Serangan AS ke Venezuela tidak hanya basmi narkoba, tetapi juga incar minyak bumi

Jeffry Wuisan
Senin, 5 Januari 2026
4 menit membaca

PRIORITAS, 5/1/26 (Washington): Serangan militer Amerika Serikat dan penculikan terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro beserta istrinya, ternyata tidak hanya untuk membasmi peredaran narkoba ke AS, tetapi juga untuk merebut minyak bumi negara tersebut.


“Kami akan mengambil kembali minyak itu, yang sejujurnya seharusnya sudah kami ambil sejak lama,” kata Presiden Donald Trump, beberapa jam setelah operasi milter AS di Venezuela.

Trump menegaskan rencana tersebut tidak akan membebani anggaran negara AS. “Ini tidak akan menghabiskan satu sen pun karena semuanya akan diganti dari uang yang keluar dari dalam tanah,” ujar Trump.

Ia juga menambahkan perusahaan-perusahaan minyak besar asal AS,  siap mengucurkan investasi bernilai miliaran dolar AS untuk memperbaiki infrastruktur minyak Venezuela.


Seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Senin (5/1/2026), terdapat alasan ekonomi dan teknis,  mengapa minyak Venezuela dinilai jauh lebih menguntungkan dibandingkan minyak AS sendiri.

Amerika Serikat memang tercatat sebagai produsen minyak terbesar di dunia. Namun, sebagian besar produksi tersebut berupa light crude atau minyak mentah ringan. Persoalannya, jenis minyak ini tidak sepenuhnya cocok dengan desain kilang minyak di AS.

Sebagian besar kilang minyak AS, khususnya yang berada di Texas dan Louisiana, dirancang untuk mengolah heavy oil atau minyak berat yang lebih kental.

Bergantung pada impor

Menurut editor Sky News, Ed Conway, keterbatasan teknologi kilang membuat AS tetap bergantung pada impor minyak berat.

“Kilang-kilang minyak di Texas dan Louisiana membutuhkan minyak berat yang kental agar dapat beroperasi secara optimal,” jelas Conway

Pada sisi lain, mengubah kilang minyak di AS agar dapat sepenuhnya mengolah minyak ringan,  membutuhkan biaya yang sangat besar. Kondisi ini membuat perombakan kilang dinilai tidak menarik secara ekonomi bagi industri energi.

Sebagian besar minyak mentah produksi AS justru diekspor ke luar negeri. Sebaliknya, untuk menjaga operasional kilang domestik, AS mengimpor lebih dari 6.000 barel minyak per hari.

Situasi inilah yang menjadikan minyak Venezuela sangat strategis bagi kebutuhan energi AS.

Venezuela dikenal sebagai negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia. Bersama Kanada dan Rusia, negara ini masuk dalam kelompok pemilik cadangan minyak berat terbesar secara global.

Kilang minyak Paraguana di Venezuela berkapasitas 850 ribu barel perhari yang kabarnya dikelola Iran.(@sprinterpress)

Data Energy Institute menunjukkan Venezuela menyimpan cadangan minyak setara 303 miliar barel atau sekitar 17% dari total cadangan minyak dunia.

Tetapi meski memiliki cadangan luar biasa besar, produksi minyak Venezuela justru mengalami penurunan signifikan. Pada dekade 1970-an, produksi minyak negara ini pernah mencapai sekitar 3,5 juta barel per hari. Namun, angka tersebut anjlok menjadi hanya 1 juta barel per hari.

Jumlah tersebut hanya setara dengan sekitar 1% dari total produksi minyak dunia, mencerminkan besarnya kesenjangan antara potensi cadangan dan realisasi produksi.

Butuh biaya besar

Sebelum sanksi internasional diberlakukan, AS merupakan salah satu pembeli utama minyak Venezuela. Setelah embargo diterapkan, China kemudian menjadi tujuan utama ekspor minyak Venezuela.

Di dalam negeri, industri minyak Venezuela dibebani berbagai persoalan, mulai dari korupsi, kurangnya pendanaan, hingga kerusakan infrastruktur.

Sanksi internasional juga membatasi kemampuan negara tersebut untuk menarik investasi asing serta memperoleh peralatan dan teknologi yang dibutuhkan.

Sebagian besar cadangan minyak Venezuela berada di wilayah Orinoco dan berbentuk minyak berat.

Kementerian Energi AS menilai minyak Orinoco relatif sederhana secara teknis, tetapi membutuhkan biaya produksi yang mahal.

Kondisi ini membuat pemulihan industri minyak Venezuela tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Dibutuhkan investasi puluhan miliar dollar untuk memulihkannya.

Hingga kini hanya satu perusahaan energi AS, Chevron, yang tetap beroperasi di Venezuela. Chevron menegaskan tetap mematuhi seluruh hukum dan regulasi yang berlaku.

“Chevron tetap berfokus pada keselamatan dan kesejahteraan karyawan kami, serta integritas aset kami, dan kami terus beroperasi sesuai dengan seluruh hukum dan regulasi yang relevan,” kata juru bicara perusahaan tersebut.

Sementara itu, perusahaan minyak besar lainnya seperti ConocoPhillips masih mencermati situasi.  Sejumlah raksasa energi global lainnya juga belum menyampaikan sikap resmi mereka.(P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan