Jaksa Agung Amerika Serikat Pam Bondi menuliskan di platform X, Maduro beserta istrinya akan segera menghadapi proses hukum penuh sesuai sistem peradilan Amerika Serikat di pengadilan yang berada di wilayah AS.
Didakwa bersama keluarganya
Maduro didakwa bersama istrinya, anak laki-lakinya, serta tiga individu lainnya. Secara rinci, ia dijerat empat dakwaan utama, meliputi konspirasi terorisme narkotika, konspirasi impor kokain, kepemilikan senapan mesin dan bahan peledak, serta persekongkolan untuk memiliki senapan mesin dan bahan peledak tersebut.
Kasus ini pada dasarnya merupakan pengulangan dari dakwaan serupa yang pernah dilayangkan pada 2020 saat masa jabatan pertama Presiden Donald Trump. Namun, dakwaan terbaru yang diajukan secara rahasia di Distrik Selatan New York menjelang Natal 2025 memperluas lingkup perkara dengan mencantumkan nama Cilia Flores sebagai salah satu terdakwa.
Sampai saat ini, belum ada kepastian mengenai jadwal sidang perdana bagi Maduro dan istrinya. Rekaman video yang diunggah akun Gedung Putih pada Sabtu malam menunjukkan Maduro dengan ekspresi tersenyum saat digiring dua agen federal di kantor Badan Penegakan Narkoba Amerika Serikat di New York. Ia diperkirakan akan ditahan di lembaga pemasyarakatan federal Brooklyn sambil menunggu proses persidangan.
Dalam dokumen dakwaan, Amerika Serikat menuding Maduro menjalin kerja sama dengan sejumlah bandar narkoba dan kelompok teror narkotika paling brutal dan berpengaruh di dunia guna melancarkan pengiriman kokain ke wilayah AS.
Kartel Sinaloa serta kelompok Tren de Aragua disebut beroperasi dengan dukungan langsung aparat pemerintah Venezuela, dengan aliran keuntungan yang kemudian diberikan kepada pejabat tinggi sebagai imbalan atas perlindungan.
Maduro juga dituduh membiarkan praktik korupsi berbasis perdagangan kokain tumbuh subur demi kepentingan pribadinya, kelompok rezim yang berkuasa, serta anggota keluarganya.
Selain itu, AS mengeklaim terdapat perintah penculikan, penganiayaan, hingga pembunuhan terhadap pihak-pihak yang dinilai menghambat bisnis narkoba, termasuk dugaan pembunuhan seorang gembong narkotika lokal di Caracas.
Menerima suap ratusan ribu dolar
Cilia Flores juga dituduh menerima suap bernilai ratusan ribu dolar untuk memfasilitasi pertemuan antara bandar narkoba besar dan pejabat antinarkoba Venezuela. Dalam pengaturan itu, para pengedar narkoba disebut menyepakati pembayaran suap rutin bulanan serta sekitar 100.000 dolar AS untuk setiap penerbangan kokain demi menjamin kelancaran dan keamanan operasional.
Sementara itu, dua keponakan Flores terekam menyetujui rencana pengiriman kokain dalam jumlah besar melalui hanggar kepresidenan di salah satu bandara Venezuela. Keduanya bahkan mengaku tengah “berperang” melawan Amerika Serikat. Mereka divonis 18 tahun penjara pada 2017, sebelum akhirnya dibebaskan pada 2022 melalui skema pertukaran tahanan.
Dalam konferensi pers, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut Maduro sebagai “buronan keadilan Amerika dengan hadiah US$ 50 juta” di kepalanya, dan menegaskan operasi penangkapan tersebut dilakukan atas permintaan Departemen Kehakiman. (P-Zamir)