PRIORITAS, 18/10/26 (Jakarta): Indeks kualitas udara Jakarta mencapai 180 pada Minggu (18/10/26), dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 sebesar 96,5 mikrogram per meter kubik.
Berdasarkan data IQAir yang diperbarui pukul 06.00 WIB, angka tersebut menempatkan kualitas udara ibu kota dalam kategori tidak sehat.
Konsentrasi PM2.5 di Jakarta juga tercatat 19,3 kali lebih tinggi daripada nilai panduan tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Kondisi ini membuat masyarakat perlu lebih berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan, terutama kelompok yang rentan terhadap gangguan pernapasan.
Untuk mengurangi paparan polusi, IQAir merekomendasikan masyarakat mengenakan masker saat keluar rumah.
Warga juga perlu membatasi aktivitas luar ruangan, menutup jendela ketika udara luar tercemar, serta menyalakan penyaring udara jika tersedia.
PM2.5 merupakan partikel polutan berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Partikel ini dapat berasal dari debu, asap, dan jelaga.
Paparan dalam jangka panjang berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan serius, terutama bagi orang yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru kronis.
Di tengah kondisi tersebut, Jakarta tercatat berada di posisi ketiga dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk di Indonesia menurut data IQAir pada waktu pemantauan yang sama.
Palembang mencatat indeks kualitas udara 708, sedangkan Pontianak berada pada angka 196.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyiapkan fasilitas layanan kesehatan untuk mengantisipasi gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kondisi cuaca.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung pada Jumat (16/10) menginstruksikan Dinas Kesehatan menyiagakan 31 rumah sakit umum daerah (RSUD), 44 puskesmas, dan 292 puskesmas pembantu.
Kesiapsiagaan fasilitas kesehatan tersebut menjadi salah satu langkah untuk membantu warga yang mengalami gangguan kesehatan.
Masyarakat yang mengalami sesak napas atau gejala lain yang memburuk perlu segera mencari pertolongan medis.
Di sisi lain, perkembangan sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut menjadi perhatian.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Sabtu (17/10/26) menyampaikan sebaran asap mulai menjauhi Jawa bagian barat, termasuk kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Menurut keterangan BMKG dalam bahan yang tersedia, asap sempat memasuki wilayah Jawa bagian barat pada Jumat (16/10/26), tetapi tidak bertahan lama dan tidak berdampak pada kualitas udara di permukaan.
Meski demikian, keberadaan asap di atmosfer tidak selalu mencerminkan tingkat polusi yang langsung terukur di permukaan.
Karena itu, masyarakat perlu memantau informasi kualitas udara terkini dari sumber resmi dan tidak hanya mengandalkan pengamatan kondisi langit. (P-*/Khalied M)








