PRIORITAS, 27/08/26 (Manado): Aktivitas Gunung Awu di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, masih berada di atas normal. Kondisi tersebut terlihat dari dominasi gempa vulkanik dangkal dan gempa tektonik jauh. Karena itu, masyarakat perlu mengikuti perkembangan aktivitas gunung api tersebut.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan kondisi kegempaan masih menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi.
“Dari pengamatan instrumental periode 1-15 Agustus 2026 terekam sebanyak 323 kali gempa vulkanik dangkal,” kata Lana Saria dalam laporan evaluasi Gunung Awu di Manado, Kamis (27/7/26).
"Rata-rata 21 kejadian per hari, 32 kali gempa vulkanik dalam (VA), satu kali gempa tektonik lokal, empat kali gempa terasa skala I-II MMI dan 523 kali gempa tektonik jauh (TJ)," tambah Saria.
Ratusan gempa vulkanik terekam
Menurut Lana, gempa vulkanik dangkal tersebut rata-rata mencapai 21 kejadian setiap hari. Selain itu, petugas mencatat 32 kali gempa vulkanik dalam.
Petugas juga merekam satu kali gempa tektonik lokal. Kemudian, empat kali gempa terasa dengan skala I-II MMI turut tercatat dalam periode tersebut.
Sementara itu, gempa tektonik jauh mencapai 523 kejadian. Data tersebut menunjukkan aktivitas tektonik di sekitar Gunung Awu masih cukup tinggi.
Berdasarkan nilai perataan amplitudo rekaman gempa atau Real Time Seismic Amplitude Measurement (RSAM), energi gempa masih fluktuatif.
Aktivitas gempa dangkal masih tinggi
Grafik RSAM secara umum masih menunjukkan kecenderungan meningkat. Menurut Badan Geologi, peningkatan tersebut turut dipengaruhi aktivitas gempa tektonik yang tinggi di sekitar Gunung Awu.
Di sisi lain, aktivitas gempa vulkanik dangkal juga masih berada pada tingkat tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas bawah permukaan Gunung Awu belum kembali normal.
Namun, pengamatan visual tidak menunjukkan perubahan signifikan pada kawah Gunung Awu. Kondisi visual tersebut masih sama sejak awal Juli 2024.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api juga tidak mengamati embusan asap kawah. Aktivitas asap masih berada di dalam kawah dan belum melewati puncak.
Tekanan dangkal Gunung Awu meningkat
Kondisi tersebut menunjukkan tidak ada peningkatan temperatur di dalam kawah. Perubahan temperatur juga tidak terlihat dibandingkan periode sebelumnya.
Meski demikian, aktivitas kegempaan dan akumulasi tekanan mengalami peningkatan pada kedalaman dangkal. Karena itu, Badan Geologi menilai kondisi Gunung Awu masih berada di atas normal.
Badan Geologi juga mencatat sejumlah potensi bahaya yang dapat terjadi. Salah satunya berupa erupsi magmatik eksplosif yang dapat melontarkan material pijar.
Erupsi tersebut juga berpotensi menghasilkan aliran piroklastik. Selain itu, erupsi magmatik efusif dapat menghasilkan aliran lava.
Warga dilarang mendekati kawah
Gunung Awu juga berpotensi mengalami erupsi freatik. Erupsi jenis ini dapat didominasi uap, gas gunung api, serta material erupsi sebelumnya.
Selain itu, pembongkaran kubah lava dapat terjadi jika tekanan dalam sistem magmatik meningkat signifikan. Hembusan gas vulkanik juga menjadi potensi bahaya lain.
Gas vulkanik dapat membahayakan jiwa jika konsentrasinya melebihi ambang batas aman. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan rekomendasi keselamatan dari Badan Geologi.
Pada tingkat aktivitas Level II atau Waspada, masyarakat tidak boleh memasuki radius tiga kilometer. Larangan tersebut berlaku dari pusat kawah Gunung Awu.
Pengunjung dan wisatawan juga tidak boleh melakukan aktivitas dalam radius tersebut. Masyarakat perlu mematuhi rekomendasi tersebut untuk mengurangi risiko akibat aktivitas vulkanik.
Badan Geologi hingga kini masih menetapkan status Gunung Awu pada Level II atau Waspada. Pemerintah dan masyarakat perlu terus memantau perkembangan aktivitas gunung api tersebut. (P-*Ant/sm)








