PRIORITAS, 6/2/2026 (Batam): Industri penunjang minyak dan gas bumi (migas) di Batam menunjukkan daya saing tinggi. Hal itu tercermin dari capaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) PT Dwi Sumber Arca Waja (DSAW) yang mencapai 69,68 persen.
Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, menegaskan bahwa industri penunjang hulu minyak dan gas (migas) di Kota Batam, Kepulauan Riau, telah memiliki daya saing tinggi dan tidak kalah dari industri serupa di luar negeri.
“Industri penunjang hulu migas di Batam sudah cukup baik dan memiliki daya saing. Dari kunjungan ini, kami mendapatkan keyakinan bahwa teknologi dan inovasi yang dimiliki tidak kalah dari Singapura,” ujar Bambang usai kunjungan kerja Tim Panja Migas Komisi XII DPR RI ke PT Dwi Sumber Arca Waja (DSAW), Kamis (5/2/2026).
Salah satu alasan utama kunjungan Panja Migas ke Batam adalah capaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) industri penunjang migas di kawasan tersebut yang sudah mencapai 69,68 persen, atau dibulatkan sekitar 70 persen. Angka ini dinilai sangat baik mengingat sebagian besar industri migas nasional masih berorientasi ekspor dan mengandalkan produk impor.
“TKDN sering menjadi momok karena banyak industri migas yang masih mengandalkan material dari luar. Namun di Batam ini sudah mencapai hampir 70 persen. Ini patut menjadi contoh,” kata Bambang.
Komisi XII DPR, lanjutnya, akan mendorong agar industri migas dalam negeri semakin mengutamakan penggunaan produk dan jasa industri pendukung nasional, sekaligus memacu investasi serta inovasi lanjutan.
Dukungan pemerintah
Ketua Citra Grup/PT DSAW Kris Wiluan mengapresiasi kunjungan Komisi XII DPR sebagai bentuk dukungan nyata pemerintah dan legislatif terhadap industri penunjang hulu migas nasional. Ia menjelaskan, kehadiran industri ini di Batam merupakan hasil dorongan pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri.
“Selama ini pabrikasi dan pembuatan peralatan perminyakan banyak dikerjakan di Singapura. Di Batam, kami membangun kawasan ini berdasarkan potensi besar yang bisa dikembangkan,” ujar Kris.
Menurutnya, pengembangan industri penunjang hulu migas tidak hanya mengurangi devisa yang keluar, tetapi juga membuka peluang usaha, melahirkan perusahaan rintisan, dan menciptakan lapangan pekerjaan.
Hingga kini, industri penunjang hulu migas di Batam telah menyerap 15 ribu pekerja, dengan 98 persen di antaranya tenaga kerja lokal.
Kunjungan Panja Migas dilakukan di Kawasan Industri Kabil, yang telah dilengkapi pelabuhan internasional untuk pengapalan langsung produk ke berbagai negara tanpa perlu transit ke negara tetangga.
“Sejak beroperasi, kami selalu berupaya untuk berkontribusi pada pembangunan nasional, khususnya sektor minyak dan gas,” kata Kris.
Dalam kesempatan tersebut, anggota Tim Panja Migas menggelar diskusi bersama manajemen PT DSAW. Beberapa pertanyaan yang mengemuka antara lain menyangkut komitmen perusahaan dalam menggunakan baja produksi PT Krakatau Steel di tengah persaingan harga baja impor dari China serta komposisi pekerja lokal dibanding tenaga kerja asing.
Usai diskusi, rombongan meninjau area pabrik untuk melihat proses produksi pipa migas yang dikerjakan PT DSAW. (P-Jeff K)