AS sita lagi satu kapal tanker pembawa minyak Venezuela

Jeffry Wuisan
Minggu, 21 Desember 2025
3 menit membaca

PRIORITAS, 21/12/25 (Washington): Militer Amerika Serikat (AS) telah menyita satu lagi kapal tanker yang membawa minyak dari Venezuela.


“Amerika Serikat telah menyita sebuah kapal tanker minyak di lepas pantai Venezuela di perairan internasional”, demikian dikonfirmasi Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, seperti dikutip Beritaprioritas.com hari Minggu (21/12/25).

Langkah ini dilakukan hanya beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan “blokade” terhadap semua kapal tanker minyak yang dikenai sanksi yang masuk dan keluar Venezuela.

Penangkapan ini menandai kali kedua dalam beberapa pekan terakhir AS menyita sebuah kapal tanker di dekat Venezuela.


Ini juga terjadi di tengah peningkatan besar-besaran kekuatan militer AS di wilayah tersebut.

Noem membenarkan Penjaga Pantai AS menyita sebuah kapal tanker yang terakhir berlabuh di Venezuela.

“Amerika Serikat akan terus mengejar pergerakan ilegal minyak yang dikenai sanksi yang digunakan,  untuk mendanai terorisme narkoba di wilayah tersebut. Kami akan menemukan Anda, dan kami akan menghentikan Anda,” ujar Noem.

Kapal Centuries

Menurut CBC News, penjaga pantai dan Pentagon mengarahkan pertanyaan ke Gedung Putih, yang tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Kementerian perminyakan Venezuela dan perusahaan minyak negara PDVSA juga tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Perusahaan manajemen risiko maritim Inggris, Vanguard, mengatakan kapal tersebut diyakini sebagai Centuries berbendera Panama, yang dicegat di sebelah timur Barbados di Laut Karibia.

Seorang mitra di firma hukum Hughes Hubbard & Reed LLP di Washington, DC, Jeremy Paner, mengatakan kapal tersebut belum dikenai sanksi oleh AS.

“Penyitaan kapal yang tidak dikenai sanksi oleh AS menandai peningkatan lebih lanjut dalam tekanan Trump terhadap Venezuela,” kata mantan penyelidik di Kantor Pengawasan Aset Asing AS itu.

Sebuah helikopter pembawa tentara AS bersiap mendarat di geladak kapal tanker yang ditangkap di dekat pantai Venezuela.(@sec_noem)

Blokade total

Pada hari Selasa lalu, Presiden Trump memerintahkan blokade total dan lengkap terhadap semua kapal tanker minyak yang dikenakan sanksi yang masuk dan keluar dari Venezuela.

Sejak pasukan AS menyita kapal tanker minyak Skipper di lepas pantai Venezuela pekan lalu, embargo efektif telah diberlakukan.

Kapal-kapal bermuatan jutaan barel minyak tetap berdiam di perairan Venezuela daripada mengambil risiko penyitaan dari AS. Sejak penyitaan pertama, ekspor minyak mentah Venezuela langsung anjlok tajam.

Pemerintah Venezuela mengatakan penyitaan kapal tanker minyak tersebut ‘merupakan pencurian terang-terangan dan tindakan pembajakan internasional.’

Namun Jaksa Agung AS, Pam Bondi, mengatakan FBI, Departemen Keamanan Dalam Negeri, dan Penjaga Pantai AS melaksanakan surat perintah penyitaan untuk kapal tanker tersebut, dengan tuduhan mengangkut minyak yang dikenai sanksi dari Venezuela dan Iran.

China adalah pembeli terbesar minyak mentah Venezuela, yang menyumbang sekitar empat persen dari impornya.

Pengiriman ke China pada bulan Desember 2025 ini diperkirakan rata-rata lebih dari 600.000 barel per hari, menurut para analis.

Armada bayangan

Sejak AS memberlakukan sanksi energi terhadap Venezuela pada tahun 2019, para pedagang dan penyuling yang membeli minyak Venezuela telah menggunakan “armada bayangan”.

Kapal-kapal tanker dari Venezuela itu menyamarkan lokasi mereka. Begitupun kapal yang dikenai sanksi karena mengangkut minyak Iran atau Rusia.

Para analis perkapalan mengatakan bahwa armada gelap atau armada bayangan dianggap rentan terhadap kemungkinan tindakan hukuman dari AS.

Kapal Centuries, yang memuat minyak di Venezuela dengan nama samaran “Crag” dan merupakan bagian dari armada gelap, membawa sekitar 1,8 juta barel minyak mentah Venezuela Merey yang akan dikirim ke China.

Kapal tersebut meninggalkan perairan Venezuela pada hari Rabu, setelah sempat dikawal angkatan laut Venezuela.

Minyak mentah tersebut dibeli oleh Satau Tijana Oil Trading, salah satu dari banyak perantara yang terlibat dalam penjualan PDVSA kepada kilang independen China, demikian menurut dokumen tersebut. (P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan