China curiga Mossad Israel dalangi serbuan imigran ke Spanyol

Jeffry Wuisan
Jumat, 7 Agustus 2026
4 menit membaca

PRIORITAS, 7/8/26 (Madrid): Intelijen China (Tiongkok) mencurigai serbuan puluhan ribu imigran Maroko ke Ceuta, Spanyol, pekan lalu, diatur Mossad, Israel.


Menurut media Spanyol, El Mundo, seperti dikutip Beritaprioritas.com hari Jumat (7/8), laporan yang beredar di Beijing mengklaim krisis perbatasan tersebut merupakan operasi perang hibrida yang disengaja, diduga kuat dikoordinasikan
intelijen Mossad dan difasilitasi Maroko, dengan tujuan untuk mendestabilkan pemerintahan Spanyol.

Laporan tersebut juga mengaitkan insiden tersebut dengan memburuknya hubungan antara Madrid dan Tel Aviv, terutama setelah kritik Spanyol terhadap perang Israel di Gaza dan pengakuan Spanyol terhadap negara Palestina.

Seorang ilmuwan politik Mesir yang berspesialisasi dalam hubungan Tiongkok-Israel, Nadia Helmy, mengatakan analis keamanan Tiongkok memandang peristiwa di Ceuta sebagai potensi operasi tekanan yang menargetkan pemerintahan Perdana Menteri Pedro Sanchez.


“Pusat analisis intelijen Tiongkok telah meneliti eskalasi ketegangan diplomatik dan politik antara Spanyol dan Israel,” kata Helmy.

Dari perspektif tersebut, memburuknya hubungan bilateral dapat menjadi motivasi bagi Mossad untuk terlibat dalam krisis migrasi antara Maroko dan Spanyol.

Hal itu bertujuan memperkeruh situasi dan menyusupkan agen untuk memicu ketidakpuasan dan kekacauan di antara penduduk Maroko.

Geopolitik

Beijing memandang krisis imigran ke kota Spanyol tersebut melalui kacamata geopolitik dan perang hibrida, sekaligus memperkuat Maroko sebagai salah satu mitra strategis utamanya di Afrika.

Helmy membandingkan penafsiran ini dengan pemberitaan dari media-media utama resmi Tiongkok—seperti CGTN dan Xinhua—yang terutama menyoroti pengerahan militer Spanyol serta dampak krisis tersebut terhadap perbatasan luar Uni Eropa.

Dalam percakapan pribadi, sejumlah diplomat dan analis yang dekat dengan kalangan politik di Beijing juga mempertanyakan apakah penerobosan ke Ceuta itu berkaitan dengan memburuknya hubungan antara Madrid dan Israel.

Secara bertahap—penurunan hubungan yang ditandai kritik pemerintah Spanyol terhadap pembantaian di Gaza serta pengakuannya atas negara Palestina.

“Sejak normalisasi hubungan pada tahun 2020, Maroko dan Israel telah menjadi sekutu serta memperdalam kerja sama mereka di bidang pertahanan dan intelijen,” ujar seorang diplomat.

Kolombia tuduh Netanyahu

Teori tersebut juga mendapat tanggapan di luar Tiongkok.

Presiden Kolombia Gustavo Petro secara langsung menuduh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas krisis imigran di Ceuta.

Ia menegaskan pemimpin Israel tersebut “membayar orang-orang miskin untuk mempertaruhkan nyawa mereka demi mencapai Spanyol”

Petro juga menuduh perdana menteri Israel itu mendorong kampanye destabilisasi terhadap pemerintah-pemerintah yang mempertanyakan kebijakannya di Timur Tengah.

Di Tiongkok—negara yang menjadikan pengendalian perbatasan sebagai pilar utama keamanan nasional—tayangan ribuan orang yang menyeberang masuk ke wilayah Spanyol memicu beragam reaksi, mulai dari rasa takjub hingga ketidakpercayaan, di kalangan banyak pengguna media sosial Tiongkok.

“Bagaimana mungkin mereka bisa melintasi perbatasan semudah itu?” adalah salah satu pertanyaan yang paling sering muncul.

Media pemerintah China juga menyoroti konsekuensi politik bagi Eropa.

“Krisis Ceuta telah menyingkap kelemahan reformasi migrasi Uni Eropa pasca-2015 dan memperlihatkan kesulitan blok tersebut dalam merumuskan respons yang terpadu,” ujar Cui Hongjian, seorang profesor di Beijing Foreign Studies University, saat berbicara kepada Global Times.

Surat kabar tersebut menerbitkan analisis mendalam mengenai ketegangan yang muncul di dalam Uni Eropa menyusul peristiwa di perbatasan Spanyol tersebut.

Kepentingan China

Di luar aspek migrasi, para pejabat dan diplomat Tiongkok menjelaskan China memandang krisis ini terutama dari sudut pandang kepentingan geostrategis.

Ceuta Spanyol, dipandang sebagai salah satu bidak dalam peta persaingan yang rumit di wilayah Mediterania Barat—sebuah kawasan tempat bertemunya jalur pelayaran vital, infrastruktur pelabuhan, pasokan energi, dan kehadiran ekonomi China yang kian berkembang.

Hubungan erat antara pemerintahan Pedro Sánchez dan Presiden China, Xi Jinping, tercermin dari empat kunjungan Perdana Menteri Spanyol tersebut ke Beijing.

Jumlah kunjungan itu terbanyak dibandingkan pemimpin Eropa lainnya, sehingga memperkokoh posisi Spanyol sebagai salah satu mitra paling terbuka bagi Tiongkok di Uni Eropa.

Meski begitu, bagi rezim komunis China, Maroko juga telah muncul sebagai salah satu mitra dengan potensi strategis terbesar di Afrika.

Hanya dalam kurun waktu lima tahun, Rabat dan Beijing telah memperkuat hubungan ekonomi mereka secara signifikan melalui berbagai proyek infrastruktur besar dan perjanjian perdagangan, yang menempatkan kerajaan Maroko sebagai pintu gerbang utama bagi Tiongkok untuk memasuki pasar Afrika maupun Eropa.

Fokus strategis ini terlihat jelas terutama di sektor manufaktur. Puluhan perusahaan Tiongkok telah mengumumkan investasi bernilai jutaan dolar untuk membangun pabrik komponen kendaraan listrik, baterai, dan material strategis di wilayah Maroko.

Lokasi Maroko juga sangat strategis, hanya berjarak 14 kilometer dari Eropa.

Beijing memandang Maroko mampu memainkan peran serupa dengan yang dijalankan Vietnam di Asia memengaruhi ekspor langsung dari Tiongkok.

Akibatnya, setiap kali krisis pecah di Ceuta atau di wilayah mana pun di utara Maroko, China akan menilai dampak potensialnya terhadap mitra ekonomi yang arti strategisnya terus meningkat tersebut. (P-*/jw)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan