Karangetang “Yohanes Tamagalolo”, Gunung yang tak pernah benar-benar tidur: Jejak letusan dan ritus sang penjaga Pulau Siau

Sem Muhaling
Jumat, 7 Agustus 2026
OPINI 0 292
7 menit membaca

Oleh: Semuel Muhaling, jurnalis Beritaprioritas.com

DI Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, kehidupan selalu berjalan berdampingan dengan sebuah gunung yang seolah tak pernah benar-benar tertidur. Namanya Gunung Karangetang.

Setinggi sekitar 1.784 meter di atas permukaan laut, Karangetang berdiri gagah di tengah pulau yang luasnya hanya sekitar 125 kilometer persegi. Hampir dari mana pun orang memandang di Pulau Siau, siluet gunung ini selalu terlihat. Di pagi hari tampak tenang. Namun ketika malam tiba, cahaya merah dari lava pijar kerap muncul di puncaknya, mengingatkan bahwa dapur magmanya terus bekerja.

Bagi masyarakat Siau, Karangetang bukan sekadar gunung api. Ia menjadi bagian dari sejarah, budaya, sahabat, sekaligus guru penguji yang terus mengiringi kehidupan mereka.


Nama Karangetang sebenarnya merupakan kosakata bahasa daerah Sangihe dari dialek Siau yang berarti tertinggi.

Gunung paling aktif di Indonesia

Karangetang masuk dalam daftar gunung api paling aktif di Indonesia. Aktivitasnya hampir tidak pernah berhenti dalam waktu lama. Akibatnya, bagi penduduk pulau, hal itu bukan lagi suatu teror melainkan sahabat alam yang setia seumur hidup.

Berbeda dengan beberapa gunung yang bisa “beristirahat” selama puluhan tahun, Karangetang justru rutin menunjukkan aktivitas. Letusan kecil, guguran lava, semburan abu, hingga awan panas menjadi bagian dari siklus yang berulang. Saking berulang, warga tidak akan pernah benar-benar kaget bahkan panik saat menghadapinya.

Para ahli vulkanologi menyebut aktivitas strombolian mendominasi tipe erupsinya. Strombolin artinya letusan atau erupsi gunung berapi yang dengan semburan lava pijar, gas, dan material padat. Material seperti skoria atau lapili menyembur secara sporadis ke udara dengan ketinggian mencapai puluhan hingga ratusan meter. Faktanya, gunung ini memang sering memuntahkan lava pijar yang mengalir melalui lembah-lembah menuju kaki gunung. Kondisi itu membuat ancaman tidak hanya datang saat terjadi letusan besar, tetapi juga ketika kubah lava runtuh dan memicu awan panas.

Gunung Karangetang

Jejak letusan gunung Karangetang. (‘Courtesy’ Google Photo/Anugrah Imanuel Petra Palandung)

Catatan panjang letusan

Sejarah mencatat Karangetang telah meletus berkali-kali sejak masa kolonial Belanda. Dalam arsip vulkanologi, aktivitas gunung ini sudah terdokumentasi sejak abad ke-17. Sejak saat itu, puluhan letusan terjadi dengan intensitas yang berbeda-beda.

Pada abad ke-20, Karangetang beberapa kali memaksa warga mengungsi. Letusan menghasilkan aliran lava, hujan abu, lontaran batu pijar, hingga awan panas yang menjangkau lereng gunung.

Memasuki abad ke-21, aktivitas Karangetang justru semakin sering menjadi perhatian nasional. Misalnya, pada tahun 2011 adalah salah satu periode paling melekat di memori masyarakat. Gunung memuntahkan awan panas dan lava pijar. Ribuan warga harus meninggalkan rumah demi keselamatan.

Erupsi kembali terjadi pada 2013, 2015, 2018, 2019, 2023, hingga berulang pada 2025 dan 2026. Sebagian besar letusan berupa guguran lava pijar dan lontaran material vulkanik. Meski tidak selalu berskala besar, setiap aktivitas tetap berpotensi mengancam permukiman yang berada di lereng gunung.


