Sebanyak tujuh personel militer elite AS terluka saat misi penangkapan Maduro

Zamir Ambia
Rabu, 7 Januari 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 7/1/26 (Jakarta): Operasi militer Amerika Serikat untuk membekuk Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1/26) dilaporkan menyebabkan sejumlah korban luka. Tujuh anggota militer AS mengalami cedera saat menjalankan misi berisiko tinggi di wilayah Caracas.


Berdasarkan laporan Fox News, Rabu (7/1/26), seorang pejabat senior AS mengungkapkan lima personel telah kembali menjalankan tugas. Adapun dua lainnya masih menjalani perawatan medis secara intensif. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memastikan seluruh warga AS yang terluka berada dalam kondisi stabil.

“Semua warga Amerika yang terluka selama operasi di Venezuela dalam kondisi baik,” imbuh Trump tanpa memerinci jumlah resmi korban maupun tingkat keparahan cedera mereka.

Di sisi lain, kronologi penangkapan Maduro mulai terungkap ke publik. NBC melaporkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, mengalami sejumlah memar. Luka tersebut diduga terjadi akibat benturan dengan dinding atau pintu ketika pasukan keamanan mengevakuasi keduanya dari kediaman presiden.


Benturan itu disebut terjadi sesaat sebelum Maduro dan Flores diserahkan kepada Pasukan Khusus Delta Amerika Serikat. Sumber internal menyebutkan tim medis segera melakukan pemeriksaan kondisi kesehatan keduanya di dalam pesawat militer selama perjalanan menuju Amerika Serikat.

Tuduhan “narko-terorisme”

Penangkapan tersebut menjadi puncak operasi besar Amerika Serikat di Venezuela pada awal Januari. Saat ini, Maduro dan Flores telah berada di New York untuk menjalani proses hukum terkait tuduhan “narko-terorisme” berdasarkan peraturan hukum Amerika Serikat.

Pascapenangkapan tersebut, dinamika politik di Karakas berubah cepat. Mahkamah Agung Venezuela secara resmi mengalihkan jabatan presiden kepada Wakil Presiden Delcy Rodriguez pada Senin (5/1/26). Rodriguez telah dilantik di hadapan Majelis Nasional untuk memimpin pemerintahan transisi di tengah krisis kedaulatan yang sedang melanda negara tersebut. (P-Zamir)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan