Mengantisipasi eskalasi perang dengan Iran, para petinggi militer Israel melakukan skenario serangan yang disebut komando ‘Jam Singa’ baru-baru ini.(idf)PRIORITAS, 7/2/26 (Tel Aviv): Para petinggi militer Israel menggelar rapat darurat dan menyetujui rencana untuk serangan terhadap Iran, di tengah peningkatan kekuatan militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah saat ini.
Menurut informasi yang diperoleh Beritaprioritas.com, hari Sabtu (7/2/2026), militer Israel telah menyiapkan perencanaan penting mengantisipasi kemungkinan AS tiba-tiba menyerang Teheran, dengan Israel siap bergabung jika menjadi sasaran.
Media Israel, Ynet Global, menyebutkan Komandan Angkatan Udara Israel, Mayor Jenderal Tomer Bar, dan Kepala Intelijen Militer, Mayor Jenderal Shlomi Binder, telah menyetujui dan memfinalisasi rencana operasional serangan terpadu ke Iran.
Diskusi tersebut berlangsung di tengah laporan Presiden AS Donald Trump belum memutuskan bagaimana menggunakan “armada” yang telah dikerahkan militer AS ke Timur Tengah.
AS dan Iran sudah menyelesaikan pembicaraaan awal tidak langsung di Oman. Pertemuan langsung lanjutan untuk membahas tuntutan AS ke iran belum dijadwalkan.
Meski fokus utama pembicaraan awal di Oman itu tetap menyangkut tuntutan Presiden Trump soal nuklir Iran, pembatasan rudal balistik serta proksi kelompok pendukung Iran, namun belum ada kepastian negara rezim Ali Khamenei itu, akan memenuhinya.
Justru sikap Iran melalui Menteri Luar Negeri, Abbas Araghchi dan beberapa petinggi militer, menyuarakan sikap menantang terhadap AS.
Hal ini membuat para pemimpin negara-negara di Teluk termasuk Israel khawatir Presiden Donald Trump bisa berubah pikiran, dan segera memerintahkan pasukan AS yang kini siaga di Timur Tengah melakukan serangan militer terhadap Iran.

Komando Pusat AS hari Sabtu merilis foto kapal Induk USS Abraham Lincoln dengan pengawalan sejumlah kapal destroyer dan pesawat tempur, bergerak mendekat ke Iran.(centcom)
Bergerak maju ke Iran
Para pejabat AS memang mengatakan Presiden Trump belum menentukan target spesifik untuk kemungkinan serangan ke Iran.
Namun Komando Pusat AS di Timur Tengah, Centcom, hari Sabtu (7 Februari 2026) mengungkapkan kapal induk Abraham Lincoln dan kapal perang pengiringnya kini kembali bergerak maju ke jangkauan serang terhadap Iran.
Menurut laporan tersebut, pengerahan ini dimaksudkan sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan regional, bukan sebagai persiapan untuk misi tertentu.
Amerika Serikat juga dilaporkan memiliki lebih dari 450 rudal jelajah Tomahawk di kapal-kapal angkatan laut di Timur Tengah saat ini.
Selain itu, AS juga sudah menyiapkan skadron pesawat tempur dan pengembom di sejumlah negara seperti Qatar, Yordania, Irak dan Arab Saudi, yang relatif sangat dekat dengan Iran terutama pangkalan-pangkalan militer dan rudalnya.
Kekuatan itu dapat digunakan jika Trump memberikan lampu hijau untuk operasi melawan Iran.
Ketegangan antara AS dan Iran telah mencapai puncaknya dalam beberapa pekan terakhir, menyusul janji Trump “bantuan sedang dalam perjalanan” kepada para demonstran di Iran.
Bantuan itu jelas indikasi serangan terhadap Iran. Ribuan demonstran akhirnya tewas dibantai militer Iran hanya dalam beberapa hari.
Meskipun janji itu belum terwujud, presiden Trump telah memerintahkan “armada besar” ke wilayah tersebut, termasuk Kapal Induk USS Abraham Lincoln dan delapan kapal perusak berpeluru kendali.
Trump telah berulang kali memperingatkan Iran harus segera mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat atau menghadapi tindakan militer
Dia belum menetapkan tenggat waktu yang jelas. Tetapi hanya mengatakan “waktu hampir habis,”.
Perkembangan itulah juga yang membuat kewaspadaan tinggi di kalangan lembaga pertahanan Israel.
Para komandan senior Israel sudah diperintahkan bersiap menghadapi berbagai skenario, yang terkait dengan kemungkinan serangan Amerika Serikat ke Iran. (P-Jeffry W)