
Komando Pusat AS, merilis foto jet tempur F/A-18E Super Hornet diluncurkan dari kapal Induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab sebagai persiapan serangan ke Iran.(centcom)PRIORITAS, 30/1/26 (Washington): Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sudah memiliki serangkaian opsi militer yang lebih luas dan agresif terhadap Iran.

Trump tampaknya lebih memilih serangan besar yang bertujuan untuk lebih merusak program nuklir dan rudal Iran serta menjatuhkan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
“Kami sekarang mengirimkan sebenarnya jumlah kapal yang lebih besar ke Iran. Mudah-mudahan kami akan membuat kesepakatan. Jika kami membuat kesepakatan, itu bagus. Jika kami tidak membuat kesepakatan, kita akan lihat apa yang terjadi”, kata Donald Trump kepada pers, seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Jumat (30/1/2026).
“Opsi-opsi ini melampaui yang dipertimbangkan dua minggu lalu dan bahkan termasuk kemungkinan serangan komando AS di dalam Iran. Meski Tidak ada keputusan yang dibuat dan Trump belum mengotorisasi aksi militer”, ungkap sumber pejabat militer AS.

Media New York Times menyebut, Presiden Trump tetap terbuka untuk diplomasi.
Para pejabat mengatakan ancaman publik sebagian dimaksudkan untuk menekan Iran agar melakukan negosiasi.
Strategi ini mencerminkan kampanye tekanan Trump sebelumnya terhadap Venezuela, meskipun pejabat AS mengakui Iran akan menimbulkan tantangan dan risiko militer yang jauh lebih besar, lapor The Independent.
Salahsatu opsi penting yang juga dibahas adalah berkisar operasi rahasia terhadap situs nuklir Iran, hingga serangan terhadap target kepemimpinan yang dapat mengacaukan republik.
Desakan Israel
Laporan terbaru lain menyebutkan, Israel mendesak AS untuk bergabung dalam menyerang kembali program peluru kendali balistik Iran, karena sebagian besar telah dibangun kembali sejak perang 12 hari.
Sumber AS mengatakan para pembantu Trump juga mempertimbangkan serangan yang jauh lebih besar, dengan tujuan untuk memiliki efek jangka panjang.
Hal itu termasuk menargetkan rudal balistik yang mampu mencapai sekutu AS di Asia Barat atau program pengayaan nuklir Iran.
Penilaian intelijen AS menunjukkan Iran telah membuat kemajuan dalam membangun kembali program nuklirnya sejak perang Juni 2025 lalu.
Laporan juga mengungkap bahan nuklir, Uranium, yang diperkaya di Isfahan dan Fordow di Iran, tetap terkubur dan tidak tersentuh.
Tetapi Iran sedang menggali fasilitas yang lebih dalam di luar jangkauan senjata konvensional.
Tensi panas di Timur Tengah semakin meninggi setelah pasukan AS dengan armada tempur sudah siaga di dekat Iran.
Selain kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln dan tiga kapal peluncur rudal jarak jauh, kini Kapal perusak AS USS Delbert Black (DDG-119) juga telah berlabuh di pelabuhan Eilat Israel.
Militer Israel hanya mengatakan kedatangan kapal perang AS itu untuk latihan bersama.
Militer Israel mengatakan kunjungan kapal tersebut telah direncanakan sebelumnya dan merupakan bagian dari koordinasi yang sedang berlangsung antara IDF dan militer AS.

Kapal perusak dengan peluru kendali AS, USS Delbert D. Black telah berlabuh di Eilat, Israel.(defenceindex)
Iran minta bantuan
Menanggapi ancaman AS, pemerintah Iran menyatakan tidak takut dan akan membalas jika diserang militer AS.
Meski begitu, Iran kini sibuk melobi sejumlah negara di Timur Tengah untuk membantu agar tidak diserang AS.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melakukan pembicaraan dengan pejabat Turki untuk menengahi ketegangan yang meningkat antara Teheran dan Washington.
Araghchi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan dan Presiden Recep Tayyip Erdogan.
Presiden Turki Erdogan berbicara melalui telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian hari ini, mengatakan Turki siap untuk bertindak sebagai mediator antara Iran dan Amerika Serikat, untuk membantu mengurangi ketegangan.
Sebelumnya Iran sudah melobi, Rusia, Arab Saudi, termasuk Qatar, setelah adanya ancaman dari Presiden AS untuk melakukan tindakan militer ke Iran.(P-Jeffry W)

