PRIORITAS, 29/8/26 (Jakarta): PT Kimia Farma (Persero) Tbk berkomitmen memperluas edukasi publik mengenai keamanan terapi sel punca (stem cell). Perusahaan farmasi pelat merah ini juga mendorong pelaksanaan studi multisenter (multicenter study) untuk memperkuat bukti medis demi memperluas pemanfaatan klinis terapi regeneratif di Indonesia.
Direktur Komersial Kimia Farma, Hanadi Setiarto, menyampaikan hal itu dalam Talk Show "Update Terapi Sel Punca & Turunannya di Indonesia" di RSCM Kencana, Jakarta, Sabtu (29/8/26).
Acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian “The 17th Annual Meeting of Asian Cellular Therapy Organization” (ACTO-ASPI 2026) yang berlangsung pada 26–28 Agustus 2026 dan dihadiri delegasi dari 15 negara Asia. Forum membahas antara lain perkembangan riset, penerapan klinis, dan arah regulasi terapi berbasis sel.
Dalam penjelasannya Hanadi mengatakan bahwa kemajuan kedokteran regeneratif harus diimbangi dengan pemahaman masyarakat yang memadai.
"Fokus jangka pendek kami tidak sebatas memperkenalkan StemXera ke publik, melainkan memperluas jaringan fasilitas kesehatan yang mampu menyediakan layanan terapi ini dengan standar keamanan tinggi," tambahnya.

StemXera: Inovasi sel punca berstandar BPOM
Dalam forum internasional tersebut, Kimia Farma memaparkan perkembangan StemXera, merek produk sel punca dan sekretom yang dikembangkan bersama Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM) sejak 2013 dan resmi diluncurkan pada April 2026.
Produk inovatif itu diproduksi di fasilitas laboratorium sel punca RSCM yang telah mengantongi sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sejak Juli 2024.
Untuk jangka menengah dan panjang, Kimia Farma mendorong studi multisenter. Tujuannya adalah agar pemanfaatan klinis StemXera ditopang oleh bukti medis (clinical evidence) yang solid dan makin luas.
Manfaat terapi sel punca
Dikatakan, kedokteran regeneratif memanfaatkan komponen biologis tubuh untuk memperbaiki atau memulihkan jaringan yang rusak. Kimia Farma menyebutkan beberapa bidang kedokteran yang memanfaatkan terapi sel punca dan sekretom StemXera.
Terapi berbasis sel punca antara lain dimanfaatkan dalam bidang ortopedi untuk menangani kondisi degeneratif sendi seperti osteoartritis.
Sementara di bidang neurologi, teknologi tersebut juga menjadi bagian dari penelitian dan pengembangan terapi regeneratif untuk kondisi tertentu, termasuk stroke.
Pada bidang dermatologi dan estetika, Kimia Farma menyebut pemanfaatannya antara lain diarahkan untuk menangani kerontokan rambut, peremajaan kulit, dan kondisi hiperpigmentasi seperti melasma.
Dari sisi regulasi, BPOM mengategorikan terapi berbasis sel ini sebagai Advanced Therapy Medicinal Products (ATMP). Hingga saat ini, BPOM baru menerbitkan lima sertifikat CPOB untuk fasilitas pengolahan sel yang memenuhi standar mutu dan keamanan tinggi di Indonesia.
Melalui sinergi antara RSCM, Kementerian Kesehatan, dan regulator, Kimia Farma optimistis mampu membangun ekosistem kedokteran regeneratif yang aman, terpercaya, dan berkelanjutan bagi masyarakat. (P-Ant/ht)








