Amerika Serikat kirim 2.200 marinir sebagai persiapan serangan darat ke Iran

Jeffry Wuisan
Sabtu, 14 Maret 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 14/3/26 (Washington): Amerika Serikat (AS) mengerahkan 2.200 Marinir ke Timur Tengah sebagai persiapan serangan darat ke Iran.

Laporan yang dikutip Beritaprioritas.com hari Sabtu (14/3/26) menyebutkan, ribuan Marinir  itu berasal dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 di Jepang.

Korps Marinir AS tersebut diangkut tiga kapal amfibi Angkatan Laut AS dan telah diperintahkan untuk bergerak menuju Timur Tengah.

Unit yang dikerahkan tersebut bermarkas tetap di Jepang dan biasanya beroperasi di wilayah Komando Indo-Pasifik.

ABC melaporkan pengerahan tersebut tidak serta merta berarti unit Marinir akan digunakan sebagai pasukan darat di dalam Iran.

Namun, hal itu akan memberi komandan militer aset darat, amfibi, dan udara tambahan,  yang dapat digunakan jika diperlukan.

Unit Marinir khusus yang menuju Timur Tengah juga mencakup satu skuadron jet tempur F-35 dan satu skuadron pesawat tiltrotor MV-22 Osprey.

Laporan tentang pengerahan besar-besaran Marinir AS ini,  muncul ketika dunia menunggu untuk melihat bagaimana Presiden AS Donald Trump akan mengatasi dua masalah,  yang mungkin memerlukan penggunaan kekuatan tambahan secara dramatis.

Yang pertama adalah ancaman yang semakin besar terhadap kapal-kapal tanker minyak di Selat Hormuz, jalur maritim tersibuk di dunia untuk perdagangan minyak.

Iran telah mulai menyerang kapal kargo di sana dan telah memperingatkan mereka akan membakar kapal apa pun yang melewati daerah tersebut.

 

Uranium Iran

Presiden AS, Donald Trump,  mengatakan beberapa kali minggu ini, Amerika Serikat dapat menyediakan pengawal militer untuk melindungi kapal-kapal di Selat Hormuz dari serangan rudal dan drone Iran.

Namun, Menteri Keuangan AS dan pejabat lain di Washington mengakui pengawalan tersebut dapat memakan waktu berhari-hari untuk diorganisir,  karena sebagian besar sumber daya militer AS di wilayah tersebut saat ini dialokasikan untuk operasi ofensif di Iran.

Masalah kedua adalah persediaan uranium Iran yang diperkaya hingga 60 persen, diperkirakan sekitar 440 kilogram.

Memperkayanya hingga 90 persen, tingkat yang dibutuhkan untuk senjata nuklir, dapat dilakukan dalam waktu yang relatif singkat.

Sejauh yang diketahui, sebagian besar persediaan tersebut terkubur di bawah reruntuhan fasilitas nuklir yang dibom Amerika Serikat dan Israel di Isfahan pada bulan Juni. Sebagian lainnya diyakini disimpan di tempat lain.

Kekhawatirannya adalah jika perang berakhir tanpa persediaan tersebut dikeluarkan dari Iran, Teheran kemudian dapat bergerak cepat menuju pengembangan bom nuklir.

Dalam beberapa hari terakhir, Trump berulang kali mengisyaratkan ia tidak mengesampingkan kemungkinan mengirim pasukan darat untuk mengambil persediaan uranium, lapor Ynet Global.

Laporan menyebutkan bahwa Amerika Serikat juga telah membahas kemungkinan tersebut dengan Israel. Namun, operasi semacam itu akan sangat kompleks dan melibatkan risiko yang signifikan.(P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025