Lompat ke konten
Rabu, 14 Oktober 2026
Breaking
HEADLINE NEWSINTERNASIONALNEWS

Israel tolak dituduh pelaku yang tewaskan tentara Indonesia di Lebanon

Jeffry Wuisan4 menit baca
Bagikan
Gambar dari analis militer Spanyol, menunjukkan mobil pasukan PBB yang hancur, merujuk ledakkan ranjau IED jadi penyebab tewasnya dua tentara Indonesia di Lebanon selatan.(x.@tuiteromarthin)
Gambar dari analis militer Spanyol, menunjukkan mobil pasukan PBB yang hancur, merujuk ledakkan ranjau IED jadi penyebab tewasnya dua tentara Indonesia di Lebanon selatan.(x.@tuiteromarthin)

PRIORITAS, 1/4/26 (Tel Aviv): Israel Defense Forces (IDF) atau  Pasukan Pertahanan Israel, menolak dituduh sebagai pelaku ledakan, yang menewaskan dua tentara Indonesia dalam konvoi Pasukan Perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Lebanon (UNIFIL).

“Penyelidikan IDF menyimpulkan insiden kemarin yang menewaskan pasukan @UNIFIL_ bukan disebabkan oleh aktivitas IDF”, bunyi pernyataan militer Israel, seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Rabu (1/4/26).

Menurut IDF, selama sehari terakhir telah menyelesaikan peninjauan insiden kemarin (Senin, 30 Maret 2026), di mana dilaporkan pasukan UNIFIL tewas akibat ledakan alat peledak di daerah Bani Haiyyan di Lebanon selatan.

“Pemeriksaan operasional yang komprehensif menunjukkan bahwa tidak ada alat peledak yang ditempatkan di daerah tersebut oleh pasukan IDF, dan bahwa tidak ada pasukan IDF yang berada di daerah tersebut sama sekali”, jelas militer Israel.

IDF juga menegaskan selama ini mereka bertempur bukan melawan Pasukan Perdamaian PBB, UNIFIL, tetapi untuk menyingkirkan milisi Hizbullah yang diketahui mendapat dukungan dari Iran.

“IDF beroperasi melawan Hizbullah, dan bukan melawan UNIFIL, Angkatan Bersenjata Lebanon, atau warga sipil Lebanon”, kata IDF dalam pernyataan di situs resmi IDF di X.

Seruan hindari zona pertempuran

Meski begitu, IDF menyerukan kepada UNIFIL untuk menghindari kehadiran di zona pertempuran di mana IDF telah mengeluarkan peringatan kepada penduduk sipil untuk mengungsi demi keselamatan mereka.

Dalam pernyataan terbaru itu, militer Israel tidak menyebut atau menanggapi insiden sebelumnya,  yang menewaskan satu prajurit TNI di markas UNIFIL di Adshit al-Qusyar, Lebanon Selatan.

Tiga prajurit tewas

Sebelumnya beredar berita dari berbagai media internasional yang menyebutkan tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI),  yang bertugas menjaga perdamaian PBB,  gugur dalam serangan Israel di Lebanon Selatan.

Tetapi menurut Israel, gugurnya tiga prajurit TNI ini belum tentu tanggung jawab mereka. Israel menyebut kasus ini perlu ditinjau secara menyeluruh.

"Insiden-insiden tersebut sedang ditinjau secara menyeluruh untuk mengklarifikasi keadaan dan menentukan apakah insiden tersebut diakibatkan oleh aktivitas Hizbullah atau aktivitas IDF," tulis militer Israel di Telegram, dilansir kantor berita AFP, Selasa (31/3).

"Perlu dicatat bahwa insiden-insiden ini terjadi di area pertempuran aktif, di mana mereka beroperasi melawan kelompok Hizbullah yang didukung Iran," imbuh unggahan militer Israel tersebut.

IDF juga meminta dunia tidak langsung mengasumsikan peristiwa itu karena ulah militer Israel.

"Oleh karena itu, tidak boleh diasumsikan bahwa insiden di mana tentara UNIFIL terluka disebabkan oleh IDF," demikian pernyataan IDF.

