Harga telur ayam di Amerika Serikat anjlok 60 persen jelang perayaan Paskah akibat tingginya produksi ayam petelur dan impor.(baristerstreet)PRIORITAS, 3/4/26 (Washington): Biasanya harga bahan pangan di berbagai belahan dunia menanjak setiap mendekati hari raya keagamaan nasional. Namun berbeda dengan di Amerika Serikat, harga telur ayam justru anjlok 60 persen menjelang perayaan Paskah tahun 2026 ini.
Ini merupakan rekor terendah dibanding tahun 2025 lalu. Berdasarkan angka-angka dari data pemerintah, rata-rata harga telur pada periode Februari 2026 tercatat mencapai US$ 2,50 atau sekitar Rp 42.500 per lusin.
Angka itu menurun drastis dibandingkan rekor harga telur pada Maret 2025, yang sempat mencapai US$6,23 (atau hampir setara Rp 103.000) per 12 butir. Ini harga tertinggi sepanjang masa di AS.
Informasi yang diperoleh Beritaprioritas.com, hari Jumat (3/4/26), turunnya harga telur di Amerika Serikat ini, akibat dampak flu burung makin mereda serta adanya impor serta pasokan dari luar.
Sebelumnya, kasus flu burung menjadi penyebab naiknya harga eceran telur selama lima bulan pertama tahun 2025, karena sumber produksi telur berkurang.
Menurut direktur eksekutif perusahaan riset pertanian LEAP Market Analytics, Mark Jordan, seperti dirilis ABC News, wabah tersebut memaksa para petani dan produsen komersial memusnahkan seluruh anak ayam petelur.
Wabah yang membandel ini masih memengaruhi peternakan unggas di AS, dengan jumlah peternakan komersial yang terinfeksi meningkat pada bulan Maret.
Namun, para peternak dengan cepat mengganti ayam yang mati atau harus dimusnahkan.
Antara Juli 2024 dan Juli 2025, jumlah anak ayam petelur yang menetas di AS meningkat 8%. Jumlah ayam petelur di AS per 1 Maret tercatat 315,8 juta ekor.
Ini adalah peningkatan ketersediaan anak ayam petelur, yang dibiakkan secara khusus berkelanjutan dan signifikan pertama sejak wabah flu burung dimulai pada tahun 2022.
Keputusan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mengimpor hampir 1 miliar telur tahun lalu, juga membantu menurunkan harga, meskipun impor sejak itu kembali ke tingkat yang lebih normal.
AS juga mengekspor lebih sedikit telur tahun lalu untuk membantu meningkatkan pasokan domestik.
Peternak merugi
Turunnya harga telur ini memang berdampak baik bagi konsumen di AS, namun sebaliknya para peternak kesulitan untuk menutup biaya alias masih merugi.
Dengan harga telur anjlok, mereka harus membayar lebih mahal untuk pakan, termasuk jagung dan tepung kedelai, karena perang Iran.
“Para petani sudah terbiasa dengan volatilitas. Itu bagian dari bisnis. Tetapi dalam beberapa bulan terakhir, banyak yang menjual telur dengan harga sama atau di bawah biaya produksi,” kata presiden dan CEO America Egg Board, Emily Metz.
Biaya rata-rata bagi peternak untuk memproduksi selusin telur saat ini berkisar $1,05. Itupun belum termasuk anggaran untuk tenaga kerja dan transportasi.
Pada akhir Maret 2026 ini, harga grosir rata-rata nasional untuk telur tercatat $1,17 per lusin. Jika dikurangi dengan biaya produksi termasuk ongkos tenaga kerja dan transport, peternak jelas masih merugi. (P-Jeffry W)