PRIORITAS, 15/8/26 (Pontianak): Kekeringan yang melanda wilayah Kalimantan Barat mulai mengganggu rantai pasok sayur-mayur di pasar tradisional Kota Pontianak. Minimnya curah hujan membuat para petani lokal kesulitan mengairi lahan hortikultura, sehingga volume panen merosot tajam.
Petani mentimun dan sayuran buah menjadi pihak yang paling terdampak oleh krisis air ini. Akibatnya, kelangkaan stok memicu lonjakan harga di tingkat pedagang eceran.”Produksi terganggu karena lahan kekurangan air. Kenaikan harga paling tinggi terjadi pada mentimun dan beberapa jenis sayur buah,” ungkap Alex, pedagang pasar di Pontianak, Jumat (14/8/2026).
Peta harga: Dari komoditas lokal hingga impor Jawa
Selain mentimun, sebagian besar jenis komoditas sayur mengalami penyesuaian harga naik sekitar Rp2.000 per kantong. Meski begitu, ketersediaan cabai di pasar masih relatif aman karena ditopang oleh pengiriman lintas daerah.
Pasokan cabai keriting dan cabai rawit saat ini mengandalkan dua jalur utama untuk menutupi kekurangan stok lokal:
Masuknya pasokan luar wilayah ini berhasil meredam lonjakan harga yang lebih ekstrem pada komoditas cabai.
Intervensi pemprov Kalbar jaga daya beli
Menanggapi fluktuasi harga bahan pokok tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat langsung mengambil langkah penanganan. Pihak Pemprov menggelar Gerakan Pangan Murah serta Operasi Pasar secara maraton di beberapa lokasi permukiman.
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan memastikan intervensi ini efektif menjaga stabilitas ekonomi warga. Melalui penyediaan komoditas murah, pemerintah daerah optimis mampu menekan laju inflasi daerah selama musim kemarau berlangsung. (P-Gio R)