PBB mengonfirmasi satu prajurit TNI meninggal pada Minggu (29/03) ketika serangan artileri menghantam markas kontingen pasukan perdamaian UNIFIL asal Indonesia di Kota Adshit al-Qusyar di Lebanon Selatan.

Dua prajurit TNI lain juga tewas akibat konvoi mobil logistik UNIFIL mereka terkena ledakan.

Tiga prajurit TNI yang meninggal itu bernama Praka Farizal Rhomadhon, Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan.

Tiga prajurit TNI anggota Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) yang tewas dalam dua insiden serangan di Lebanon Selatan.(@telegram.tni-ad)

 

Sedang mengawal

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI,  Mayjen Aulia Dwi Nasrullah, seperti dilansir Detik.com mengutip Antara, menjelaskan dua prajurit TNI itu gugur ketika sedang menjalankan misi mengawal kendaraan UNIFIL menuju titik tertentu.

Saat dalam perjalanan, kendaraan yang dikendarai pasukan TNI meledak hingga akhirnya memakan korban jiwa.

"Terjadinya ledakan pada kendaraan yang mengakibatkan gugurnya prajurit," kata Aulia.

Selain itu, ada dua prajurit TNI lain yang mengalami luka-luka masing-masing Lettu (Inf) Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto.

Hingga saat ini, Aulia belum bisa menjelaskan secara rinci apa penyebab mobil yang dikendarai prajurit TNI meledak.

Dia memastikan TNI akan menunggu hasil investigasi dari UNIFIL untuk mengungkap penyebab terjadinya ledakan tersebut.

"Untuk mengetahui penyebab insiden tersebut UNIFIL saat ini sedang melaksanakan investigasi, TNI juga terus memonitor perkembangan situasi serta menyiapkan langkah-langkah kontijensi dihadapkan pada dinamika di Daerah Misi Lebanon," kata Aulia.

Pada Minggu (30/3) di hari Praka Farizal gugur, ada tiga prajurit lain yang juga mengalami luka-luka, yakni Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Arif Kurniawan.

"Praka Rico Pramudia mengalami luka berat serta Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan mengalami luka ringan yang saat ini telah mendapatkan penanganan medis," jelas Aulia.

Pemerintah Indonesia mengutuk keras insiden serangan di Lebanon yang menewaskan seorang prajurit TNI yang menjadi anggota Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon.

Keluarga diberi santunan Rp1,8 M

Panglima TNI Jenderal Agus Subianto memastikan hak-hak ketiga prajurit dipenuhi.

Ketiga prajurit akan mendapatkan kenaikan pangkat hingga diberikan medali atas dedikasi dalam penugasan sebagai Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL).

"Selain santun tunai ketiga prajurit gugur juga mendapatkan Kenaikan Pangkat Luar Biasa Operasi Militer Selain Perang Anumerta (KPLB OMSPA), penghargaan Medal 'Dag Hammarskjold'," kata Panglima dalam keterangan Puspen TNI, Rabu (1/4/26).

Santunan yang merupakan hak ketiga prajurit itu, seperti dilaporkan Detik.com,  terdiri dari nilai tunai tabungan asuransi, santunan risiko kematian khusus, beasiswa untuk 2 anak, santunan kematian dari PBB, dana watzah, TWP AD, personal accident, santunan gugur dari perbankan.

Keluarga Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar mendapat santunan sebesar Rp1.894.688.236, Keluarga Sertu Muhammad Nur Ikhwan sebesar Rp 1.846.309.049, dan keluarga Praka Farizal Rhomadhon sebesar Rp1.854.075.205

Selain santunan tunai, pihak keluarga ketiga prajurit akan diberikan gaji terusan selama 12 bulan (terdiri dari gaji pokok, uang lauk pauk (ULP), dan tunjangan jabatan), serta pensiun janda setelah gaji terusan selesai dibayarkan. (P-Jeffry W)

Komentar

Rekomendasi untuk Anda

Pasang iklan Anda di sini

Jangkau pembaca Berita Prioritas melalui salah satu kanal berita paling aktif di wilayah ini.

Email Kami