Lompat ke konten
Senin, 12 Oktober 2026
Breaking
MEGAPOLITANJakarta

Blok M: Kawasan transit yang jadi tujuan

Herling Tumbel7 menit baca
Bagikan
Blok M: Kawasan transit yang jadi tujuan
Salah satu bagian di kawasan Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Courtesy: Antara)

Oleh: Luthfia Miranda Putri (Jurnalis LKBN Antara)

PRIORITAS, 12/10/26 (Jakarta): Di lorong stasiun MRT Blok M, Jakarta, penumpang berjalan ke berbagai arah. Sebagian bergegas mengejar kereta, sebagian lagi menuju pusat perbelanjaan atau kedai kopi. Blok M kini bukan hanya kawasan transit, melainkan juga tempat untuk berbelanja, makan, atau menghabiskan waktu.

Seorang pengunjung bernama Rama mengaku tertarik pada banyaknya pilihan aktivitas di kawasan tersebut. Ia biasanya mendatangi pusat perbelanjaan atau mampir ke kedai kopi.

"Blok M menarik karena tempat melancong yang paling lengkap dan semua yang kalcer-kalcer (culture) ada di sana," kata Rama, yang lebih sering menggunakan sepeda motor ketika menyambangi Blok M.

Pengunjung lain, Putu, menilai kehadiran MRT turut memengaruhi keramaian kawasan itu, meski ia sendiri tidak menggunakan moda tersebut.

Sementara itu, Belia memilih TransJakarta untuk menuju Blok M. Meski baru dua kali berkunjung, ia pernah menghabiskan waktu bersama temannya di Blok M dari pukul 10.00 hingga 16.00 WIB, sebagian besar di satu tempat untuk nongkrong.

"Yang bikin menarik pastinya karena banyak hal yang lagi viral seperti makanan, photo booth, minuman dan banyak hal menarik lainnya buat Gen Z datengin," katanya.

Stasiun MRT jadi tempat singgah

Sebagian pengguna MRT juga menghabiskan waktu di dalam stasiun sebelum melanjutkan perjalanan.

Tomi, misalnya, biasa duduk selama 10–15 menit di Stasiun MRT Blok M BCA. Menurut dia, keberadaan area ritel dan tempat duduk membuat Stasiun Blok M BCA berbeda dari sejumlah stasiun MRT lainnya.

"Blok M, miniatur Jakarta masa depan," katanya. Ia berharap integrasi MRT, TransJakarta, dan JakLingko segera rampung agar pengguna memiliki lebih banyak pilihan moda.

Diva, pengguna MRT lainnya, mengaku bisa menghabiskan sekitar satu jam di stasiun itu untuk mengisi daya telepon sambil menikmati minuman. Namun, Tomi dan Diva menilai kapasitas stasiun kurang memadai ketika pengunjung membludak. Keduanya juga mengeluhkan sirkulasi udara yang membuat stasiun terasa panas.

Winda biasanya hanya menghabiskan lima hingga 10 menit di stasiun untuk menunggu kereta atau teman. Ia menyukai area yang luas, tempat duduk, dan gerai makanan serta minuman.

"Kadang kalau jajan di pusat perbelanjaan kan suka antre panjang. Jadi, tenant di stasiun bisa jadi pilihan lain," kata Winda.

Meski menyebut Blok M kekinian, terintegrasi, dan modern, Winda masih menyoroti kepadatan pada jam sibuk, ukuran musala, dan kualitas sinyal telekomunikasi.

Blok M kembali jadi tujuan

Pengamat transportasi dari Institut Studi Transportasi (INSTRAN) Deddy Herlambang melihat kehadiran MRT Jakarta ikut mengubah wajah Blok M.

Ia mengatakan kawasan itu pernah mengalami masa sepi. Sejumlah pusat perbelanjaan dan kawasan perdagangan di sekitarnya menghadapi minimnya pengunjung.

Menurut dia, konektivitas MRT ikut mendorong Blok M kembali menjadi tujuan masyarakat. Stasiun yang terhubung dengan kawasan komersial, termasuk akses menuju Blok M Plaza, memberikan alasan tambahan bagi orang untuk datang.

