur bunker seberat 2.000 pon (sekitar 907 kg).
Bom bunker buster biasanya digunakan untuk menembus target yang dilapisi beton dan berada jauh di bawah tanah.
Tempat uranium
Sebelumnya, citra satelit yang diambil sesaat sebelum perang 12 hari antara Iran dan Israel menunjukkan Republik Islam mungkin telah memindahkan bahan bom nuklir, uranium, ke fasilitas nuklirnya di Isfahan.
Citra tersebut, yang diambil satelit Pleiades Neo milik Airbus Defense pada 9 Juni 2025, menunjukkan sebuah truk yang membawa 18 kontainer biru memasuki terowongan di Pusat Teknologi Nuklir Isfahan.
Seorang analis untuk Bulletin of the Atomic Scientists, François Diaz-Morin, menjelaskan truk tersebut kemungkinan membawa 18 kontainer yang berisi hingga 534 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen.
Tingkat pengayaan itu hanya selangkah lagi dari mencapai senjata nuklir sebesar 90 persen.
Institut Sains dan Keamanan Internasional di Washington juga mengatakan kendaraan tersebut kemungkinan mengangkut uranium yang sangat diperkaya. Gambar-gambar tersebut pertama kali diterbitkan surat kabar Prancis Le Monde.
Para pejabat dan media pemerintah Iran belum merilis laporan tentang kerusakan pada fasilitas Isfahan, dan belum jelas apakah cadangan uranium menjadi sasaran.
Namun, beberapa ahli percaya serangan tersebut bisa menjadi pendahuluan bagi serangan pasukan darat AS dan penyitaan cadangan uranium yang tersisa.
Ini tujuan AS dan Israel untuk mencegah Republik Islam Iran memperoleh senjata nuklir.
Setengah jalan
Presiden Trump telah berulang kali mengatakan pasukan AS mungkin akan dikirim ke wilayah tersebut untuk merebut fasilitas nuklir Iran dan Selat Hormuz.
Menurut Gedung Putih, Trump telah diberi "berbagai pilihan" untuk mengambil keputusan tentang Iran, meskipun Menteri Luar Negeri Marco Rubio menekankan AS dapat mencapai tujuannya, tanpa menggunakan pasukan darat.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan Newsmax, mengumumkan misi gabungan AS-Israel melawan Republik Islam Iran, telah "setengah jalan" dan fokus saat ini adalah pada cadangan uranium yang disembunyikan Iran.
Netanyahu juga memberikan penilaian terhadap kampanye militer gabungan ini, dengan mengatakan kemajuan signifikan telah dicapai dalam melemahkan kemampuan rezim Iran.
Menurut dia, pasukan AS dan Israel sejauh ini telah menargetkan bagian-bagian penting dari potensi perang rezim Iran, termasuk sistem rudal, pabrik senjata, dan individu yang terkait dengan program nuklir.
“Kami telah melemahkan kemampuan rudal mereka, menghancurkan pabrik-pabrik mereka, dan melenyapkan ilmuwan nuklir kunci”, kata Netanyahu.
Netanyahu kemudian menekankan langkah-langkah ini menghambat rencana Iran secara signifikan.
“Serangan tersebut tidak hanya bertujuan untuk melemahkan rezim Iran saat ini, tetapi juga untuk mencegah ancaman yang jauh lebih berbahaya di masa depan”, jelasnya.(P-Jeffry W)








