
Gubernur Sulut Yulius Selvanus bersama sutradara dan para pemain film “Songko” pada acara gala premier. (Foto: beritamanado.com/Ist)PRIORITAS, 20/4/206 (Manado): Malam itu bukan sekadar gala premiere. Bioskop XXI Mantos 3 berubah jadi pusat ledakan emosi, horor, dan euforia! Film lokal “Songko” resmi diperkenalkan—dan langsung bikin geger.

Di tengah sorotan kamera dan riuh penonton, gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Yulius Selvanus hadir langsung. Kehadirannya bukan formalitas tapi ini sinyal kuat: industri film Sulut sedang bangkit!
Horor lokal naik level: Dari legenda jadi teror layar lebar
Songko bukan film biasa. Ceritanya diangkat dari legenda Minahasa yakni kisah kelam tentang makhluk misterius yang membawa ketakutan dan kehancuran. Produksinya pun serius. Lokasi pengambilan gambar dibangun secara khusus di kaki Gunung Lokon, kota Tomohon. Desa fiktif lokasi syuting diciptakan dari nol sedangkan talenta lokal banyak mendominasi produksi film ini.

Ini bukan sekadar film horor. Ini proyek besar yang mengangkat budaya lokal ke layar nasional.
Gubernur turun gunung: Ini harus didukung!
Di tengah kemeriahan gala premier itu, gubernur Yulius Selvanus memberi pesan tegas kepada semua pihak. “Industri kreatif Sulut tidak boleh berhenti di sini,” tegasnya.
Ia menilai film ini punya kualitas visual kuat dan mampu menampilkan keindahan alam Minahasa secara nyata. Bahkan, dukungan ini sejalan dengan dorongan pemerintah untuk mengembangkan ekonomi kreatif berbasis daerah. Pesannya jelas. Film lokal harus naik kelas dan Sulut siap ikut bermain di level nasional!
Momen paling heboh, “Rico Acuuu!” menggema di bioskop
Dalam kemeriahan dan riuhnya gedung bioskop yang terletak di jalan Piere Tendean Manado itu, ada satu momen yang benar-benar meledak. Saat Stefi Riko Koraag muncul, suasana berubah total. Penonton langsung histeris, meneriakkan: “Riko Acuuu… I love you!”
Sorakan itu menggema di seluruh studio. Bukan sekadar aktor, Riko menjadi simbol idola baru generasi muda Sulut.
Gala premiere ini dihadiri banyak tokoh penting, termasuk pejabat daerah hingga komunitas kreatif. Antusiasme publik pun luar biasa. Penonton bukan hanya datang menonton, tapi mereka merasakan kebanggaan lokal yang jarang terjadi.
Film ini dijadwalkan tayang nasional mulai 23 April 2026 dan siap menjangkau penonton lebih luas di seluruh Indonesia.
Film ini bukan cuma soal horor atau teror. Bukan pula cuma soal film. Ini adalah peringatan bahwa Sulawesi Utara tidak lagi diam di belakang layar kancah perfilman nasional Para pelaku industri perfilman daerah ini mulai tampil dan siap mengguncang Indonesia. (P-Sem)

