Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, membantah adanya persiapan untuk menyerang pangkalan Ameirka Serikat di Timur Tengah.(irnanewsagency)PRIORITAS, 18/1/26 (Teheran): Pemerintah Iran membantah saat ini ada persiapan untuk menyerang sejumlah pangkalan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah, terkait gelombang aksi protes yang pecah di Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, seperti dikutip Beritaprioritas.com dari media pemerintah Iran, Irna News Agency, hari Minggu (18/1/2026), menolak klaim Departemen Luar Negeri AS tersebut.
Ia justru menggambarkan tuduhan rencana serangan Iran tersebut, sebagai provokasi AS untuk menimbulkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Menurut dia, Angkatan Bersenjata Iran sepenuhnya siap untuk mempertahankan Iran dari ancaman asing.
Karena itu, ia memperingatkan terhadap setiap upaya AS untuk mendestabilisasi Iran, dengan memicu kerusuhan di negara tersebut.
Baqaei mengatakan sudah jelas Iran akan bereaksi dengan keras terhadap setiap langkah agresif.
Sebelumnya, dalam unggahan berbahasa Persia di platform media sosial X, Departemen Luar Negeri AS mengklaim telah menerima laporan yang menunjukkan Iran, sedang mempersiapkan opsi untuk menargetkan pangkalan-pangkalan Amerika.
Pernyataan Kemlu AS juga menyebutkan semua opsi serangan terhadap Iran kini tetap terbuka. Jadi jika ada serangan terhadap aset AS, akan ditanggapi dengan kekuatan yang sangat besar.
Ancaman Trump
Dalam beberapa hari terakhir, Presiden AS Donald Trump, berulang kali mengancam akan menyerang Iran sebagai bentuk dukungan terhadap para demonstran di Iran.
Protes meletus sejak akhir Desember di beberapa kota di Iran terkait depresiasi tajam rial. Pihak berwenang telah mengakui adanya demonstrasi tersebut dan mengatakan mereka siap untuk mengatasi keluhan ekonomi, sambil memperingatkan terhadap kekerasan, vandalisme, dan kerusuhan.
Awalnya berlangsung damai, protes tersebut secara bertahap berubah menjadi kekerasan setelah aparat keamanan Iran bertindak represif dan menyebabkan ribuan korban jiwa.
Pemimpin rezim Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menuding Amerika Serikat dan Israel harus bertanggungjawab atas jatuhnya ribuan korban jiwa, dalam gelombang aksi protes warga Iran tersebut.
Akui 5.000 tewas
Media Perancis, France24, hari Minggu melaporkan setidaknya 5.000 orang tewas dalam protes terhadap pemerintah di Iran.
Mengutip seorang pejabat Iran di wilayah tersebut, pihak berwenang Iran telah memverifikasi dan mengakui setidaknya 5.000 orang tewas dalam protes, termasuk sekitar 500 personel keamanan Iran.
Iran menyalahkan teroris dan perusuh bersenjata atas pembunuhan warga Iran yang tidak bersalah tersebut.
Pejabat tersebut, yang menolak disebutkan namanya karena sensitivitas masalah ini, juga mengatakan kepada Reuters, beberapa bentrokan terberat dan jumlah kematian tertinggi terjadi di wilayah Kurdi Iran di barat laut Iran.
Wilayah itu dikuasai separatis Kurdi aktif dan tempat terjadinya peningkatan kekerasan yang paling hebat dalam periode kerusuhan sebelumnya. (P-Jeffry W)