Assoc. Prof. Ir. W. Donald R. Pokatong, M.Sc., Ph.D. tampil sebagai pembicara dalam Konferensi Internasional “AgroFood 2026” di Kuala Lumpur, Malaysia. (Dok.)PRIORITAS, 20/8/26 (Jakarta): Assoc. Prof. Ir. W. Donald R. Pokatong, M.Sc., Ph.D. mengungkapkan, pihaknya bersama tim dari Universitas Pelita Harapan terus menindaklanjuti paparan yang ia sampaikan dalam “Konferensi Internasional ke-7 tentang Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Keamanan Pangan” (AgroFood 2026) di Kuala Lumpur, Malaysia.
Dalam konferensi internasional yang diadakan 4-5 Aguustus 2026 itu, Donald Pokatong mewakili Universitas Pelita Harapan (UPH), Program Studi Teknologi Pangan.
Ia menjelaskan, tema konferensi tahun ini adalah “Memperkuat Ketahanan Pangan-Pertanian: Teknologi, Keamanan, dan Keberlanjutan di Tengah Tantangan Iklim Global”.
Kepada Beritaprioritas.com, Donald Pokatong mengungkapkan, “Agro Food 2026” diselenggarakan oleh iConferences Srilangka sebagai organizer, dengan Mitra Akademik dari Universiti Malaya dan University of Agriculture, Faisalabad, Pakistan.”
“Konferensi dilakukan dengan format luring dan daring untuk memastikan aksesibilitas global. Konferensi menghadirkan pembicara dari berbagai negara yaitu Indonesia, China, Taiwan, India, Pakistan, Kolombia, Bangladesh, Srilangka, dan tuan rumah Malaysia. Peserta daring diketahui berasal dari Inggris, Australia, Kanada, dan Afrika Selatan,” tutur putra Minahasa, Sulawesi Utara, itu, Kamis (20/8/26).
Dalam konferensi tersebut, Donald yang merupakan lulusan S3 University of Saskatchewan, Kanada, memaparkan hasil penelitian lab Teknologi Pangan UPH.
“Kami presentasikan bagaimana sumber pangan lokal dapat mensubstitusi secara parsial tepung terigu yang harus diimpor sehingga menjadi beban ekonomi nasional. Tepung yang diolah dari kacang tunggak sebagai sumber pangan lokal dimodifikasi secara fisik menggunakan metode perlakuan termal dan lembab (heat moisture treatment), kemudian digunakan dalam pengolahan roti tawar di mana tepung terigu dicampur dengan tepung kacang tunggak termodifikasi dengan beberapa rasio tertentu,” jelas Donald Pokatong.
Ia menguraikan kondisi di Indonesia. Diungkapkannya, Indonesia harus mengimpor gandum/tepung gandum guna memenuhi kebutuhan dalam negeri untuk digunakan memproduksi berbagai produk pangan olahan. Beberapa di antaranya adalah mi, kukis kering/biskuit, kue basah, dan produk-produk roti termasuk roti tawar di mana tepung terigu (gandum) merupakan bahan baku utamanya.
“Indonesia pada tahun 2024 mengimpor gandum sebesar 11,7 juta ton dengan nilai sekitar 56,6 triliun rupiah. Nilai yang sangat besar ini menjadi isu ekonomi sangat signifikan dan menjadi beban ketahanan pangan yang menyebabkan kemandirian (swasembada) pangan nasional sulit tercapai,” terang Donald Pokatong.
Dalam paparannya, Doktor Donald Pokatong melanjutkan, substitusi parsial diharapkan dapat mengurangi penggunaan gandum yang harus diimpor. Itu berarti menurunkan beban ketahanan pangan.
Penelitian sejenis itu, katanya dalam konferensi, perlu terus dilanjutkan untuk memperoleh rasio substitusi optimal. “Hal ini merupakan tantangan karena gandum memiliki protein fungsional yakni gluten yang tidak terdapat pada biji-bijian jenis polong-polongan (legume), umbi-umbian, dan lain-lain,” ujarnya.
Hal itu juga, lanjutnya, menjadi alasan mengapa tepung terigu tidak bisa diganti 100 persen oleh tepung dari sumber lain. “Protein ini yang menyebabkan pengembangan volume roti maksimal, sehingga dengan dasar ini, konsumer akan memilih roti tawar dengan volume yg lebih besar walaupun dibuat dari adonan dengan berat yang sama,” lanjutnya.
Donald Pokatong menjelaskan, konferensi yang tahun ini mengangkat tema “Strengthening Agricultural and Food Resilience: Technology, Security, and Sustainability Amidst Global Climate Challenges” itu, menyatukan beragam komunitas ahli, peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi untuk mengeksplorasi solusi inovatif terhadap beberapa tantangan paling mendesak di zaman sekarang.
“Diskusi berfokus pada pertanian berkelanjutan, teknologi, ketahanan pangan, keamanan pangan, dan keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, di tengah tantangan perubahan iklim global,” ujarnya.
“Secara nasional, kita masih mengimpor beberapa bahan pangan termasuk kedelai yang harus diimpor. Apalagi gandum, mau tidak mau, harus diimpor karena Indonesia yang tropis, gandum tidak bisa tumbuh,” tambahnya.
“Hal ini mempersulit Indonesia mencapai swasembada pangan – di mana paling tidak 90 persen pangan harus dari sumber domestik – sesuai dengan amanat dalam UU Pangan No. 18 Tahun 2012 yang antara lain tentang swasembada pangan,” tutup Donald Pokatong yang juga aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan nasional itu, salah satunya Gerakan Penerus Perjuangan Merah Putih (GPPMP). (P-*/ht)