Ketua Umum Laskar Panglima Nanggroe, Sulaiman Manaf alias Bos Manyak. (dok. pribad)PRIORITAS, 4/1/2026 (Banda Aceh): Ketua Umum Laskar Panglima Nanggroe, Sulaiman Manaf alias Bos Manyak, mengecam keras dugaan praktik pejabat dan aparat yang menjadikan bencana alam di Aceh sebagai ajang perebutan anggaran.
Menurutnya, tragedi kemanusiaan telah berubah menjadi ladang perjalanan dinas dan uang lelah birokrasi. “Ini biadab. Saat rakyat kehilangan rumah dan keluarga, ada pejabat sibuk menghitung SPPD. Bencana dijual, penderitaan diperas,” tegas Bos Manyak, Jumat (2/1/2026).
Ia menyoroti ketimpangan perlakuan terhadap korban bencana yang hanya dijanjikan bantuan hidup Rp10 ribu per hari, sementara pejabat dan aparat yang datang ke lokasi menikmati uang harian ratusan ribu hingga SPPD bernilai jutaan rupiah.
“Korban tidur di tenda bocor, pejabat tidur di hotel. Rakyat antre bantuan, pejabat antre tanda tangan perjalanan dinas,” ujarnya.
Bos Manyak juga menilai maraknya tudingan terhadap rakyat dan relawan—seperti isu bantuan dirampok atau sabotase—sebagai upaya penggiringan opini agar pengelolaan anggaran bencana dikuasai elite birokrasi. Padahal, kata dia, relawan bekerja tanpa gaji dan fasilitas.
Menurutnya, kunjungan pejabat ke lokasi bencana sering kali hanya ritual administratif: datang berombongan, foto, lalu pulang membawa laporan dan kuitansi, tanpa solusi nyata bagi korban.
Ia mendesak pengawasan ketat terhadap pengelolaan anggaran bencana dan menghentikan kriminalisasi terhadap rakyat serta relawan. “Bencana adalah luka rakyat Aceh. Siapa pun yang menjadikannya ajang cari makan, akan dicatat buruk oleh sejarah,” pungkasnya. (P-mu/bwl)