Mangrove Pandang Tak Jemu: Kisah Kampung Tua Bakau Serip, mengubah sampah jadi harapan

Johanes Christiaan
Selasa, 6 Januari 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 6/1/2026 (Batam): Tak banyak yang menyangka, kawasan mangrove di Kampung Tua Bakau Serip, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, yang dulu dikenal sebagai lokasi pembuangan sampah liar, kini menjelma menjadi destinasi ekowisata yang memikat. Hutan Mangrove Pandang Tak Jemu hari ini bukan hanya indah dipandang, tetapi juga berperan sebagai paru-paru kota dan ruang belajar hidup tentang pelestarian alam.

Perubahan itu menarik perhatian Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Puspa, yang mengunjungi kawasan tersebut pada Sabtu (3/1/2026). Dalam kunjungannya, Wamenpar ikut menanam mangrove sebagai simbol dukungan terhadap pengembangan pariwisata berkelanjutan di Batam.

“Saya sangat senang melihat konsep regenerative tourism di sini. Wisatawan tidak hanya menikmati alam, tetapi juga ikut menjaga dan memberi kembali kepada alam,” ujar Ni Luh Puspa di sela kunjungan.

Mangrove Pandang Tak Jemu mulai dibenahi sejak 2018 melalui inisiatif warga setempat yang dipelopori Gari Dafit Semet. Bersama masyarakat Kampung Tua Bakau Serip, ia mengajak warga bergotong royong membersihkan sampah, menanam mangrove, dan merawat kawasan secara mandiri.

Kini, kawasan mangrove seluas sekitar 7 hektare itu dikelilingi hutan lindung kurang lebih 100 hektare. Selain menjadi penyerap karbon alami, kawasan ini berkembang sebagai wisata edukasi lingkungan yang terbuka bagi pelajar, wisatawan domestik, hingga mancanegara.

Upaya warga tersebut berbuah prestasi. Mangrove Pandang Tak Jemu masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022, serta meraih Juara III kategori Suvenir.

Wisata yang menyembuhkan

Tak sekadar menawarkan panorama hijau, Mangrove Pandang Tak Jemu menghadirkan pengalaman wisata yang reflektif dan menyentuh sisi batin. Salah satunya melalui program hipnoterapi alam.

“Pengunjung kami ajak membersihkan sampah plastik, menanam mangrove, lalu relaksasi di alam. Ada terapi memeluk pohon, berdoa, bahkan mencurahkan isi hati,” tutur Gari.

Program unik ini diminati wisatawan, terutama dari Singapura. Banyak yang mengaku merasa lebih rileks dan bahagia setelah mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.

Dalam sehari, jumlah pengunjung bisa mencapai hingga 500 orang. Sepanjang 2025, angka kunjungan meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain pariwisata, kawasan ini juga menjadi motor pemberdayaan ekonomi warga. Masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan kawasan, Pokdarwis, hingga pengembangan ekonomi kreatif. Bahkan, terdapat program beasiswa dan bantuan seragam sekolah bagi 15 anak tidak mampu di sekitar kawasan.

Konsep regenerative tourism yang diusung Mangrove Pandang Tak Jemu mengintegrasikan wisata alam, edukasi lingkungan, aksi bersih sampah, penanaman mangrove, kuliner, hingga terapi alam sebagai satu pengalaman utuh. “Wisata ini bukan sekadar datang dan foto-foto, tapi meninggalkan jejak kebaikan untuk alam,” kata Gari.

Ke depan, Kementerian Pariwisata berencana mendukung penambahan jembatan tracking mangrove sepanjang 100 meter pada 2026, yang memungkinkan pengunjung menikmati panorama Batam hingga Singapura dari tengah hutan mangrove.

Dari bekas tempat sampah, Mangrove Pandang Tak Jemu kini tumbuh menjadi simbol harapan—bahwa alam bisa pulih, jika manusia mau merawatnya bersama-sama. (P-Jeff K)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025