Foto ilustrasi WNI tiba di Indonesia. (Dok/Antara)PRIORITAS, 13/3/26 (Jakarta): Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menyampaikan, sebanyak 20 Warga Negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi dari Iran telah tiba di Tanah Air hari ini. Kepulangan tersebut merupakan bagian dari proses evakuasi tahap kedua yang dilakukan dalam dua gelombang.
Sementara itu, gelombang kedua yang membawa 14 WNI dijadwalkan tiba di Indonesia pada esok hari.
“Evakuasi tahap dua tengah berproses. Ini diikuti oleh 34 WNI yang akan diterbangkan ke tanah air melalui dua gelombang. Yang pertama akan tiba hari ini sekitar pukul 18, sebanyak 20 orang dan besok 14 orang akan tiba dengan jadwal yang kurang lebih sama,” tutur Plt Direktur Perlindungan WNI Kemlu Heni Hamidah di Kemlu RI, Jakarta, Jumat (13/3/26).
WNI yang sudah tiba
Sebelumnya, sebanyak 32 WNI telah lebih dulu tiba di Tanah Air dalam evakuasi tahap pertama pada 10 dan 11 Maret.
“Terkait rencana evakuasi berikutnya, pemerintah RI via KBRI Teheran tentunya akan terus melanjutkan asesmen keamanan di Iran dan situasi para WNI yang masih berada di Iran. Sesuai dengan statement Pak Menlu tentang evakuasi bertahap maka keperluan tentang evakuasi berikutnya akan disesuaikan dengan kondisi terakhir di lapangan dan juga melihat kesiapan dan kesediaan para WNI yang masih ada di sana.KBRI akan terus berkomunikasi secara intensif dengan para WNI yang masih berada di Iran untuk mendapatkan masukan tentang situasi mereka di lokasi masing-masing,” imbuh Heni.
Sementara itu, Heni menyebut lebih dari enam ribu WNI masih tertahan di luar negeri akibat konflik Iran yang dipicu serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari.
“Secara bertahap mereka difasilitasi untuk dipulangkan ke tanah air. Tentunya melihat jalur penerbangan maupun ruang udara yang terbuka. Memang yang paling banyak yang stranded ini di Jeddah untuk jemaah umroh,” ungkap Heni. “Ini pun secara bertahap difasilitasi untuk pemulangan. Jadi kalau belum ada penerbangannya mereka ditampung di penginapan-penginapan sambil menunggu penerbangannya ada. Jadi, setiap hari itu kami ada laporan harian terkait penanganan WNI stranded (terjebak) ini,” ujar Heni.
“Begitu jalur udara mulai dibuka, partially beberapa sudah mulai dibukakan ya, kemudian penerbangannya ada, nah itu secara bertahap mereka juga kembali ke tanah air,” lanjutnya.
Tiga WNI hilang
Dalam kesempatan yang sama, Heni juga mengonfirmasi, tiga WNI yang dilaporkan hilang di Selat Hormuz hingga kini belum ditemukan.
“Otoritas setempat masih terus melakukan pencarian selama 24 jam. Mereka tidak akan berhenti sampai pihak pemerintah setempat menyatakan dihentikan pencariannya. Kita belum mendapat statement resmi dari pemerintah setempat apa yang menyebabkan ledakan tersebut. Jadi, kita masih menunggu,” ucapnya.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) pada Jumat (6/3/26) menerima laporan mengenai insiden yang menimpa kapal tunda Musaffah 2 berbendera Uni Emirat Arab (UEA). Laporan tersebut diterima melalui KBRI Abu Dhabi dan KBRI Muscat setelah kejadian di Selat Hormuz, tepatnya di antara perairan UEA dan Oman, pada hari yang sama sekitar pukul 02.00 waktu setempat.
Heni menyampaikan pada Minggu (8/3/26), berdasarkan keterangan saksi mata, kapal Musaffah 2 mengalami ledakan yang memicu kebakaran hingga akhirnya tenggelam.
“Perwakilan RI segera berkoordinasi dengan otoritas UEA dan Oman, serta pihak perusahaan Safeen Prestige. Berdasarkan informasi yang diterima, Musaffah 2 berawak total tujuh personel berkewarganegaraan Indonesia, India, dan Filipina. Empat awak selamat, sedangkan tiga awak lainnya masih dalam proses pencarian,” kata Heni.
“Khusus kondisi empat awak WNI, satu WNI selamat sedang mendapat perawatan luka bakar di Rumah Sakit di Kota Khasab, Oman. Sedangkan tiga WNI lainnya masih terus diupayakan pencarian oleh otoritas setempat. Selain empat WNI tersebut, terdapat satu WNI yang berada di lokasi insiden, namun berada di kapal yang berbeda dan dalam keadaan selamat,” ucap Heni, demikian informasi yang diterima dari Liputan6. (P-Zamir)