“Dibaptis” misionaris sebagai gunung Yohanes Tamagalolo

Pada abad ke-19, Gunung Karangetang di Pulau Siau konon sempat “dibaptis” dengan tambahan nama berbau kekristenan. Nama “baptis”-nya adalah Yohanes Tamagalolo. Itu hanyalah nama “baptis simbolis” bukan baptis sebenarnya. Itu bukan nama seorang tokoh nyata atau pahlawan sejarah yang menerima pembaptisan menggunakan air dan kalimat ritual gerejawi. Sebab, dalam kehidupan masyarakat Nusa Utara sering memaknai kata “baptis” sebagai pemberian nama. 

Pembaptisan dilakukan oleh pendeta Paul Kelling seorang misionaris Nederlandsch Zendelinggenootschap (NZG) Belanda pada masa penjajahan sekitar tahun. Kelling datang dan melakukan penginjilan di Ulu Siau pada tahun 1890. Ia wafat pada tahun 22 Juli 1924. 

Menurut cerita rakyat dan sejarah lisan masyarakat Siau, pemberian nama baptis Kristen “Yohanes Tamagalolo” memilik makna ritual. Pemberian nama ini sebagai bentuk ritual keagamaan atau ikhtiar spiritual untuk menjinakkan “kemarahan” erupsi gunung. Juga, sekaligus mengajak masyarakat setempat untuk selalu ramah dan rajin beribadah.

Hingga saat ini, kisah tentang identitas spiritual Gunung Karangetang sebagai “Yohanes Tamagalolo” terus terawat dan masyarakat mengenangnya secara turun-temurun oleh para orang tua serta keturunan penjaga gunung di Siau.

Hidup berdampingan dengan risiko

Pulau Siau memiliki kondisi geografis yang unik. Permukiman penduduk berada relatif dekat dengan lereng gunung.

Banyak sungai berhulu di Karangetang. Saat hujan deras turun setelah erupsi, material vulkanik bercampur air membentuk banjir lahar. Ancaman itu sering kali datang ketika masyarakat mulai merasa situasi sudah aman.

Karena itu, warga Siau memiliki budaya kesiapsiagaan yang kuat. Mereka terbiasa mengikuti informasi dari pos pengamatan gunung api dan pemerintah daerah.

Jalur evakuasi, titik pengungsian, serta simulasi kebencanaan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

Tanah subur di balik ancaman

Meski berbahaya, Karangetang juga memberi berkah. Abu vulkanik selama ratusan tahun membuat tanah Pulau Siau sangat subur. Cengkih, pala, kelapa, hingga berbagai tanaman hortikultura tumbuh baik di lereng gunung. Padahal bebatuan berukuran raksasa mendominasi struktur tanah di pulau ini. 

Banyak keluarga menggantungkan hidup pada hasil kebun. Karena itu, hubungan masyarakat dengan Karangetang selalu menghadirkan dua sisi. Gunung ini menjadi sumber kehidupan sekaligus sumber ancaman.

Buah pala Siau

Buah pala Siau yang baru dipetik dari pohon. (‘Courtesy’ Zonautara.com/Ronny Adolof Buol)

Teknologi mengawasi sang raksasa

Kini aktivitas Karangetang dipantau selama 24 jam oleh petugas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Berbagai peralatan modern merekam gempa vulkanik, deformasi tubuh gunung, hingga emisi gas. Data itu menjadi dasar penentuan status aktivitas dan rekomendasi bagi masyarakat.

Saat aktivitas meningkat, PVMBG segera mengeluarkan radius bahaya. BNPB, BPBD, TNI, Polri, serta pemerintah daerah kemudian bersinergi menyiapkan langkah mitigasi dan evakuasi.

Gunung yang mengajarkan kerendahan hati

Karangetang mengingatkan manusia bahwa alam memiliki kekuatan yang tak tertaklukkan.

Teknologi mampu mendeteksi gejala letusan. Para ilmuwan dapat memperkirakan potensi bahaya. Namun, tidak seorang pun mampu menghentikan proses yang berlangsung jauh di dalam perut bumi.

Masyarakat Siau memahami pelajaran itu sejak lama. Mereka belajar hidup berdampingan dengan gunung api, menghormati alam, dan selalu siap menghadapi perubahan.