"Dengan adanya konektivitas MRT saat ini, Blok M menjadi destinasi lagi," kata Deddy.

Ia membedakan Blok M dari Stasiun Dukuh Atas BNI, yang lebih dikenal sebagai simpul perpindahan antarmoda.

"Sekarang Blok M menjadi simpul tujuan utama, bukan simpul transit," ujarnya.

Menurut Deddy, perubahan itu terlihat dari kebiasaan pekerja di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD) yang memilih Blok M untuk makan siang atau bertemu pada sore hari. Pada akhir pekan, area Melawai di kawasan itu kembali ramai oleh anak muda.

Kepastian waktu tempuh MRT menjadi salah satu pertimbangannya. Perjalanan dengan kereta lebih mudah diprediksi daripada perjalanan di jalan raya yang dipengaruhi lalu lintas.

"Misalnya, janjian di Blok M jam satu, MRT itu waktunya bisa diprediksi," katanya.

Selain kepastian waktu tempuh, kenyamanan perjalanan dan kondisi stasiun yang berpendingin udara juga menjadi pertimbangan pengguna.

Meski demikian, kata Deddy, akses antara Stasiun MRT Blok M BCA dan Terminal Blok M masih perlu ditingkatkan. Kedua titik itu memang berdekatan, tetapi pengguna belum sepenuhnya terlindung dari hujan dan panas ketika berjalan di antaranya.

"(Supaya) kalau hujan tidak kehujanan, kalau siang tidak kepanasan," ujarnya.

Ia mendorong penyediaan jalur pejalan kaki yang lebih memadai, termasuk kemungkinan koridor atau jembatan penyeberangan yang terlindung dari cuaca. Menurut dia, integrasi transportasi harus membuat perpindahan antarmoda nyaman bagi orang yang memilih meninggalkan kendaraan pribadi.

Masih ada persoalan

Division Head Business Planning and Expansion MRT Jakarta R. Samuel Ryan Pradipta Pranowo mengatakan perkembangan Blok M sejalan dengan misi MRT Jakarta untuk menghidupkan kembali simpul ekonomi perkotaan.

"Pengembangan bisnis MRT, tidak ingin hanya menjadi penyedia infrastruktur, penyedia jalur kereta, penyedia stasiun, kami ingin menjadi city regenerator, menghidupkan lagi simpul-simpul ekonomi yang ada di kota, khususnya Jakarta," kata Samuel.

 

Menurut dia, hampir 500 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) telah menjalin kerja sama dengan MRT Jakarta.

Samuel juga mencontohkan kegiatan ekonomi kreatif dan festival di Blok M yang menggerakkan usaha di sekitarnya, mulai dari kuliner hingga penginapan.

"Satu event festival yang mencakup satu kawasan, kami sudah interpolasi sehingga kurang lebih dampaknya itu sekitar Rp20 miliar-Rp30 miliar saat festival itu terjadi," katanya.

Di tengah pertumbuhan aktivitas komersial, kualitas ruang publik masih menjadi pekerjaan rumah. Deputy Director ITDP Indonesia Deliani Siregar mengatakan perubahan Blok M dari kawasan transit menjadi destinasi didorong oleh aksesibilitas transportasi publik dan keragaman fungsi kawasan.

Blok M berada di antara Stasiun MRT Blok M BCA dan Stasiun ASEAN, serta berdekatan dengan Terminal Blok M yang melayani berbagai rute TransJakarta. Kawasan ini juga memiliki pusat perbelanjaan, tempat kuliner dan hiburan, serta fasilitas publik seperti Taman Martha Tiahahu dan Taman Bendera Pusaka.

Namun, menurut Deliani, akses transportasi yang baik belum otomatis menjadikan Blok M kawasan berorientasi transit (transit-oriented development/TOD) yang ideal.

Mengacu pada delapan prinsip pengembangan kawasan berorientasi transit (TOD) dari ITDP, Deliani menyoroti kualitas jalur pejalan kaki, fasilitas bersepeda, keragaman fungsi kawasan, dan ketergantungan pada kendaraan pribadi.

