Paus Leo XIV (merah putih) bersama para pemimpin umat Kristen lain mengikuti prosesi doa di Nicaea (sekarang Iznik) di Turki.(vaticannews)PRIORITAS, 29/11/25 (Nicaea): Pemimpin umat Katolik se-dunia, Paus Leo XIV mengajak umat Kristiani untuk bersatu dalam menghadapi kekerasan dan konflik di dunia saat ini.
“Kita harus dengan tegas menolak penggunaan agama untuk membenarkan perang, kekerasan, atau segala bentuk fundamentalisme atau fanatisme,” tegas Paus Leo, seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Sabtu (29/11/2025).
Paus Leo menyatakan hal itu di Nicaea (Nicea) yang sekarang bernama Iznik, Turki (Turkiye).
Di lokasi Nicaea kuno itu, Paus Leo bergabung dengan sekitar 27 pemimpin Gereja Kristen lainnya untuk memperingati 1.700 tahun Konsili Ekumenis Pertama dalam sejarah Gereja.
Ibadah doa ekumenis tersebut berlangsung pada hari kedua Perjalanan Apostolik Paus Leo ke Türkiye.
Paus Leo XIV melanjutkan dengan mengatakan persatuan Kristen sangat dibutuhkan di dunia kita yang penuh dengan kekerasan dan konflik.
“Kerinduan akan persekutuan penuh di antara semua orang yang beriman kepada Yesus Kristus selalu disertai dengan pencarian persaudaraan di antara semua manusia,” ujarnya.
Ia menyerukan pengakuan hak dan martabat semua orang, tanpa memandang suku, kebangsaan, agama, atau pandangan pribadi mereka.
Peringatan penting
Dalam sambutannya, Paus berterima kasih kepada Patriark Bartholomew I, Patriark Ekumenis Konstantinopel, atas kebijaksanaan dan visi jauh ke depannya dalam menyerukan para pemimpin Gereja, untuk merayakan peringatan penting ini bersama-sama.
Ia juga menyampaikan apresiasinya kepada para Pimpinan Gereja dan Perwakilan Komuni Kristen Sedunia atas kehadirannya pada acara tersebut.
Paus Leo mengenang Konsili Nicaea yang diadakan pada tahun 325, dan mengatakan konsili tersebut mengundang semua umat Kristiani, bahkan hingga saat ini, untuk bertanya kepada diri sendiri siapakah Yesus Kristus bagi kita secara pribadi.
“Pertanyaan ini sangat penting bagi umat Kristiani, yang berisiko mereduksi Yesus Kristus menjadi semacam pemimpin karismatik atau manusia super, sebuah representasi keliru yang pada akhirnya berujung pada kesedihan dan kebingungan”, kata Paus Leo, seperti dirilis Vatican News.
Konsili ini diadakan untuk menanggapi pernyataan pendeta Arius dari Aleksandria, yang menyatakan Yesus hanyalah perantara antara Tuhan dan manusia. Ini juga menyatakan Ia tidak sepenuhnya ilahi dan mengabaikan realitas Inkarnasi.
“Tetapi jika Tuhan tidak menjadi manusia, bagaimana makhluk fana dapat berpartisipasi dalam kehidupan-Nya yang kekal?” tanya Paus Leo.
“Yang dipertaruhkan di Nicaea, dan yang dipertaruhkan saat ini, adalah iman kita kepada Tuhan yang, dalam Yesus Kristus, menjadi seperti kita untuk menjadikan kita ‘pengambil bagian dalam kodrat ilahi’”, jelasnya.
Kredo Nicaea
Konsili Nicaea, katanya, menyetujui pengakuan Kristologis yang sekarang kita sebut Kredo Nicaea, yang dianut semua Gereja dan Komunitas Kristen.
Simbol Iman, katanya, sebagaimana diketahui memiliki kepentingan mendasar dalam perjalanan yang dilakukan umat Kristiani menuju persekutuan penuh.
“Iman kepada satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Tunggal Allah, lahir dari Bapa sebelum segala zaman… sehakikat dengan Bapa” (Kredo Nicea),” katanya, “adalah ikatan mendalam yang sudah mempersatukan semua orang Kristen”, papar Paus Leo.
Paus mengajak umat Kristiani untuk merangkul ikatan persatuan yang telah ada dan semakin mendalami perjalanan mereka dalam kepatuhan terhadap Sabda Allah. “Yang diwahyukan dalam Yesus Kristus, di bawah bimbingan Roh Kudus, dalam kasih dan dialog bersama”, ujarnya.
Dengan mengatasi perpecahan dan berdamai satu sama lain, umat Kristen dapat memberikan kesaksian yang lebih kredibel tentang Yesus Kristus dan pewartaan-Nya tentang harapan bagi semua orang, katanya.
Ia menjunjung tinggi peran agama dalam menyajikan kebenaran dan mendorong individu untuk mencari dialog dan rasa hormat.(P-Jeffry W)
No Comments