Setiap kali cahaya merah muncul dari puncak Karangetang, warga tidak hanya melihat letusan. Mereka melihat sebuah pengingat bahwa kehidupan di pulau kecil ini selalu terbentuk dari keseimbangan antara kesuburan, keindahan, dan ancaman.

Nilai moral dan spiritual gunung Karangetang
Masyarakat Pulau Siau memiliki hubungan spiritual yang sangat erat dengan Gunung Karangetang. Bagi mereka, gunung setinggi 1.784 meter ini bukan sekadar objek alam, melainkan entitas hidup yang berfungsi sebagai penjaga sekaligus pengawas moral. 
Ada beberapa kepercayaan lokal dan tabu yang hidup di tengah masyarakat Siau terkait aktivitas ini. 
1. Gunung sebagai pengawas moral dan indikator tabu

Ketika gunung mengalami erupsi , masyarakat lokal menganggap itu sebagai “teguran”. Sebagian besar percaya bahwa setiap kali erupsi besar atau “mengamuk”, hal tersebut merupakan pertanda adanya tabu atau norma sosial yang dilanggar di kalangan warga.

Masyarakat menganggap erupsi gunung juga sebagai alarm adanya pelanggaran kesusilaan. Secara spesifik, aktivitas kawah yang mendadak meningkat sering diyakini sebagai alarm alam atas terjadinya pelanggaran kesusilaan atau tindakan menyimpang di tengah masyarakat. Menurut mitos setempat, kemarahan gunung hanya akan mereda jika pelaku pelanggaran tersebut telah ketahuan atau mengakui perbuatannya. 

2. Ritual Mebukirang di masa lalu

Sebelum masuknya injil di pulau Siau, ada kepercayaan agama suku terkait gunung ini. Berdasarkan sejarah lisan kuno, dahulu terdapat ritual adat pra-Kristen yang dinamakan Mebukirang yang artinya pergi ke bukit. Ritual ini melibatkan persembahan di sebuah balai penyembahan khusus yang disebut pangkunang yang terletak di lereng gunung untuk meredakan kemarahan roh penguasa gunung yang disebut aditinggi. Namun, seiring masuknya ajaran agama modern dan kekristenan, ritual kuno ini telah lama hilang dan tergantikan dengan doa bersama.

3. Kewajiban bersikap ramah dan taat beribadah

Dalam kepercayaan masyarakat lokal, ada hal yang wajib dilakukan dalam menjaga hubungan dengan gunung, yakni sikap ramah dan taat beribadah. Sikap ini dipercaya merupakan kunci menjinakkan gunung. Sejalan dengan kisah baptis simbolis “Yohanes Tamagalolo”, para orang tua zaman dahulu mewariskan pesan bahwa kunci utama untuk hidup berdampingan dengan aman bersama gunung ini adalah warga harus selalu bersikap ramah, menjaga moral, dan rajin beribadah.

Hal lainnya adalah pendekatan spiritual. Ketika aktivitas vulkanik meningkat, alih-alih panik berlebihan, warga Siau sering kali mengadakan doa bersama di dekat area gunung untuk memohon perlindungan dari Sang Pencipta.

4. Konsep berkah di balik bencana

Bagi masyarakat Siau, erupsi gunung bukanlah musuh. Meskipun berstatus sebagai salah satu gunung paling aktif di Indonesia, warga tidak menganggap letusannya semata-mata sebagai ancaman bencana. 

Di lain pihak, erupsi gunung ini merupakan fakta penyubur pohon Pala Siau. Material vulkanik dan abu yang dimuntahkan Karangetang dipercaya oleh penduduk setempat sebagai katalisator utama yang menyuburkan tanah perkebunan. Hal inilah yang membuat banyak orang percaya sebagai penyebab Pulau Siau mampu menghasilkan buah pala dengan kualitas terbaik nomor satu di dunia

Nah, itulah kisah tentang Karangetang gunung “Yohanes Magalolo”. Ia masih berdiri kokoh, terus menuliskan kisah sepanjang masa sebagai gunung yang tak pernah benar-benar tidur akan terus menjadi bagian dari sejarah Pulau Siau.***

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan