
Ilustrasi gambar, rangkaian baterai pada mobil listrik. (Courtesy: Moladin.com)PRIORITAS, 22/6/26 (Beijing): Peneliti dari Chinese Academy of Sciences di Beijing, China, mengklaim telah mengembangkan baterai solid-state untuk kendaraan listrik yang mampu mengisi daya hanya dalam hitungan menit.

Peneliti berhasil mengembangkan baterai lithium-metal solid-state baru yang mampu menghasilkan kepadatan energi sangat tinggi sekaligus bertahan dalam kondisi pengisian daya ultra-cepat.
Dilansir dari Kompas.com, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Digital Trends, peneliti dari Chinese Academy of Sciences mengklaim telah berhasil mengembangkan baterai lithium-metal solid-state baru yang mampu menghasilkan kepadatan energi sangat tinggi sekaligus bertahan dalam kondisi pengisian daya ultra-cepat.
Disebutkan, kombinasi keduanya selama ini menjadi tantangan besar yang diburu industri kendaraan listrik global.

Berdasarkan makalah penelitian yang diterbitkan di Journal of the American Chemical Society, prototipe baterai ini mampu mencapai kepadatan energi 451,5 Wh/kg dan mempertahankan kinerja pengisian yang stabil selama 700 siklus pengisian pada laju 20C.
Dalam istilah praktis, angka tersebut secara teoritis berarti baterai bisa diisi penuh dan dikosongkan dalam waktu sekitar tiga menit saja.
Jika berhasil dikomersialisasikan, teknologi ini akan menjadi lompatan besar dibanding baterai kendaraan listrik yang beredar saat ini.
Teknologi tersebut berpotensi merevolusi industri mobil listrik global yang selama ini masih bergulat dengan masalah waktu pengisian daya yang panjang.
Pengisian konservatif
Diketahui, sebagian besar mobil listrik dari produsen Amerika Serikat dan Eropa masih beroperasi dengan batas pengisian cepat yang relatif konservatif. Merek seperti Tesla, Ford, Volkswagen, dan Mercedes-Benz umumnya mencapai kecepatan pengisian puncak antara 150 kW hingga 350 kW dalam kondisi ideal, dengan banyak kendaraan yang masih membutuhkan 20 hingga 40 menit untuk pengisian yang berarti.
Dalam waktu bersamaan, produsen mobil dan perusahaan baterai asal China terus bergerak cepat. Perusahaan seperti BYD, CATL, Ganfeng Lithium, dan sejumlah startup agresif mengembangkan arsitektur baterai solid-state dengan kecepatan pengisian dan kepadatan energi yang jauh lebih tinggi.
Faktanya, China mendominasi perlombaan baterai terobosan terbaru di tengah tren produsen otomotif Barat yang semakin mempererat kemitraan dengan perusahaan China. Langkah itu dilakukan agar tetap kompetitif dalam teknologi kendaraan listrik.
Stellantis – salah satu perusahaan manufaktur otomotif multinasional terbesar di dunia yang berkantor pusat di Amsterdam, Belanda – memperluas kolaborasinya dengan Dongfeng Motor Corporation. Nilai kesepakatan mencapai 1,17 miliar euro (setara dengan sekitar Rp24 triliun) yang mencakup produksi kendaraan, ekspor, dan kerja sama teknik.
Stellantis juga mempererat hubungan dengan Leapmotor untuk mengembangkan kendaraan listrik bagi pasar Eropa. Volkswagen pun menjalin kemitraan dengan startup kendaraan listrik China termasuk Xpeng.
Sementara sejumlah merek Jepang dan Eropa lainnya tengah menjajaki proyek pengembangan baterai bersama dengan pemasok China.
Langkah-langkah itu mengindikasikan bahwa kemajuan teknologi baterai China kini tak bisa diabaikan oleh siapa pun di industri otomotif global.
Risiko keamanan
Meskipun demikian, di balik antusiasme tersebut, baterai dengan kepadatan energi ultra-tinggi juga menyimpan risiko keamanan. Kepadatan energi yang lebih tinggi umumnya berarti risiko termal yang lebih besar jika baterai mengalami thermal runaway atau kondisi panas yang tak terkendali.
Seperti diketahui, industri ini sudah menyaksikan sejumlah insiden kebakaran kendaraan listrik yang melibatkan sistem baterai lithium. Namun para peneliti China mengklaim bahwa sel baterai pouch mereka telah lulus uji penetrasi paku, yang biasa digunakan untuk mengevaluasi ketahanan terhadap korsleting internal.
Namun hasil laboratorium tidak serta-merta menjamin keandalan dalam penggunaan otomotif di dunia nyata. Masih butuh waktu untuk komersialisasi Itulah salah satu catatan besar seputar baterai solid-state.
Meski terobosan kerap diumumkan, proses komersialisasi bisa memakan waktu bertahun-tahun karena kerumitan manufaktur, validasi daya tahan, sertifikasi keamanan, dan pengujian regulasi pemerintah.
Dikabarkan, banyak perusahaan baterai saat ini menargetkan jendela komersialisasi antara 2026 hingga 2028. Hingga saat itu tiba, baterai lithium iron phosphate atau LFP tradisional kemungkinan akan tetap mendominasi pasar berkat biaya yang lebih rendah, rantai pasokan yang sudah mapan, dan keandalan yang sudah terbukti.
Meski demikian, kecepatan perkembangan yang terjadi menunjukkan bahwa perlombaan baterai kendaraan listrik kini memasuki fase yang jauh lebih agresif, dan China tampaknya saat ini memimpin di dalamnya sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Digital Trends. (P-*/hdt)