Trotoar di Blok M masih terhalang kendaraan parkir, tiang listrik, pohon, dan elemen infrastruktur lainnya. Akses ke sejumlah bangunan juga belum sepenuhnya inklusif, terutama bagi pengguna kursi roda dan lansia.

Fasilitas bersepeda pun perlu ditingkatkan. Meski jalur sepeda tersedia di sejumlah ruas jalan utama, perlindungan fisik dan tempat parkir sepeda masih perlu diperbaiki. Layanan sepeda berbagi dapat menjadi alternatif untuk perjalanan jarak pendek menuju dan dari transportasi publik.

Dari sisi fungsi kawasan, Blok M telah memadukan kegiatan komersial, hiburan, dan fasilitas publik. Namun, penyediaan hunian yang beragam dan terjangkau masih perlu diperkuat untuk mengurangi risiko gentrifikasi, yakni perubahan kawasan yang dapat meningkatkan biaya hidup dan menggeser penghuni atau pelaku usaha lama.

Deliani juga menyoroti pengelolaan parkir dan penggunaan ruang jalan yang masih perlu diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor. Ia mendorong perbaikan akses pejalan kaki dan penyeberangan, penyediaan fasilitas pendukung serta penunjuk arah yang jelas, dan pelibatan masyarakat dengan kebutuhan mobilitas beragam dalam perencanaan hingga evaluasi kawasan.

Rencana revitalisasi Blok M

Kawasan Blok M–Sisingamangaraja telah ditetapkan sebagai kawasan berorientasi transit melalui Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 55 Tahun 2020. Sebagai pengelola kawasan TOD, peran MRT Jakarta tidak hanya terkait layanan kereta, tetapi juga pengembangan kawasan di sekitar simpul transit.

Salah satu rencana yang disiapkan adalah revitalisasi Blok M Hub, yang mencakup terminal dan Mal Blok M. Pemerintah DKI Jakarta dan MRT Jakarta telah mengungkap lima transformasi utama dalam rencana revitalisasi fase ultimate: modernisasi terminal, pengembangan kawasan multifungsi Blok M–ASEAN, peningkatan aksesibilitas dan integrasi, pengembangan destinasi komersial, serta penyediaan ruang terbuka publik yang lebih hijau dan nyaman.

Direktur Utama MRT Jakarta Tuhiyat mengatakan revitalisasi dilakukan bertahap. Terminal, kawasan ritel, dan podium ditargetkan selesai serta beroperasi pada 2029, sedangkan pengembangan kawasan multifungsi direncanakan berlanjut hingga 2030.

Ruang terbuka publik diproyeksikan menjadi lima kali lebih besar, sementara luas kawasan secara keseluruhan disebut meningkat hingga 10 kali lipat dibandingkan kondisi saat ini. MRT Jakarta juga menyatakan pengembangan mempertimbangkan keselamatan dan keamanan bangunan yang telah berusia 34 tahun.

Saat ini, Blok M Hub memiliki 334 tenant aktif dan dikunjungi lebih dari 25.000 orang setiap hari.

Revitalisasi membuka peluang untuk memperbaiki konektivitas dan kualitas ruang publik. Keberhasilannya tidak cukup diukur dari jumlah pengunjung atau pertumbuhan kegiatan komersial. Akses pejalan kaki, kenyamanan berpindah moda, dan ruang publik yang bisa dinikmati tanpa harus berbelanja juga perlu diperhatikan.

Blok M telah berkembang menjadi tujuan, bukan sekadar tempat transit. Tantangan berikutnya adalah memperbaiki pengalaman orang setelah turun dari kereta, mulai dari berjalan menuju tempat tujuan hingga berpindah ke moda lain, agar kawasan ini aman, nyaman, dan dapat diakses berbagai kelompok masyarakat. (P-Antara/ht)

Komentar

Rekomendasi untuk Anda

Pasang iklan Anda di sini

Jangkau pembaca Berita Prioritas melalui salah satu kanal berita paling aktif di wilayah ini.

Email Kami